NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  Haniha Ira, Hadia Niwa'öra?
 

Wed, 23 December 2009 08:59:55
Suster Klara dan Rumah Inap Kasihnya
Noverlina bernyanyi dengan nada suara naik turun sesukanya dan lafalnya tak jelas. Selesai bernyanyi, ia memeluk ”ibunya”. Meski berusia tiga tahun, ia belum bi ...

Ref: Nugroho F Yudho (Kompas, 22 Desember 2009)

  • 

Ama Rita Zamasi Tetap Mencintai NIAS

  • 

Ir. Boy Olifu Gea di Kebun Tanaman Hiasnya => Click to enlarge!Ir. Boy Olifu Gea Pengusaha Tanaman Hias

  • 

Binahati Baeha, SH dengan Istri, Lenny Trisnadi. => Click to enlarge!Tuhanlah yang Telah Menggariskan Jalan Hidupku

  • 

Riahardy Mendröfa => Click to enlarge!Antara Kampung Halaman, Foto, dan Instalasi

  • 

Kanserina Esthera Dachi => Click to enlarge!Keteguhan Hati Dokter Kanserina Esthera Dachi

  • 

Susanto dan Istri, Hartati Zebua. => Click to enlarge!Susanto, Pelopor Bisnis Restoran Pinggir Pantai di Pulau Nias

  • 

Yacintha Gulö => Click to enlarge!Yacintha Gulö, Putri Mandrehe yang "Merawat Amerika"

  • 

Agus Hardian Mendröfa di salah satu Pojok Miga Beach Hotel => Click to enlarge!Talifusöda Agus Hardian Mendröfa, Mantan Wakil Bupati Nias

  • 

Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA => Click to enlarge!Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA, Wakil Bupati Kotabaru

  • 

Dubes RI Piter Taruyu Vau dan Ibu => Click to enlarge!Dari Nias ke Brasil sebagai DUTA BESAR INDONESIA UNTUK BRASIL

  • 

Magdalena Sanora Warnihati Fau => Click to enlarge!Onie Fau dan Kecerdasan Wanita Nias

  Index  

  Last Commented
 
 

Thu, 17 August 2017 13:57:59 | hetiaro buulolo | Desa amorosa kec.ulunoyo nias selatan | 114.124.138.245
Kenapa Nias Tak Disukai Orang?3 Responses

 

Tue, 15 August 2017 18:31:03 | Widya Okta | Indonesian | 197.210.44.136
DPRD: Rencana Konversi Karet di Nias Dipertanyakan27 Responses

 

Wed, 19 July 2017 07:58:13 | james | Nairobi no 9 | 41.212.89.135
Proyek Pembangunan Tower Listrik di Nias Sengaja Dihentikan9 Responses

 

Wed, 19 July 2017 07:57:47 | james | Nairobi no 9 | 41.212.89.135
Presiden Jokowi Minta Perikanan dan Pariwisata di Nias Dikembangkan4 Responses

 

Wed, 19 July 2017 07:57:10 | james | Nairobi no 9 | 41.212.89.135
TERSEDIA BUKU "AMAEDOLA, HOHO, MANO-MANO DAN OLOLA MBAWI"7 Responses

 

Wed, 19 July 2017 07:56:18 | james | Nairobi no 9 | 41.212.89.135
LEBIH JAUH DENGAN FIRMAN JAYA DAELI, SH (5):Kami Sadar Betul Masih Ada Kekurangan PDIP4 Responses

 

Wed, 19 July 2017 07:53:56 | james | Nairobi no 9 | 41.212.89.135
PABRIK PENGOLAHAN SAMPAH DI PULAU NIAS3 Responses

 

2004-11-09 23:59:19
Nata'alui Duha, Pelestari Sejarah Masa Lalu untuk Kepentingan Masa Depan Nias
Kolorado (NiasIsland.Com)

Nata'alui Duha => Click to enlarge!Museum dapat menjadi media pembelajar untuk mengenal kembali hubungan masa lalu dengan masa sekarang dan pengaruhnya pada masa depan bagi masyarakat Nias. Itu diungkapan sendir oleh Nata'alui Duha kepada NiasIsland.Com. Putra Nias yang sedang study di Universitas Denver Kolorado ini, merupakan salah seorang "pejuang" dan "pemburu" pusaka Nias untuk dilestarikan dan didokumentasikan demi kepentingan pendidikan dan identitas suku bangsa Nias.

Untuk lebih mengenal pemuda Nias yang langka dalam menggeluti bidang yang satu ini, NiasIsland.Com mencoba menggali pemikiran-pemikirannya lewat wawancara sebagai berikut.



Sebagai salah seorang pengurus Museum Pusaka Nias, tentunya bapak dapat menjelaskan tentang visi dan misi museum tersebut?


Visi Museum Pusaka Nias adalah "Melestarikan dan mendokumentasikan budaya Nias menjadi media pendidikan masyarakat untuk mempertahankan identitas suku bangsa Nias."

Sedangkan Misi Museum Pusaka Nias Sebagai berikut:

1. Memfasilitasi masyarakat untuk mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai budaya Nias yang masih ada dan menjadikannya sebagai sumber pendidikan tentang manusia yang beradab, memiliki jati diri, dan identitas.

2. Mendokumentasikan, meneliti, menggali, memamerkan, dan mempublikasikan baik budaya material maupun budaya immaterial Nias sebagai sumber pengetahuan.

3. Menumbuhkan kesadaran dan keingin-tahuan masyarakat akan tingginya nilai yang terkandung dalam budaya material dan immaterial Nias.



Apa saja seni budaya traditional atau tradisi budaya Nias yang ada di sana?


Terus terang dan mohon maaf, saya bukanlah pakar budaya Nias. Namun, soal seni budaya, ruang lingkupnya terlalu luas. Demikian juga tradisi budaya Nias. Mungkin ada dua hal yang bisa dijelaskan pada kesempatan sini, yaitu seni dan tradisi masyarakat Nias. Itupun harus difokuskan, Nias yang mana? Kita tahu sendiri bahwa Nias memiliki beraneka ragam budaya menurut wilayah dan rumpun (öri). Ambil contoh di Nias bagian Utara "Adat Laraga" di sekitar Gunungsitoli, "adat öri Sowu" di Arah Tuhemberua, dan adat "öri Ma'u" di pedalaman Gidö-Lölöfitu Moi. Contoh kecil terlihat pada cara "Mamaolagö afo" (penyampaian sekapur sirih buat tamu dalam suatu pesta adat).

Belum lagi ke öri Lahömi Sirombu dan lebih jauh ke öri-öri yang ada di Nias Tengah dan Selatan. Saya tidak tahu kalau anda masih mengingat tradisi lisan Nias yang menggambarkan perbedaan dan keberagaman, "Bö'ö mbanua, bö'ö mböwö" atau kalau di Nias Selatan (Telukdalam) disebut "Bö'ö mbanua, bö'ö mböwö, bö'ö mbanua bö'ö vatö". Dari situ saja sudah menunjukkan perbedaan.

Namun secara umum, Nias masih memiliki berbagai macam seni, misalnya: Seni Tari (Tari Moyo, Tari Baluse, Maluaya, Fatele, Mogaele, dan lain lain), dan Seni Rupa (mengukir dan memahat ini lebih berkembang di Nias Selatan Telukdalam). Musik juga masih ada, misalnya: seni musik tradisional masih hidup walaupun sudah mulai hilang dan kurang digemari oleh generasi muda (Musik Lagia, Tutuhao, Daoli-daoli, dan lain lain). Yang tidak berkembang sama sekali di Nias adalah seni lukis.

Secara singkat mengenai tradisi, pada dasarnya masyarakat Nias masih hidup dalam lingkaran tradisi sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan hingga meninggal dunia, akan tetapi sudah dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya luar terutama agama Kristiani/Kristen. Upacara-upacara adat (pesta) selingkaran hidup, selalu ditandai dengan acara Kristen.

Tradisi "Manömba adu" secara fisik sudah tidak ditemukan lagi, tapi takut akan kutukan "Paman dan Orangtua" (Fangelifi Zibaya/Uwu dan Sadono) masih kuat dan dipraktekkan dalam berbagai cara. Ritus-ritus lain yang berhubungan dengan pertanian, berburu, dan beternak juga sudah tidak terlihat lagi.



Apa manfaat dari museum tersebut bagi masyarakat Nias?


Museum akan sangat bermanfaat jika dimanfaatkan atau mampu dimanfaatkan, akan tetapi museum tidak akan ada manfaatnya jika tidak dimanfaatkan atau tidak disadari dan ketahui manfaatnya.

Sesungguhnya melalui pameran artefak dan berbagai kegiatan museum yang terencana, sistematis, dan bersifat terbuka dapat memfasilitasi warga setempat untuk memahami kembali nilai, pengetahuan, kearifan, pesan moral, cerita, dan sejarah (ide) dibalik pembuatan suatu artefak. Dari pemahaman itu akan muncul motivasi, kreativitas, dan inspirasi yang bersifat korektif-progresif dan penghargaan terhadap peradaban manusia leluhur masyarakat Nias tempo dulu. Dengan itu, masyarakat terutama generasi muda akan berhasrat menekuni bidang ilmu arkeologi dan antropologi. Sebagai catatan, samapai sekrang belum ada orang Nias yang menjadi arkeolog dan antropolog.

Orang Nias akan bangga seolah memiliki tempat khusus di mata dunia, di tengah pembauran global, sehingga menjadi masyarakat yang mencintai dan memelihara jati dirinya. Masyarakat Nias tidak akan mau lagi menjual, merusak, dan menelantarkan benda-benda peninggalah leluhurnya. Mereka akan menganggapnya sebagai guru sekaligus harta yang harus diwariskan kepada anak cucu. Patung batu (Behu) yang ada di depan rumahnya, seolah mengingatkan dia untuk menciptakan sesuatu.

Kita dapat terbentuk dari apa yang kita lihat dan kita rasakan sebagaimana dikatakan oleh David Carr: "We are shaped by what we see and feel", sedangkan Michael Spock (Wakil Ketua Program Publik di Museum Anak-anak di Boston, tahun 1986) meminjam peribahasa China dengan mengatakan bahwa: "I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand". Bagaimana kita terbentuk dan mengingat, jika kita tak pernah melihat dan merasa?

Akan tetapi hal ini akan terjadi hanya apabila masyarakat melakukan kunjungan ke museum dan memanfaatkan museum bukan hanya tujuan rekreasi, tapi juga belajar melalui interaksi dengan artefak dan pengunjung lainnya. Ada usaha untuk belajar dan bertanya terus! Adakah usaha masyarakat dan generasi Nias untuk belajar? Jika ada, seberapa banyak?

Museum dapat menjadi media pembelajar untuk mengenal kembali hubungan masa lalu dengan masa sekarang dan pengaruhnya pada masa depan bagi masyarakat Nias.



Mengapa seni budaya Nias tersebut harus dimuseumkan, apakah karena masyarakat Nias tidak dapat merawat atau melestarikannya secara pribadi?



Pertama pertanyaaan ini sangat menantang sekaligus menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat kita tentang museum masih jauh dari yang ideal, bahkan boleh dibilang "sinis". Saya sedikit luruskan, mungkin yang dimaksud adalah budaya material (artefak/benda-benda bersejarah).

Museum Pusaka Nias tidak pernah dan tidak akan memuseumkan dalam pengertian menggudangkan seni budaya Nias. Budaya dan seni itu harus hidup dan berkembang di masyarakat dan bukan di museum. Agar budaya dan seni itu bisa hidup dan berkembang maka diperlukan media, nara sumber, data, dan informasi pendukung yang biasanya didokumentasikan oleh museum.

Mengapa harus di museum dan bukan di rumah keluarga pemiliknya? Memang bisa juga di rumah, asal keluarga pemilik memahami tanggung jawab yang hendak dilakuka dengan artefak itu. Tidak hanya meyimpannya, tapi dijadikan sebagai pusat informasi dan pengetahuan bagi masyarakat setempat dan publik yang lebih luas. Kalau dalam keluarga, sulit diharapkan terutama karena akses publik. Institusi museum memiliki sistem, kode etik, dan cara yang terstandard untuk melakukan tanggung jawab tersebut secara profesional, sehingga dapat lebih bermanfaat dalam melayani kebutuhan masyarakat yang lebih luas.

Tidak mungkin semua artefak Nias dibawa ke museum. Museum biasanya lebih memprioritaskan "real thing" (sesuatu yang asli) dan specimen yang bisa menceritakan berbagai hal tentang eksistensi dan peradaban manusia di Nias pada masa lalu. Artefak yang dikumpulkan di museum disesuaikan menurut kebutuhan masyarakat dan bukan kebutuhan museum.

Kalau ditanya apakah masyarakat Nias tidak dapat merawat atau melestarikannya secara pribadi? Pertanyaan ini saya kembalikan kepada seluruh masyarakat Nias untuk menjawab dan merenungkannya. Mampukah? Dan apa buktinya?

Sekali lagi, idealnya bukan hanya mampu merawat dan memelihara, akan tetapi menjadikannya sebagai sumber dan media pendidikan, penumbuh inspirasi dan daya cipta, media refleksi, sumber ilmu/pengetahuan bagi pemilik dan masyarakat sekitarnya, sekaligus sebagai simbol kebanggan/kehormatan bagi pemiliknya.



Lalu bagaimana dengan benda-benda sejarah yang tidak dapat di dipindahkan ke Museum Pusaka Nias, seperti yang terdapat di Kecamatan Gomo?


Oh, jangan dipindahkan. Dalam Undang-undang Cagar Budaya, jelas disebutkan bahwa barang siapa yang memindahan lokasi suatu benda cagar budaya, merupakan perbuatan yang melanggar hukum dan diancam hukuman penjara. Dalam hal ini undang-undang mengijinkan museum melakukan tindakan perlindungan dan pemeliharaan.

Yang masih ada di Gomo atau entah dimana pun biarlah berada di tempat aslinya, asal para pemilik dan penduduk setempat memahami bahwa artefak itu memiliki nilai yang tidak dapat dibeli dengan uang. Pemilik menjamin keselamatan, peduli, merawat, dan menjadikannya sebagai suatu media belajar yang dapat menumbuhkan motivasi untuk menciptakan sesuatu yang lebih bernilai dalam hidup. Artinya, para pemilik dan masyarakat luas menggali ide dan pesan moral di balik artefak tersebut. Tidak hanya menyimpannya dengan menguburkannya di dalam tanah, menjaganya apa lagi membiarkankanya busuk atau memusnahkannya atau menjualnya.

Kenyataanyanya masyarakat kita tidak memahami hal ini. Di website NiasIsland.Com ada berita tentang penjualan artefak Nias di Amerika, inilah yang terjadi terus menerus hingga saat ini. Apakah untuk belajar mengenai Ono Niha, generasi Nias harus ke Amerika, ke Jerman, ke Belanda, atau ke Swis dimana kebanyakan artefak asli tersimpan? Apakah untuk mempelajari sejarah leluhur saya sendiri, saya harus belajar dari orang Jerman dengan biaya mahal? Betapa kita tidak menghargai sejarah masa lalu dan tidak memikirkan masa depan.

Bangsa Amerika menjadi bangsa besar karena mereka belajar dari masa lalu "sejarah dan nilai yang tak terabakan", kemudian mengembangkannya menjadi tekonologi canggih. Mereka belajar bukan dari mimpi. Mereka mengamati, menyelidiki, dan mempelajari objek yang berwujud yang dapat menceritakan berbagai hal kepada mereka dan dapat dibuktikan.

Kalau saja orang Nias tidak terlalu cepat membenci dan mengubur sejarah masa lalu, kita sudah mampu memproduksi gula dan garam sampai sekarang ini. Dulu, para leluhur kita sudah mampu membuat gula dari sari tebu dengan peralatan yang sangat sederhana. Begitu juga garam. Siapa yang masih mengetahui dan mengembangkan pengetahuan itu? Tak seorangpun!

Kita harus ingat bahwa Nias dikenal di luar negeri oleh bangsa-bangsa lain, bukan karena ada perguruan tinggi di sana, bukan juga karena ada perusahaan di sana. Tapi, oleh karena budaya para leluhur kita itu dulu, bukan budaya generasi sekarang! Nias menjadi sesuatu yang menarik hati dan misterius.



Betulkah benda peninggalan sejarah Nias atau tradisi budaya Nias lainnya memiliki nilai budaya yang sangat tinggi? Bisa dijelaskan arti nilai budaya tersebut?


Bukan saja peninggalan sejarah dan budaya Nias yang memiliki nilai yang tinggi, semua budaya (peradaban) manusia di berbagai belahan dunia ini memiliki nilai yang tinggi bahkan sangat tinggi bagi masyarakat pemiliknya, "jika hal itu benar-benar dipahami melalui proses berpikir yang dinamis dan analisis yang dalam." Mungkin bagi suku bangsa lain, artefak Nias dan budayanya tidak menarik dan tak memiliki nilai, akan tetapi bagi saya sendiri yang mengaku sebagai orang Nias merasa bahwa peninggalan para leluhur itu sangat tinggi nilainya. Mengapa dan apa artinya?

Karena melalui artefak peninggalan para leluhur, saya mampu merefleksikan diri, saya dapat mengukur dan membandingkan apa yang telah saya capai, apakah daya cipta saya sekarang ini sudah sebanding dengan daya cipta para leluhur pada masa lampau, dimana mereka tidak pernah duduk di bangku sekolah, tak ada alat teknologi canggih, tak ada media (contoh), namun mampu mencipta.

Artefak itu telah memunculkan inspirasi bagi saya untuk melakukan sesuatu, seolah benda mati itu mampu berbicara dan membakar semangat saya, bagaikan sebuah buku yang bisa memberi saya berbagai ilmu kapan saja, tanpa pernah menyakiti saya. Bayangkan "Arsitektur Nias" yang menurut Prof. Alain M. Viaro "merupakan arsitektur tradisional yang paling sempurna dan sekaligus memiliki tingkat kerumitan yang luar biasa di dunia" Arsitektur itu telah membuat saya bangga, dipandang, dan dihargai. Itulah 'nilai'.

Di Denver Museum of Nature and Science, ada pameran North American Indian Culture. Masyarakat setempat mengatakan bahwa "Our history was not in book - but was carved into poles, masks and talking sticks, put on blankets; and passed on to us as honor and authority." Demikian juga kita di Nias, selain melalui tuturan lisan yang sudah jarang yang mengetahui, "Sejarah kita tidak tertulis dalam buku-tetapi diukir pada artefak, pada ukiran, patung, ornamen pada dinding dan tiang rumah, pada tikar, selimut, dan peralatan lainnya."

Penutur lisan bisa saja berbohong, tapi artefak tidak akan pernah berbohong. Budaya material sangat penting bukan saja sebagai bukti (evidence) keberadaan manusia, hidupnya, peradabannya, dan lingkungannya, tetapi juga sebagai media untuk meneruskan ilmu pengetahuan. Suatu artefak memiliki biografi (riwayat) dan kehidupan sosial (social lives), karena itu benda peninggalan bersejarah harus disajikan (display) kepada masyarakat yang lebih luas.

Artefak dapat menceritakan kepada kita darimana asalnya, bagaimana cara pembuatannya, apa fungsinya, apa tujuan sosialnya, bagaimana lingkungan budaya pembuatnya, bagaimana perkembangan sejarah pada periode tertentu, unsur apa yang mempengaruhi gaya (bentuknya), dan apa pesan atau maknanya secara simbolik.

Rich Busch, seorang mahasiswa S-2 semester akhir pada Jurusan arkeology di Universitas Denver, kakeknya seorang Jerman yang migran ke AS mengatakan kepada saya(5/10/2004): "Artefak (furniture) yang dia peroleh dari kakeknya dimana objek tersebut dibuat oleh kakeknya, bukan saja membuat dia bangga akan keahlian (pengetahuan) kakeknya, tetapi artefak itu sekaligus memberi dan mengajarkan dia suatu ilmu pengetahuan bagaimana membuat furniture yaitu keahlian di bidang pertukangan (carpentery). Selain itu artefak tersebut dapat mengingatkan dia mengenai sejarah keluarga mereka," katanya.

Sebuah patung batu atau kayu, tidak saja menceritakan kepada kita tentang budaya masa lalu mengenai perkembangan kesenian dan religi, tetapi sekaligus mengajarkan kepada kita suatu keahlian mengukir (memahat). Kita bisa belajar dari objek tersebut. Ada media untuk belajar. Belajar mengekspresikan ide secara simbolik kepada setiap generasi kapan dan dimana saja. Itulah nilai dan prestasi yang tergambar pada "hasil peradaban" para leluhur masyarakat Nias. Prestasi para leluhur dulu tidak ditandai dengan "Ijazah, Sertifikat, Piagam, Piala, Medali," tapi dibuktikan dengan berbagai ukiran pada batu, patung, dinding rumah, perhiasan, dan lain lain.



Bagaimana cara Museum Pusaka Nias Mengumpulkan hasil seni budaya tersebut?


Pada mulanya tidak pernah ada rencana untuk mengumpulkan artefak Nias dan mepresentasikannya dalam museum. Tidak ada rencana untuk mendirikan museum, karena mendirikan dan mengelola museum bukanlah pekerjaan gampang. "Museum Pusaka Nias lahir dari sebuah keprihatinan semata."

Begini latar belakangnya secara singkat:

Sejak tahun 1972, salah seorang misionaris Gereja Katolik dari Jerman bernama Pastor Johannes M. Hämmerle, OFMCap ditugaskan di Nias. Pada saat itu beliau melihat derasnya arus penjualan dan pengiriman artefak Nias ke luar pulau Nias kemudian sampai ke luar negeri. Saat itu keadaan ekonomi masyarakat sangat buruk. Pastor Johannes masuk ke desa-desa untuk melayani. Di sana ia melihat berbagai artefak Nias tidak diperhatikan, dibiarkan busuk atau terlantar. Di sekitar wilayah Idanögawo, ia menemukan satu papan bagian depan rumah adat yang sudah roboh dengan berbagai ukiran dibiarkan busuk oleh hujan. Lalu beliau memintanya dari pemilik dan membawanya ke Gunungsitoli. Itulah koleksi pertama.

Setelah itu di kampung-kampung, ia sering ditawarkan barang-barang kuno (tua) oleh warga. "Tolong beli ini Pastor, anak saya butuh uang sekolah. Ini pedang kakek saya dulu. Tolonglah Ama (baca:pastor) beli ini." Wah Pastor tidak punya uang, pastor tidak perlu barang itu. Sebaiknya kalian simpan dan rawat, karena itu pusaka yang memiliki sejarah. Baiklah pastor, kalau tidak mau membelinya saya mau kasih (jual) kepada si-Anu (maksudnya kepada makelar barang antik).

Pastor Johannes membiarkan hal itu terjadi sambil merenung. Bagaimana manusia di pulau ini tidak memahami nilai yang ada dalam suatu benda pusaka (warisan). Bagaimana manusia ini maju kalau tidak pernah belajar dari masa lalu. Mereka menjualnya ke luar daerah, ke luar negeri, membiarkannya busuk bahkan ada juga yang sengaja merusaknya karena malu dan takut dibilang kafir (orang yang menyembah berhala), dan malu dicap "kuno."

Yang lalu sudah berlalu "Huku föna möi furi, huku föna no awai." Budaya masa lalu sudah usang dan tidak berlaku lagi. Bagaimana masa lalu berlalu begitu saja tanpa memetik hikmah? Itulah pertanyaan yang muncul dalam benak Pastor Johanes.

Lama-lama beliau tidak tahan melihat kondisi itu. Dari pada dijual di luar negeri lebih baik saya beli. Anggap saja saya telah membantu uang sekolah anak-anak mereka. Mungkin suatu saat muncul kesadaran masyarakat akan manfaat benda ini. Lalu, ia dengan berat hati dan terpaksa membeli satu-demi satu tanpa didasari oleh satu rencana, entah artefak itu mau diapakan. Yang penting, benda itu jangan dirusak, busuk, atau dijual keluar pulau Nias, walaupun banyak juga yang tetap di jual ke luar daerah.

Tak terasa, dari waktu ke waktu, jumlah artefak Nias yang dikumpulkan oleh Pastor Johanes mencapai ribuan jumlahnya. Tak sedikit uang yang dikeluarkan. Semakin lama ia pusing sendiri, bagaimana menyimpan dan merawatnya.

Sekitar tahun 1989, barulah muncul rencana untuk mendirikan "private museum" dengan bangunan yang sangat sederhana. Ide itu dibawakan dalam rapat besar (Kapitel) persaudaraan Ordo Kapusin. Ide ini pun mendapat tantangan dari persaudaraan Ordo Kapusin termasuk para pastor pribumi. Hanya sedikit yang setuju. Tapi Pastor Johannes dengan dukungan 2-3 orang pastor lain, mengambil prinsip bahwa ide itu harus direalisir sepanjang tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku dalam persaudaraan mereka dan hukum gereja.

Itulah awal perintisan pendirian Museum Pusaka Nias. Tantangan tidak saja datang dari teman-temannya pastor, tapi juga dari Pemerintah Daerah Nias pada saat itu, karena pemerintah berencana mendirikan Museum Pemerintah.

Dalam hal ini, sebagai orang Nias, saya harus berterima kasih kepada Pastor Johannes.


Selanjutnya, bagaimana peran Pemerintah kabupaten Nias terhadap perkembangan Museum?


Akhir-akhir ini perhatian Pemerintah Kabupaten Nias sudah mulai ada, walaupun itu hanya beberapa orang pejabat saja karena masih banyak pejabat lain berpandangan sinisme dan dikotomi, termasuk para Dewan Perwakilan Rakyat.

Sejak tahun 2000, pada akhir masa jabatan Bupati Drs. Y. Lafau, mulai ada perhatian Pemda Nias. Pada saat itu kami mengadakan Pameran, Perlombaan, dan Lelang yang juga dihadiri banyak tamu dari luar Nias, antara lain dari Medan dan Jakarta, Bupati Drs. Y. Lafau memberi kata sambutan.

Saat itu, ada yang menanyakan peran Pemda dalam melestarikan budaya. Beliau merasa malu, lalu langsung menjanjikan bantuan untuk membangun jalan masuk ke gedung museum dengan dana sebesar Rp 25 juta. Dan sejak itu beliau paling rajin berkunjung dan membawa tamu Pemda ke Museum.

Bupati Nias berganti, Pak Bupati Binahati B. Baeha dan Wakil Bupati Pak Agus Hardian Mendröfa menjadi nakhoda kapal "NIAS.' Tahun Anggaran 2001/2003, Pemkab Nias dengan persetujuan DPR memberi bantuan kepada Museum sebesar Rp 200 juta dan Tahun Anggaran 2003/2004 sebesar Rp. 50 juta. Jumlah ini kelihatan besar, tapi belum bisa menutupi pembiayaan utama Museum Pusaka Nias, yaitu biaya pembangunan dan operasional. Belum lagi biaya pemeliharaan dan kegiatan pelatihan, lokakarya, publikasi, pencerahan dan konservasi situs.

Namun demikian, sekecil apapun bantuan itu sangat berarti, bernilai dan menunjukan pertisipasi Pemkab Nias untuk mendukung pengembagan museum Pusaka Nias untuk "melestarikan budaya sebagai identitas suku bangsa Nias."

Untuk memperoleh bantuan Pemkab Nias, bukanlah perjuagan ringan. Sungguh melelahkan dan kadang-kadang stress dan makan hati. Saya sendiri mengalami hal itu. Menghadapi aparat bagian bawah, minta ampun sulitnya. Atasan sudah setuju, tapi bawahan masih "neko-neko". Inilah yang tak sanggup saya hadapi.

Namun demikian, saya berharap bahwa bantuan untuk Museum Pusaka Nias bukan karena keinginan seseorang pejabat saja, sehingga kalau pejabat tersebut bertukar, ceritanya sudah lain dan tidak nyambung.



Apakah hasil seni budaya Nias yang ada di museum sudah bisa mewakili seluruh budaya yang ada di pulau Nias?


Bagaimana harus mewakili seluruh budaya Nias?! Sementara museum lahir dari sebuah keprihatinan belaka dan bukan atas hasil perencanaan yang matang. Masih banyak wilayah di Nias yang tidak memiliki artefak di museum. Misalnya, dari arah Tuhemberua ke Lahewa, wilayah sekitar Gunungsitoli, Mandrehe, dan Sirombu juga sedikit. Beberapa tahun yang lalu muncul pemikiran dari museum agar ada keseimbangan budaya material yang ada di museum, karena selama ini yang terbanyak adalah dari Nias Tengah dan Selatan. Tapi usaha ini belum membuahkan hasil.

Selain karena tak ada uang untuk membeli barang-barang itu, atau mendokumentasikan situs-situs dan tradisi lisan Nias. Masyarakat kita, dari wilayah tadi, kurang terbuka dan memiliki pemikiran tersendiri dalam pelestarian budaya materialnya. Contoh, kita mau memperoleh sejarah dari desa tertentu dan mewawancarai orang yang kita anggap mungkin masih tahu. "Syaratnya lumayan sulit, harus ada babi untuk mempersatukan dan meminta izin keluarga." Padahal seharusnya ia bangga dan berterima kasih karena dipublikasikan.

Contoh lain lagi, di sekitar desa Sabango Gunungsitoli, ada rumah yang sudah tua dan tidak dihuni lagi. Papan bagian depan rumuh tersebut memiliki berbagai ukiran yang menarik, tapi sudah mulai lapuk dan runtuh. Kita mendatangi pemiliknya dan sarankan agar rumah itu dipelihara atau kalau tidak diserahkan kepada museum. "Oh, tidak bisa! Itu adalah rumah warisan orangtua kami, tidak boleh diganggu!" Kita bilang, "Ya…kalau tidak boleh diganggu, dipeliharalah jangan dibiarkan lapuk oleh hujan." "Itu urusan kami, dan bukan urusan kalian," tegas pemiliknya dengan sedikit curiga. Lalu kita bujuk lagi, baiklah, bagaimana kalau kami (pihak museum) diizinkan untuk menggambar (menjiplak) ornamen tersebut? Apa jawabnya? "Tebai, ondröita zatuama da'ö, böi gadu! Mofönu dania zatuama, abölö sökhi i'a ia bekhu!"

Rupanya para pemilik memiliki pandangan yang salah terhadap pemeliharaan warisan leluhur. "Jangan diganggu, lebih baik dimakan setan!" Ini tidak hanya terjadi di Sabango tapi juga di banyak wilayah lainnya. Kalaupun mereka mau menjual, mereka meminta harga yang tidak mungkin kita penuhi. Karena itu, mereka cenderung menjual ke luar atau membiarkannya busuk! Mereka baru anggap sebagai harta kalau sudah jadi uang.

Masih banyak contoh lain bagaimana masyarakat kita memandang dan memperlakukan warisan leluhur.

Tahun lalu kita mencoba berusaha mengkonservasi rumah adat tua di "desa Lalai Satua" dan "Onowaeombo-Idanoi." Kami dari museum (Saudara Ir. Ottorius Harefa, Fabius Nduru dan saya) sering ke sana. Saya sangat kesal melihat perilaku dan respon para pemiliknya. Lalu suatu saat, saya mengatakan begini: "Kalian seharusnya malu, ini bukan rumah kakek saya, ini bukan juga rumah bapak saya, saya orang Telukdalam, tapi saya peduli dan datang ke sini menahan lapar dan lelah supaya rumah ini bisa bertahan. Kalian seharusnya bertanya: Mengapa dia peduli, mengapa harus dia yang memelihara dan mempertahankan rumah leluhur kami ini, padahal ini milik kami, tempat kami tinggal! Kebanggaan kami! Beginikah cara kita menghargai karya leluhur kita?" Mereka hanya terdiam, dan banyak juga yang tersinggung.



Peran anda di Museum Pusaka Nias sebagai apa?


Saya sebagai staf biasa di Museum Pusaka Nias dan tahun lalu saya diberi tanggungjawab sebagai Wakil Direktur Museum Pusaka Nias sekaligus sebagai Pemimpin Redaksi Buletin Media Warisan. Bukan karena posisi ini saya lalu seolah terlalu fanatik pada museum. Sejak dulu, sebelum saya bekerja secara resmi di museum, saya menyadari bahwa melestarikan budaya dan menjadikannya sebagai salah satu sumber pendidikan publik adalah sesuatu yang sangat penting, namun seolah lepas dari perhatian orang dan merupakan ide yang tidak populer. Keyakinan saya itu diperteguh oleh saran dari beberapa orang teman baik di dalam negeri, diantaranya Bapak Toenggoel P. Siagian, M.Ed di Jakarta, maupun teman-teman di luar negeri, misalnya Bastiaan Liefering di Belanda dan Traian Popescu di Jerman.

Pak Toenggoel Siagian merupakan orang yang pertama sekali mendorong pembangunan Museum Pusaka Nias, bahkan hingga saat ini. Padahal beliau bukanlah orang Nias.



Apa yang akan anda lakukan untuk masa depan Museum Pusakan Nias?


Pertama sekali, pengalaman dan pengetahuan yang telah saya peroleh dari Universitas Denver yang sesuai dengan kemampuan Museum Pusaka Nias dan kebutuhan masyarakat setempat akan saya coba implementasikan bersama teman-teman di museum. Secara institusional, tentu saja saya juga harus bergantung pada kebijakan dan keputusan lembaga dan pimpinan serta dukungan teman-teman lainnya. Yang paling mendesak sekali adalah mendukung dan mensukseskan "Grand Opening" yang menurut rencana akan dilaksanakan pada bulan April tahun 2005. Ini bukan pekerjaan yang gampang.

Setelah Grand Opening, rencana selanjutnya adalah meningkatkan dan memperluas fungsi dan peran Museum Pusaka Nias dari "Pusat pelestarian budaya ke pusat pendidikan publik." Misalnya dengan cara kerja sama antar guru-guru sejarah dan kesenian di sekolah dan Perguruan Tinggi agar memanfaatkan Museum sebagai salah satu cara mengembangkan materi pelajaran/kuliah di sekolah dengan membawa siswa/mahasiswa pada dunia yang nyata, mendorong tumbuhnya inspirasi dan keingintahuan mereka dengan melihat "real thing" di museum.

Ini akan sangat terkait dengan kebijakan Dinas Pendikan setempat dan juga tergantung pada minat guru/dosen, karena banyak guru sejarah dan seni yang sebenarnya tidak berminat dan tidak berbakat pada bidang studi itu. Lalu bagaimana ia mengembangkan dan mendorong siswa untuk berbuat yang lebih baik?

Selain sebagai "salah satu pusat pendidikan masyarakat," museum kelak akan menjadi "Commnuny center" dimana warga datang ke museum untuk berinteraksi, membicarakan, dan mencari solusi masalah budaya, pengetahuan, pendidikan, dan lain lain" sesuai kepentingan mereka. Mimpi ini tidak hanya di Museum Pusaka Nias, tetapi di seluruh museum di Indonesia sehingga museum benar-benar bermanfaatnya "bagi orang yang memprioritaskan pendidikan."

Kalau kita sudah merasa bahwa pendidikan dan pengetahuan itu penting, kita akan mengejarnya, mencari, dan bersedia berkorban untuk itu.



Selama ini Pembiayaan Operasional Museum berasal dari mana?


Biaya operasional selama ini diusahakan sendiri oleh Pastor Johannes M. Hammerle dengan berbagai cara. Kadang kala beliau secara tidak langsung memaksa saudara-saudaranya yang ada di Jerman untuk membantu pelestarian budaya Nias. Tapi akhir-akhir ini beliau agak sulit mengharapkan bantuan karena keadaan ekonomi di Jerman, dan juga bukan hanya Pulau Nias yang dipikirkan oleh keluarganya.

Sekitar 3 tahun terakhir, pihak manajemen museum telah mulai memungut sumbangan (tiket) masuk ke kompleks museum. Besarnya bervariasi. Untuk pengunjung umum Rp 1000, Siswa/mahasiswa Rp 500 dan untuk Anak Sekolah Dasar Rp 250. Total hasil sumbangan (tiket) masuk setiap bulan rata-rata sebesar Rp 4 juta. Sedangkan biaya operasional (Gaji staf inti, listrik, telepon dan ATK) setiap bulan sebesar Rp 15 juta. Jadi masih tetap minus Rp 11 juta per bulan. Kekurangan ini selalu ditutup (diusahakan) sendiri oleh Pastor Johannes. Dalam hal ini gaji Direktur Museum (Pastor Johannes) tidak dibayar.

Selain biaya operasional, biaya yang paling besar adalah biaya pembangunan dan pengadaan peralatan (perlengkapan). Pada bulan Agustus kemarin, pihak museum terpaksa memberhentikan 15 orang tukang (pekerja) karena tidak ada uang untuk gaji dan biaya bahan. Hal inilah yang menjadi penyebab lambatnya proses pembangunan museum yang telah dimulai sejak tahun 1991, padahal pada bulan April 2005 kita sudah merencanakan "Grand Opening." Biaya yang juga tak sedikit adalah biaya pemeliharan bangunan/lingkungan dan konservasi koleksi.

Hal inilah yang membuat saya gelisah. Bagaimana jika suatu saat Pastor Johannes tidak lagi bertugas di Nias. Beliau juga sudah tua, dan kita tidak pernah tahu rencana Tuhan ke depan. Saya berharap agar beliau hidup 1000 tahun lagi sehingga karya dan misi ini dapat berlanjut.



Apa yang anda harapkan dari masyarakat Nias untuk mendukung Museum Pusaka Nias tersebut?


Pertama, bukan dukungan yang saya harapkan tetapi masyarakat Nias mengenal dan memanfaatkan museum. Saya mengajak "seluruh masyarakat Nias, terutama generasi muda, pelajar, mahasiswa, kaum akademisi dan intelektual, para pelaku, dan pembuat kebijakan pendidikan untuk mengenal museum dari dekat." Datang, berkunjunglah, dan eksplorasi budaya Nias yang masih ada di museum. Belajarlah darinya. Cari, selidiki, dan kembangkanlah kearifan dan pengetahuan para leluhur itu menjadi suatu ilmu yang hidup sepanjang zaman!"

Kedua, setelah mengenal museum dan apa yang telah dibuat, apa yang sedang berlangsung di sana, apa yang hendak dilakukan, apa kelemahan dan kelebihan "tentu anda bisa mengambil keputusan." Jika baik dan bermanfaat, anda akan mendukungnya. Anda akan mengetahui porsi mana yang harus anda lakukan untuk meneruskan program itu melalui komunikasi dengan para staf Museum Pusaka Nias, kapan dan dimana saja.

Dengan demikian, partisipasi anda untuk mendukung program Museum Pusaka Nias merupakan tanda pemahaman anda mengenai pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Nias yang telah dirintis oleh para leluhur dan dilestarikan oleh museum. Dukungan dan partisipasi anda merupakan wujud penghormatan anda pada diri dan identitas anda sendiri. Museum Pusaka Nias membutuhkan kepedulian, aksi, dan dukungan nyata yang tulus, bukan dukungan sebatas kata pujian dan angan-angan.



Bisa diceritakan tentang keluarga: Orang tua, Istri, dan Anak?


Saya merupakan anak bungsung dari 5 bersaudara dari pasangan Ama Riami (Eliasa Duha) dengan Alm. Asania La'ia (2 perempuan dan 3 Laki-laki). Ibu saya tercinta meninggal dunia ketika saya berumur 2 tahun. Jadi, bagaimana persisnya wajah ibu saya, belum pernah saya tahu.

Satu tahun kemudian, ayah saya kawin lagi. Kami beruntung mendapat seorang ibu tiri yang tidak pernah kami anggap sebagai ibu tiri, dan tidak pernah menganggap kami sebagai anak tiri. Dari ibu kedua, saya memiliki 6 saudara perempuan dan 1 laki-laki, jadi kami 11 bersaudara yang masih hidup.

Keluarga orangtua saya merupakan keluarga petani kecil di Desa Hilimondregeraya Kecamatan Telukdalam. Sejak kecil saya sudah biasa hidup dan kerja keras agar bisa sekolah. Tinggal di rumah orang dan bekerja agar bisa dapat makan dan sekolah. Kepergian ibu tercinta dan keadaan ekonomi keluarga kami yang sangat buruk, membuat saya berjuang untuk dapat mengecap pendidikan.
Desember 2002 yang lalu, saya menikah dengan gadis desa sekampung yang sangat saya cintai bernama Oisanora La'ia, putri tunggal dari pasangan Alm. Humönö To'anö (Tafasa La'ia) dengan Nitulota La'ia. Tuhan telah mengarunia kami seorang putri berumur 1 tahun 2 bulan bernama "Pristine Gabriela Hemitulo Duha." Jadi saya juga dipanggil Ama Pristin.


Demikianlah hasil wawancara kami dengan suami dari Oisanora La'ia dan ayah dari Pristine Gabriela Hemitulo Duha yang sejak kecil menyenangi cerita rakyat, membaca, dan bertukar pikiran.



Kenalilah Museum Pusaka Nias lewat Website: www.nias-portal.org.



CURRICULUM VITAE


DATA PRIBADI

Nama lengkap: Nata'alui Duha, S.Pd.

Tempat tanggal lahir: Hilimondregeraya, 11 Maret 1972

Jenis kelamin: Laki-laki

Agama: Katolik

Alamat: Jalan Yos Sudarso No. 124-A, Kotak Pos 16, Gunungsitoli 22812, Nias-Sumatra Utara, Indonesia



PENDIDIKAN

SD Negeri No. 075068 Hilimondregeraya, tahun 1985

SMP Bintang Laut Telukdalam, tahun 1988

SMEA Swasta Gunungsitoli, tahun 1991

Diploma Tiga (D-III) : IKIP Gunungsitoli, Tahun 1995

Strata Satu (S-1): IKIP Gunungsitoli 2002

Sekarang sedang Study khusus Museology dan Antropology dengan status sebagai mahasiswa tamu bersama mahasiswa S-2 di Universitas Denver Kolorado.



PEKERJAAN

1993-1994: Bekerja sebagai local tour guide di Nias Holiday, Travel & Tour

1995: Guru Bahasa Inggris di Sekolah pendidikan kesehatan Gunungsitoli

1997: Bekerja secara resmi di Museum Pusaka Nias/Yayasan Pusaka Nias sampai sekarang

1998-2000: Guru Bahasa Inggris pada Jurusan Pariwisata SMEA Swasta Kristen BNKP gunungsitoli

JABATAN SEKARANG: Wakil Direktur Museum Pusaka Nias dan Pemimpin Redaksi Buletin Media Warisan.

Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

©2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000