NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  Haniha Ira, Hadia Niwa'öra?
 

Wed, 23 December 2009 08:59:55
Suster Klara dan Rumah Inap Kasihnya
Noverlina bernyanyi dengan nada suara naik turun sesukanya dan lafalnya tak jelas. Selesai bernyanyi, ia memeluk ”ibunya”. Meski berusia tiga tahun, ia belum bi ...

Ref: Nugroho F Yudho (Kompas, 22 Desember 2009)

  • 

Ama Rita Zamasi Tetap Mencintai NIAS

  • 

Ir. Boy Olifu Gea di Kebun Tanaman Hiasnya => Click to enlarge!Ir. Boy Olifu Gea Pengusaha Tanaman Hias

  • 

Binahati Baeha, SH dengan Istri, Lenny Trisnadi. => Click to enlarge!Tuhanlah yang Telah Menggariskan Jalan Hidupku

  • 

Riahardy Mendröfa => Click to enlarge!Antara Kampung Halaman, Foto, dan Instalasi

  • 

Kanserina Esthera Dachi => Click to enlarge!Keteguhan Hati Dokter Kanserina Esthera Dachi

  • 

Susanto dan Istri, Hartati Zebua. => Click to enlarge!Susanto, Pelopor Bisnis Restoran Pinggir Pantai di Pulau Nias

  • 

Yacintha Gulö => Click to enlarge!Yacintha Gulö, Putri Mandrehe yang "Merawat Amerika"

  • 

Agus Hardian Mendröfa di salah satu Pojok Miga Beach Hotel => Click to enlarge!Talifusöda Agus Hardian Mendröfa, Mantan Wakil Bupati Nias

  • 

Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA => Click to enlarge!Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA, Wakil Bupati Kotabaru

  • 

Dubes RI Piter Taruyu Vau dan Ibu => Click to enlarge!Dari Nias ke Brasil sebagai DUTA BESAR INDONESIA UNTUK BRASIL

  • 

Magdalena Sanora Warnihati Fau => Click to enlarge!Onie Fau dan Kecerdasan Wanita Nias

  Index  

  Last Commented
 
 

Mon, 26 June 2017 13:21:49 | marselina wau | saonigeho km.1 Teluk dalam | 114.125.17.26
PABRIK PENGOLAHAN SAMPAH DI PULAU NIAS2 Responses

 

Tue, 20 June 2017 12:37:35 | wenieli daeli | saat ini di tinggal di batam. | 36.77.184.239
LEBIH JAUH DENGAN FIRMAN JAYA DAELI, SH (5):Kami Sadar Betul Masih Ada Kekurangan PDIP3 Responses

 

Fri, 16 June 2017 09:21:30 | warisman zega | Kampung Seraya No. 09 Rt 04/rw 02 Batam | 114.125.28.99
TERSEDIA BUKU "AMAEDOLA, HOHO, MANO-MANO DAN OLOLA MBAWI"6 Responses

 

Mon, 12 June 2017 16:09:07 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.ulunoyo nias selatan | 114.124.170.89
Presiden Jokowi Minta Perikanan dan Pariwisata di Nias Dikembangkan3 Responses

 

Sat, 27 May 2017 22:01:03 | hetiaro buulolo | desa amorosa kec.ulunoyo nias selatan | 114.124.241.28
Proyek Pembangunan Tower Listrik di Nias Sengaja Dihentikan8 Responses

 

Fri, 19 May 2017 14:09:08 | Alwin Lase | Hiligodu Ombolata, Nias Tengah Street | 114.125.9.138
Suster Klara dan Rumah Inap Kasihnya30 Responses

 

Fri, 12 May 2017 16:08:08 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan. | 114.124.181.119
IKATAN KELUARGA NIAS di BALI (IKNB)11 Responses

 

2004-11-23 14:56:48
Yasonna H. Laoly, Ph.D.: Politik Tanpa Hati Nurani Dan Etika Akan Menciptakan Manusia-manusia Monster Bahkan Drakula
Jakarta (NiasIsland.Com)

Yasonna H. Laoly, Ph.D. => Click to enlarge!Nama lengkapnya Yasonna Hamonangan Laoly, SH, M.Sc., Ph.D. Gelar Doktornya di bidang hukum diperolehnya dari North Carolina State University, USA, pada tahun 1994. Saat ini, ia adalah salah seorang putra Nias yang duduk di kursi DPR RI periode 2004 – 2009. Ia berlatar belakang sebagai aktifis organisasi, sebagai akademisi, intelektual dan pimpinan di perguruan tinggi, dan sekarang sebagai anggota legislatif dari PDIP di DPR RI. Makanya tak heran, masyarakat Nias berharap banyak kepadanya, untuk memainkan perannya sebagai wakil rakyat, memperjuangkan Nias menjadi lebih maju.

Pria berperawakan agak tinggi ini selalu bekerja keras dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Sebagai seorang beriman, ia percaya, kalau Tuhan telah berkehendak, tidak ada satupun tangan manusia yang mampu menghalangi. Itulah kunci kesuksesannya.

Berikut adalah wawancara NiasIsland.Com pada Rabu, 10 Nopember 2004 di kantornya, Lantai 6, Gedung Nusantara I DPR RI, Jakarta.


NIAS MENEMPATI SESUATU YANG KHUSUS DI DALAM DIRI SAYA

Bapak adalah anggota DPR RI dari Sumatera Utara (SUMUT). Mau konfirmasi, Bapak, sebenarnya tidak dipilih dari daerah Nias?

Saya dari daerah pemilihan SUMUT-1, SUMUT 1 itu terdiri atas Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai dan Kota Tebing Tinggi.

Karena Bapak tidak mewakili Nias secara langsung, apa kontribusi Bapak kepada Nias sebagai anggota DPR RI?

Tentunya saya harus berjuang untuk konstintuen saya di SUMUT 1, yang saya sebut tadi. Dan di sana juga banyak orang kita Nias lho.

Secara teoritik memang saya dari SUMUT-1, tetapi saya juga mewakili Sumatera Utara. Jadi, Sumatera Utara juga harus saya perhatikan.

Khusus sebagai putra daerah Nias, dan sebelum ini juga saya mewakili daerah Nias sebagai anggota DPRD propinsi, maka Nias menempati sesuatu yang khusus di dalam diri saya. Tentunya saya harus memberi perhatian khusus untuk itu. Itu sebabnya beberapa hari kemarin, Sabtu yang lalu (6 Nop - Red), teman-teman dari Nias merancang suatu pertemuan, antara Pemda Kabupaten Nias dan Pemda Kabupaten Nias Selatan serta tokoh-tokoh masyarakat Nias di Medan bersama anggota DPRD propinsi dan anggota DPR RI, untuk menampung masukkan dari tokoh-tokoh masyarakat dan Pemda, tentang apa yang harus kita perbuat ke depan. Saya membawa beberapa hal, misalnya khusus untuk perluasan Bandara Binaka, supaya bisa didarati oleh pesawat berbadan besar. Kemudian, salah seorang Kadis Pariwisata meminta supaya kami memperjuangkan kapal wisata untuk daerah Nias. Banyak program-program, … antara lain program-program pendidikan, program-program kesehatan dan lain-lain, yang disampaikan untuk kami serap.

Dalam jangka waktu pendek, apa target Bapak untuk Nias?

Kita lihat dulu masalah-masalah fundamental yang ada di daerah Nias. Masalah besar yang ada adalah masalah infrastruktur, misalnya jalan-jalan. Kemudian, juga masalah pendidikan.

Dari seluruh daerah yang ada di Sumatera Utara, dilihat dari berbagai indikator kesejahteraan rakyat, Nias adalah paling tertinggal. Dilihat dari segi pendidikan, dari segi kesehatan, dari segi pendapatan daerah, …. Maka ‘kita’ yang selalu menempati paling bawah. Oleh karenanya harus ada suatu terobosan yang baik. Di dalam pikiran saya, apa yang membuat ini terjadi sejak dulu, yaitu kita daerah terisolir, … maka kita harus buka itu. Belakangan kita melihat transportasi antara daerah Sumatera dengan Nias, kapal-kapal ferinya itu … kan cukup membantu sekali. Arus lalulintas barang dan jasa, misalnya durian dan hasil pertanian yang lain, bisa lebih cepat masuk ke Sumatera untuk di jual, yang sebelum ini busuk di sana. Ini yang harus ditingkatkan, hubungan antara Sibolga dan Nias. Saya melihat ferinya itu sudah sangat-sangat tidak layak.

Infrastruktur terlampau jeneral. Sebenarnya, apa yang lebih khusus yang bisa diukur?

Prasarana juga bisa kita ukur dari hasil budjet, yaitu untuk memperjuangkan anggaran. Disini (di DPR - red.) …. kan kita berjuang melalui anggaran. Kita tidak dapat melakukan itu tanpa anggaran. Itu semua, indikatornya bagaimana kita memperjuangkan anggaran ke daerah kita. Yang melakukannya nanti pada akhirnya eksekutif. Jadi misalnya, bagaimana kita meyakinkan kementerian perhubungan supaya feri antara Sumatera dan Nias, -persoalannya sekarang daya muat-, … kalau tidak ditambah …ya diganti dengan yang lebih besar. Kita harus berjuang untuk itu.

Saya sudah berbicara dengan Pak Idealisme Dakhi (anggota DPR RI – red.) dan juga bersama-sama dengan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Pak Nurdin Tampubolon, sudah janji kita minta kalau bupati datang kemari, jangan dia sendiri saja datang ke sana (ke kementerian - red). Itu kan, keroyokan bersama. Memperjuangkan itu harus membutuhkan tekanan politik dan networking dengan kawan-kawan kita di Panitia Anggaran (Panitia Anggaran DPR - Red.). Kebetulan saya tidak di Panitia Anggaran, tapi saya kan harus mampu meyakinkan kawan-kawan di Panitia Anggaran bahwa Nias itu sebagai suatu daerah termiskin di pantai barat, harus mendapat prioritas dan perhatian tersendiri.

Kalau diambil kesimpulan, masalah yang dihadapi Nias itu paling utama adalah transportasi?

Juga pendidikan. Jadi, bagaimana kita menggelar anggaran pendidikan yang bertambah untuk perbaikan sekolah-sekolah, meningkatkan kualitas sumber daya guru dan lain-lain. Itu dari anggaran pemerintah pusat.

Juga kita tentunya membantu pemerintah daerah, -kalau dari dana alokasi umum (DAU) itu tentunya sudah ada rumusnya-, dari anggaran-anggaran pemerintah pusat yang lain itu harus kita perjuangkan.

Soal pariwisata, kita juga melihat memang perlu kesiapan daerah. Sebenarnya, soal kapal pariwisata itu, terlalu tinggi sebenarnya, tetapi bagaimana kita sebenarnya mengajak Menteri Pariwisata, bersama teman-teman untuk mencoba memberikan perhatian khusus membantu event-event priwisata di sana, misalnya ada surfing internasional.

Kemudian kita juga meminta kepada pemerintah daerah untuk menyiapkan prasarana dan masyarakatnya. Persoalan kita di Nias, termasuk persoalan wisata, adalah tidak siapnya masyarakat Nias. Masyarakat itu kadang-kadang tidak kondusif untuk menerima wisatawan-wisatawan asing. Nah, tanggungjawab pemerintah daerah itu. Namun, kita harus bekerjasama dengan pemerintah daerah, memperjuangkan supaya pemerintah pusat mengagendakan atau memberikan bantuan. Karena Nias adalah salah satu obyek wisata nasional, bukan hanya Sumut, bukan hanya Bali.

Apakah DPR Pusat ini sudah punya target-target yang diperjuangkan untuk daerah Nias?

Untuk melihat itu, kita meminta dari pemerintah daerah. Itu sebabnya ada pertemuan kemarin. Pada waktu itu, bupati, -Bupati Nias dan Bupati Nias Selatan-, sudah menyerahkan ada beberapa poin. Dan nanti, waktu kunjungan kerja kita ke sana, tentunya kita akan meminta hal-hal spesifik.

Hal-hal yang perlu mendesak, ya, kita lakukan. Dan nanti, kalau sudah terlambat tahun ini, kita buat supaya planningnya juga pada tahun berikutnya, itu menjadi agenda untuk kita perjuangkan bersama. Pak Idealisme Dakhi yang dari sana, …. tapi saya sebagai orang Nias harus bersama-sama dengan dia, ikut membantu dia, untuk betul-betul mau mendorong pembangunan di daerah Nias.

Juga program pemerintah menyangkut pengentasan kemiskinan, harus betul-betul kita pikirkan secara bersama. Kebetulan ada sekarang Menteri Untuk Kawasan Tertinggal, yang sebetulnya pemikiran mereka itu ke Indonesia Timur. Kita harus juga berjuang akan menjumpainya. Saya juga bilang kepada beberapa teman, nanti saya akan bilang kepada Pak Idealisme, kita buat rencana pertemuan dengan Pak Syaifullah Yusuf, supaya Nias menjadi satu agenda kawasan tertingal yang menjadi perhatian mereka. Jangan dilihat bahwa Indonesia barat itu maju semua. Masih ada di Indonesia barat sana, kawasan tertinggal, termasuk Mentawai, termasuk Nias. Jangan juga dibandingkan dengan Makasar dan Sulawesi Utara, ….Nias itu tidak ada apa-apanya.

Sekarang, masyarakat telah memilih wakilnya secara langsung untuk duduk di DPR. Apa yang bisa dikontrol oleh masyarakat Nias dalam jangka pendek ?

Kita ‘bermain’ dari anggaran. Anggaran untuk tahun 2005 sudah mereka tetapkan, namun begitu, di dalam revisi-revisi nanti, di dalam rencana-rencana ke depannya, … itu yang saya sebutkan tadi harus diperjuangkan. Jadi, saya nanti, karena kami secara praktis kan baru, habis lebaran nanti saya akan mencoba mengundang teman-teman … menyusun rencana kerja untuk kepentingan itu. Kita temui menterinya langsung. Tanpa melakukan cara-cara seperti itu, nggak bisa.

Nah oke, kita sepakat, kita juga berjuang di sini, di lembaga ini (di DPR – red.). Namun, karena itu dalam bentuk program, tidak mungkin dari sini saja itu. Itu kan, harus masuk dari bagian proyek pemerintah, masuk di sini dan … kita munculkan. Kadang-kadang orang tidak melihat bahwa birokrasi itu sendiri merupakan persoalan, penghambat, yang dipikir orang ada kepentingan kita. Itu kan ada proses, ada tahapannya. Dan ….kita mau, saya mau, baik itu nanti Bupati Nias Selatan, baik itu Bupati Nias, supaya sama-sama ( berjuang - Red.).

Soal pemekaran daerah (pembentukan Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat - Red.). Dari DPR sudah keluar dan sekarang berada pada posisi pemerintah. Persoalannya sekarang adalah, harus menjadi ada dukungan dari DPD. Saya sudah bilang kepada kawan-kawan yang mendukung pemekaran ini, supaya melobi juga DPD, khususnya orang-orang DPD di sana.

Kebetulan ada sekarang surat dari menteri untuk menunda pembahasan seluruh pemekaran daerah, pada waktu yang lalu. Bagaimana itu? Nanti dalam rapat kerja kami, saya kebetulan di Komisi II, saya mempertanyakan itu. Menjadi juga persoalan terakhir, ….soal Mamasa, membuat sentimen pemekaran daerah menjadi persoalan, dan kita dalam beberapa rapat komisi kemarin, di Komisi II, berpikir, kita pelajari dulu seluruh pemekaran daerah. Beberapa teman berpikir demikian. Ini kan menimbulkan persoalan-persoalan baru yg dihadapi pemerintah setelah ada pemekaran Kabupaten Mamasa.

Kalau saya, setuju pemekaran! Karena telah terbukti, dengan pemekaran, walaupun sebetulnya ujung-ujungnya hanya merebut dana DAU, tidak bersumber pada potensi daerah, …. tapi, dengan pertambahan DAU, sentral pemerintahan baru ini akan mendorong percepatan pembangunan di daerah tersebut.

Mengenai kapal wisata, padahal wisatawan yang ke Nias itu sebenarnya petualang. Pertanyaannya, apakah itu yg dibutuhkan sekarang? Mestinya, lebih baik program yang tepat dan terfokus.

Ini kan datang dari pemerinta daerah. Saya konsepnya nggak begitu. Saya melihat begini, konsep kapal wisata adalah satu paket wisata dari tourism. Dulu, kita mengingat pernah ada kapal Prinsendam, menteri ‘ini’ harus didorong untuk melakukan itu. Membuat satu proyek pemerintah untuk memajukan pariwisata Indonesia dengan kerjasama, tentunya dengan luar negeri. Itu dalam pikiran saya. Saya belum melihat apakah kapal wisata kita beli, itu nggak ada gunanya, karena infrastruktur kita belum siap. Tapi bagaimana orang hadir di sana sebagai tujuan wisata, sehingga di situ ada devisa turun. Kita juga harus siapkan masyarakat kita di sana. Dulu orang singgah, bahkan Adam Malik pernah singgah dengan kapal Prinsendam. Waktu itu, di sana lebih parah lagi kondisinya. Mengapa hal-hal seperti itu tidak muncul lagi.

Benar bahwa kita harus fokus, tetapi saya melihat perjuangan kepentingan daerah ini dengan seluruh daerah-daerah yang ada di dalamnya, harus bermain secara simultan. Ada beberapa poin yang kita beri tekanan berat, yaitu soal infrastruktur, pendidikan dan kesehatan, dan juga program pengentasan kemiskinan. Itu stressing berat kita. Indikatornya gampang, itu dari anggaran yang kita usahakan atau dari program yg disetujui pemerintah untuk di alokasikan ke sana.

Tapi di seberang pihak, semua orang tahu bahwa, dan banyak orang-orang mengatakan bahwa, potensi daerah Nias sebagai suatu daerah tujuan wisata cukup besar. Bagaimana kita melakukan ini ? Mungkin ini tidak segera. Sebagai daerah wisata, ada persoalan besar, yaitu kesiapan masyarakat kita menjadi daerah tujuan wisata nggak ada. Tidak semata-mata infrastrukur, tapi culture!

Pernah, Gubernur Sumut datang kepada saya, waktu ada event surfing internasional, dia bilang ‘Pak Laoly, maaf ya, saya tidak akan membawa lagi orang ke Nias.’ ‘Kenapa Pak?’ ‘Saya membawa penyanyi dari sini, dicolek, diperas sama preman-preman di sana.’ Bayangkan, itu sudah rombongan gubernur, di Nias Selatan.

Berarti, kesalahannya dimana itu ?

Di daerah!

Siapa yg lebih berperan ?

Itu, kepala daerah! Kepala daerah harus merangkul tokoh-tokoh masyarakat, mengadakan pendekatan-pendekatan kultural, dan mendidik masyarakat itu untuk reseptif terhadap pembangunan.

Mengapa Bapak tidak mengajak untuk mengatasi hal tersebut. Yang utama, disosialisasikan bahwa yg datang itu membawa ‘emas’ ?

Itu pekerjaan kepala daerah. Nggak mungkin kita yang mengerjakan itu. Pada pertemuan kemarin, kita sudah katakan itu, bupati juga menyatakan itu. Pemerintah daerah harus melakukan satu program menyadarkan masyarakat, kalau dia mau menjual wisata, karena pemerintah daerah dalam proposal yang saya baca: Telukdalam sebagai salah satu daerah tujuan wisata. Oke, anda mau buat daerah tujuan wisata, kita bantu ke sana anggarannya. … Dan siapkan masyarakat itu. Itu kerjaan kepala daerah. Sebenarnya nggak besar anggaran itu, hanya memang tidak cepat. Itu kan berproses.

Apa permasalahannya, kenapa kepala daerah tidak bisa-bisa ?

Itu culture! Saya buat contoh, Parapat. Saya sendiri di Parapat tidak akan pernah mau beli mangga lagi di sana. Terakhir ini kira-kira dua bulan yg lalu, saya pergi ke Parapat. Saya pikir sudah berobah. Istri saya beli mangga. ‘Ini bagus!’ Diambilnya satu yg bagus, ya tentu dia tau yang mana yang bagus. Sampai di Medan asamnya bukan main, 80% asam.

Sekitar dua tahun yg lalu, kalau kita mau ke Telukdalam, ada yang mewanti-wanti agar kita harus hati-hati. Ada perampok di jalan. Jadi, yang nyata, apa yg bisa dilakukan untuk mengatasi itu ?

Kalau saya tidak mungkin melakukan itu. Karena tugas saya bukan itu, tugas saya di sini. Tapi kita meminta kepada pemerintah daerah, itu sangat penting dilakukan. Tugas kepala daerah itu, sebagai eksekutif dan DPRD. Karena, itu isu daerah.

Perampok? Bukan hanya itu ! Jembatan juga ! (Dengan suara yang meninggi). Jembatan … sudah dibangun, dibuka itu jembatan, dengan harapan kalau lewat mobil, dipasang lagi kayunya, minta uang. Nah ini, tidak hanya di Nias Selatan, di arah Sirombu juga ada.

Sampai di mana kepala daerah meyakinkan kepala desa. Dia bilang kepada kepala desa ‘kalau ada masyarakatmu yang begini besok, kamu kupecat’. Dengan demikian kepala desa memanggil tokoh-tokoh masyarakat untuk itu. Bila perlu di dalam anggaran di daerah, angggaran-angaran kepala desa untuk pembinaan masyarakat ditambah.


DALAM BERPOLITIK HARUS MEMPUNYAI HATI NURANI DAN ETIKA

Laoly juga menjelaskan bahwa satu yang menjadi persoalan kita adalah kita tidak kompak. Itu penyakit yang paling parah! Ia mengatakan: “Rasa curiga kita sangat besar. Kita selalu, banyak merasa diri yang paling pintar, paling tau. Tapi kita hanya mengkritik, tidak memberi solusi. Coba, di Nias sana berkelahi terus. Sedangkan bersatu, sulit membangun, apalagi terus berkelahi …”

Ia juga menambahkan: “Bila tidak ‘mendukung’ pimpinan di daerah, maka … tapi beri dia kesempatan. Kalau kita terus ‘menghantam’ dia, kapan dia mau bekerja. Tapi koreksi dia. Kritik dia, boleh, tapi jangan jegal terus. Persoalan kita, kalau kita tidak syoor, …udah, jegal habis.”

Di bahagian akhir wawancara, Laoly menceritakan awal keterlibatannya di dunia politik. Pada waktu itu, terjadi perubahan, reformasi, dia berpikir ke depan, ini saatnya mencari terobosan baru. Pada waktu itu, ia melihat PDIP adalah harapan cemerlang. Menurutnya, dunia politik adalah antitesis dari dunia akademik. Oleh karena itu, ia menjelaskan, “Dalam berpolitik harus punya hati nurani. Karena kita bermain dengan kekuasaan, bila tidak menggunakan hati nurani maka akan ‘hancur’. Dan sebagai penutup wawancara, Laoly mengatakan prinsipnya “Politik tanpa hati nurani dan etika akan menciptakan manusia-manusia monster bahkan drakula.”

--------ooOoo--------

BIODATA

Yasonna Laoly, sejak mahasiswa aktif dalam berorganisasi. Ia pernah menjadi Ketua Umum Kesatuan Mahasiswa Nias (KMN) Medan dan Ketua GMKI di Medan. Juga pernah sebagai Bendahara KNPI di Medan dan Wakil Pemuda BNKP di PGI Wilayah Sumut. Berikut biodata singkat Laoly.

Yasonna H. Laoly, Ph.D.
Lahir di Sorkam pada tanggal 27 Mei 1953.

Ayah: F. Laoly, Ibu: R br Sihite.
Istri : Elisye Widya Ketaren
Anak: Novrida Isabella, Francisca Putri Askari (NiAS, KAro, RI = Republik Indonesia), Yamitema Tirtajaya, Jonathan Romy Laoly

Riwayat Pendidikan:
S-3 (Ph.D.), North Carolina State University, Amerika Serikat, 1994
S-2 (MSc.), Virginia Commonwealth University, Amerika Serikat, 1986
Non Degree, Internship in Higher Education Administration, Roanoke College, USA, 1983 –1984.
S-1 (Sarjana Hukum), Fakultas Hukum, USU, 1978.

Pengalaman Kerja:
Anggota DPR RI, Komisi II, 2004 – 2009.
Ketua Komisi III DPRD Propinsi Sumatera Utara, 2003 – 14 Sept 2004
Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, 2000-2005.
Kepala Badiklatda PDI Perjuangan Sumut, 2002
Dosen FH Universitas HKBP Nommensen.
Dekan Fak.Hukum Univ. HKBP Nommensen, 1998-1999.
Coordinator of International Affairs Office, Universitas HKBP Nommensen, 1998-2000
Ketua Jurusan Hukum Perdata, Universitas HKBP Nommensen, 1994-1998.
Asisten Dosen Sociology of Law, North Carolina State University, USA. 1992-1993
Asisten Riset, North Carolina State University,USA, 1989
Kordinator Penelitian Intern, Universitas HKBP Nommensen, 1989-1992.
Pembantu Dekan I, Fak. Hukum, Universitas HKBP Nommensen, 1980-1983.

Penghargaan:
1. Outstanding Graduate Student Award, diperoleh dari Virginia Commonwealth University, 1986.
2. Alpha Kappa Delta, International Sociology Honor Society, North Carolina State University, 1987.
3. Sigma Iota Rho, International Studies Honor Society, North Carolina State University, 1993.

Other Images

First|Previous    Next|Last

Pick Date
No Resp-Time Resp-by Address Email IP
1. Mon, 23 February 2009 18:53:03 bonardo marpaung padangsidimpuan b_apm@yahoo.com 116.199.205.53
salam hangat.......
Saya naposobulung gereja di Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, dan pernah menjadi mahasiswanya pak Laoly.
Mohon bantuannya untuk alamat email atau nomor yang bisa dihubungi ke kakanda Laoly
Thanks untuk kerjasamanya
2. Mon, 23 February 2009 19:51:23 Sikhõ Soyo Medan sikhosoyo@gmail.com 125.162.53.73
Ya'ahowu !!!

Kita masyarakat NIAS patut bersyukur dan bangsa punya tokoh sekaliber P'Laoli yang "Low Profile, Positif Thinking dan Berwawasan". Seandainya para elite NIAS rata-rata punya kualitas yang demikian, tidak mustahil NIAS cepat bangkit dari ketertinggalan.

Bravo NIAS !!!

First|Previous    Next|Last

Number of records = 2
Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

©2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000