NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  Haniha Ira, Hadia Niwa'öra?
 

Wed, 23 December 2009 08:59:55
Suster Klara dan Rumah Inap Kasihnya
Noverlina bernyanyi dengan nada suara naik turun sesukanya dan lafalnya tak jelas. Selesai bernyanyi, ia memeluk ”ibunya”. Meski berusia tiga tahun, ia belum bi ...

Ref: Nugroho F Yudho (Kompas, 22 Desember 2009)

  • 

Ama Rita Zamasi Tetap Mencintai NIAS

  • 

Ir. Boy Olifu Gea di Kebun Tanaman Hiasnya => Click to enlarge!Ir. Boy Olifu Gea Pengusaha Tanaman Hias

  • 

Binahati Baeha, SH dengan Istri, Lenny Trisnadi. => Click to enlarge!Tuhanlah yang Telah Menggariskan Jalan Hidupku

  • 

Riahardy Mendröfa => Click to enlarge!Antara Kampung Halaman, Foto, dan Instalasi

  • 

Kanserina Esthera Dachi => Click to enlarge!Keteguhan Hati Dokter Kanserina Esthera Dachi

  • 

Susanto dan Istri, Hartati Zebua. => Click to enlarge!Susanto, Pelopor Bisnis Restoran Pinggir Pantai di Pulau Nias

  • 

Yacintha Gulö => Click to enlarge!Yacintha Gulö, Putri Mandrehe yang "Merawat Amerika"

  • 

Agus Hardian Mendröfa di salah satu Pojok Miga Beach Hotel => Click to enlarge!Talifusöda Agus Hardian Mendröfa, Mantan Wakil Bupati Nias

  • 

Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA => Click to enlarge!Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA, Wakil Bupati Kotabaru

  • 

Dubes RI Piter Taruyu Vau dan Ibu => Click to enlarge!Dari Nias ke Brasil sebagai DUTA BESAR INDONESIA UNTUK BRASIL

  • 

Magdalena Sanora Warnihati Fau => Click to enlarge!Onie Fau dan Kecerdasan Wanita Nias

  Index  

  Last Commented
 
 

Thu, 23 March 2017 22:28:01 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan | 114.121.156.146
Editor Media Online Dipanggil Penyidik Poldasu6 Responses

 

Thu, 23 March 2017 09:22:31 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.Uluniyo Nias selatan | 114.121.154.67
Proyek Pembangunan Tower Listrik di Nias Sengaja Dihentikan4 Responses

 

Wed, 22 March 2017 13:13:51 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan. | 114.121.132.103
DPRD: Rencana Konversi Karet di Nias Dipertanyakan25 Responses

 

Tue, 21 March 2017 22:28:00 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan. | 114.121.132.103
KECAMATAN UMBUNASI NIAS SELATAN: KABUPATEN NIAS TIMUR YES, KABUPATEN GOMO NO26 Responses

 

Mon, 13 March 2017 09:42:26 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan. | 114.124.35.136
Masyarakat Nias Protes Program Presiden Dihentikan3 Responses

 

Tue, 07 March 2017 04:41:22 | Tema Adiputra Harefa | Jakarta | 114.121.152.66
Selamat kepada Tema Adiputra Harefa atas Raihan "Doctor of Ministry"14 Responses

 

Sat, 25 February 2017 19:35:59 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.lolomatua Nias selatan | 114.121.129.100
LAGI-LAGI SALAH SATU MASYARAKAT NIAS DI MEDAN-SUMUT TEWAS MENGENASKAN9 Responses

 

2004-10-04 23:30:06
Ketekunan yang Berbuah
Padang (NiasIsland.Com)

Wa'özisökhi Nazara => Click to enlarge!"Pendidikan dalam masyarakat Nias semakin memprihatinkan! Semua warga masyarakat di segala lapisan dan golongan perlu disadarkan bahwa tujuan akhir pendidikan bukan untuk "memburu" jabatan tinggi dan/atau gaji besar. Sekarang tampaknya semakin banyak orang, termasuk sebagian tenaga kependidikan di Nias, menganggap seolah-olah yang ideal adalah jabatan paling tinggi, gaji paling besar, tetapi pekerjaan paling sedikit, bahkan kalau bisa tidak perlu kerja. Kecenderungan ini amat berbahaya!

Kalimat di atas adalah ungkapan kegusaran Wa'özisökhi Nazara pada kesempatan berbincang-bincang dengan NiasIsland.Com lewat media elektronik. Wa'özisökhi Nazara boleh disebut salah seorang putra Nias yang berhasil di perantauan, khususnya di bidang pendidikan. Dia adalah Dosen/Ketua Jurusan Bahasa Inggris pada Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga Padang.

Pria yang semasa sekolah ini tergolong sangat tekun belajar, sehingga dari ketekunannya tersebut menjadikan dia banyak memperoleh beasiswa dari berbagai sumber untuk mendukung studinya. "Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah perlu, antara lain, peningkatan kesejahteraan/gaji tenaga kependidikan dan tenaga non-kependidikan! Gaji seorang guru minimal Rp 2.500.000 per bulan sehingga nantinya banyak orang cerdas yang tertarik menjadi guru. Guru tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga harus cerdas untuk membuat orang (murid) cerdas." Kata Bapak Ama Wise, sebagaimana lazimnya ia biasa dipanggil di lingkungan masyarakat Nias.

Sebagai seorang ahli bahasa, ia memiliki Visi untuk mendirikan Forum Peduli Bahasa, Sastra dan Budaya Nias, dan Forum Peduli Pendidikan Nias yang kelak akan terwujud tahun 2010. Tentunya saat itu kita berharap beliau telah mencapai cita-citanya mendapat gelar DR telah tercapai.

Berikut ini adalah petikan wawancara NiasIsland.Com dengan Bapak Ama Wise:


Keluarga, Pekerjaan, dan Masa Pendidikan

1. Bisakah Bapak menceritakan sedikit tentang keluarga?

Ayah saya Ama Merisa Nazara (Balugu Tuhasörömi, Balugu Sifaedo Tuha, ketua Adat Hilimbana desa Laowöwaga kecamatan Lahewa). Beliau meninggal tidak lama setelah saya lulus SMA. Ibu saya Ina Merisa Halawa (Saribarasi). Beliau meninggal hanya sekitar tiga bulan setelah saya menyelesaikan Program S2. Saat ini saya memiliki seorang istri, namanya Margareta Suprapti/Ina Wise berasal dari Yogyakarta, berusia 38 tahun, lulusan Program D2 Pendidikan Matematika IKIP Sanata Dharma. Sekarang dia bekerja di Bagian Akademik STBA Prayoga. Saya mempunyai tiga orang anak: Wisewarna Nazara (laki-laki, kelas V SD RK I Padang), Wiselina Nazara (perempuan, kelas IV SD RK I Padang), dan Wiseputra Nazara (laki-laki, kelas I SD RK I Padang). Selain itu, ada juga dua anak yang saya asuh karena orangtua mereka betul-betul tidak mampu, yaitu: Gema Darman Nazara (laki-laki, kelas I SMA Xaverius Padang) dan Litiani Harefa (perempuan, kelas IV SD Negeri Sungkei Padang).


2. Saat ini apa aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan?

Pekerjaan utama adalah sebagai Dosen dengan jabatan Ketua Jurusan Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga Padang. Saat ini, saya satu-satunya orang Nias yang mengajar di sini, sedangkan yang lain adalah saudara-saudara kita dari Minangkabau (sebagian besar), Cina, Jawa, Flores, dan Batak. Kegiatan lain adalah aktif di IMN, PSKP St. Yusuf, MLI, dan lain-lain. Selengkapnya dapat dilihat dalam riwayat hidup saya.


3. Bagaimana pengalaman dan perjalanan hidup Bapak sampai saat ini, terutama dalam pendidikan?

Hampir 6 tahun saya mengikuti pendidikan dasar di SD Negeri Laowöwaga (1971-1977) Kecamatan Lahewa. Sebelumnya, saya pernah belajar di SD Negeri Ononamölö sekitar 2 bulan (tahun 1970) dan pernah belajar di SD Negeri Orahili sekitar 6 bulan (tahun 1973) di Kecamatan Alasa.

Ada satu kejadian yang selalu saya ingat ketika belajar di SD Negeri Orahili. Waktu itu saya duduk di kelas III. Suatu hari kami disuruh menghafal satuan pengukuran dan perbandingan satuan itu dengan satuan lain oleh Bapak Ama Feri Gea, guru kami. Misalnya: 1 kilometer = 10 hektometer = 100 dekameter = 1000 meter; 1 meter = 10 desimeter = 100 sentimeter = 1000 milimeter.

Setelah beberapa menit, Beliau menyuruh kami satu per satu menyebutkan satuan-satuan tadi di depan kelas. Yang tidak bisa disuruh berdiri dengan kaki satu dan kedua tangan terentang. Anak yang dihukum itu kelihatan seperti sedang disalibkan di atas tanah tanpa kayu salib. Siapa yang menurunkan kaki dan/atau tangan akan dipukul dengan rotan.

Sebelum saya disuruh ke depan, sudah ada dua murid laki-laki dan satu perempuan berdiri dengan satu kaki dan kedua tangan terentang karena tidak bisa menyebutkan dengan betul, apalagi dengan berurutan. Setelah saya selesai menyebutkan di luar kepala, semua satuan pengukuran sesuai dengan perintahnya, Beliau memuji saya. Karena itu, Beliau menyuruh ketiga kawan tadi berbaris dengan rapi dan menyuruh mereka memberi hormat kepada saya, layaknya petugas yang memberi hormat kepada Pembina Upacara.

Mungkin kawan-kawan itu malu sehingga mereka mengadu kepada abang murid perempuan yang dihukum tadi. Dan pada saat saya pulang, sekitar 25 meter dari pekarangan sekolah, saya dikeroyok oleh lebih 10 orang. Abang murid perempuan yang memberi hormat kepada saya di kelas tadi langsung menampar muka saya. Keras sekali! Saya jatuh tersungkur. Ketika ada orangtua yang menegur mereka, mereka pun pura-pura berhenti, tetapi setelah orang tua tersebut menjauh mereka kembali mengejar saya lagi. Saya pun terpaksa berjalan mundur sambil memegang pisau -pisau itu biasa saya gunakan untuk memotong "bulu gae" atau "bulu mbio" yang dijadikan "nöu" kalau hujan turun- serta mengancam mereka bahwa siapa yang berani memukul lagi akan saya tikam. Rupanya gertakan saya berhasil. Mereka tidak berani mendekat sehingga selamat sampai di rumah.

Malam harinya saya ceritakan kepada Bapak saya dan mengatakan saya tidak mau belajar di sekolah itu lagi. Bapak saya pun segera menghubungi kepala sekolah agar saya pindah kembali ke SD Negeri Laowöwaga.

Setelah lulus dari SD Negeri Laowöwaga (akhir tahun 1977), saya mengikuti testing di SMP Negeri Lahewa. Setelah belajar di SMP Negeri itu selama tiga setengah tahun, saya kemudian mengikuti testing di SMA Negeri Gunungsitoli. Setelah lulus dari SMA Negeri Gunungsitoli (1984), saya melanjutkan pendidikan di Program D3 Jurusan Bahasa Inggris IKIP Gunungsitoli.

Selama kuliah di IKIP, saya diangkat menjadi asisten matakuliah Bahasa Inggris oleh Rektor IKIP Bapak Drs. D. Zagötö. Seterusnya saya menjadi guru tidak tetap di ST Negeri Gunungsitoli, guru tidak tetap di SMA BNKP, dan guru tidak tetap di SMA Kampus IKIP Gunungsitoli.

Yang patut saya syukuri adalah bahwa saya menjadi asisten mahasiswa atau guru tidak tetap itu, BUKAN karena saya meminta atau melamarnya TETAPI semuanya atas panggilan atau rekomendasi para pejabat Rektor/Pembantu Rektor/Ketua Jurusan/Dosen/Kepala Sekolah/Wakil Kepala Sekolah.

Ketika sedang mengikuti Ujian Semester VI di IKIP Gunungsitoli, saya menerima telegram dari Mr. Thomas John Affeldt (Koordinator Volunteers In Asia untuk Indonesia pada waktu itu). Isinya, saya diperintahkan melanjutkan pendidikan di Program S1 Jurusan Bahasa Inggris IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, atas biaya mereka. Akibatnya, saya terpaksa berangkat dari Nias sebelum menyelesaikan ujian 3 matakuliah (6 sks) di IKIP Gunungsitoli.

Perkiraan saya waktu itu, saya paling-paling diturunkan satu tingkat di Sanata Dharma, tetapi ternyata 114 SKS yang telah saya selesaikan di IKIP Gunungsitoli tidak bisa di transfer, meskipun ada surat permohonan dari Rektor IKIP Gunungsitoli, Transkrip Nilai, dan surat-surat lain yang mendukung. Saya tetap diharuskan mendaftar, mengikuti Ujian Masuk, dan menunggu hasil Testing apakah lulus atau tidak.

Surat Dokter yang saya bawa dan ditandatangi oleh Direktur Rumah Sakit Umum Gunungsitoli pun tidak berlaku karena semua calon mahasiswa diharuskan mengikuti test kesehatan di Sanata Dharma. Saya juga harus mengikuti OPSPEK dan Penataran P4.

Banyak hal ketika kuliah di Sanata Dharma yang akan selalu saya ingat. Dua di antaranya adalah: Pertama, ketika saya akan mengikuti KKN (kuliah kerja nyata). Pada saat ke kampus dan bertemu dengan Sr. Barba Graham, salah seorang dosen kami, Beliau mengatakan: "Wa'ö, you did very well in Writing". Saya spontan mengatakan, "Thank you, I am happy to hear that, but I have a problem now". "What's your problem?" katanya. "I have no money to pay for the Community Servise Program (KKN)", jawab saya. Dosen dari Australia yang sangat disiplin itu pun kemudian berlalu, tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Sekitar pukul 18.00 wib petang, waktu saya sedang mandi, ada mahasiswa mencari saya di kos. Mahasiswa itu mengatakan bahwa saya dipanggil saat itu juga ke kampus oleh Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan (PR III).

Saya pun segera ke kampus. Ketika sampai di kampus ternyata ada 4 orang di sana, PR III, Sr. Barbara, dan dua lagi pejabat lain. Sambil memberikan amplop berisi uang kepada saya, PR III mengatakan, "Ini uang dari Suster untuk biaya KKN Saudara. Besok pagi minta Rekomendasi dari Bapak Drs. A. Aryanto, M.A. (Kepala Pusat Pengabadian kepada Masyarakat) dan serahkan rekomendasi itu kepada petugas Bank pada waktu Anda membayar biaya KKN, karena sudah terlambat". Saya pun mengucapkan terima kasih dan menyalami mereka, dalam keadaan terharu.

Hal kedua adalah pertanyaan terakhir dari Ketua Jurusan Bahasa Inggris (Bapak Drs. JB. Gunawan, M.A.) pada waktu saya mengikuti Ujian Thesis (meja hijau). Beliau katakan, "This is the last question". Saya pikir pertanyaan yang "mematikan", apalagi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kelima penguji yang terdiri atas dosen-dosen senior itu sangat sulit. Ini tampak antara lain pada kenyataan bahwa banyak teman meninggalkan ruang ujian dengan mata berlinang, bahkan ada yang "meraung-raung". Ternyata pertanyaan terakhir yang sempat membuat jantung saya berdetak lebih cepat itu tidak "mematikan". Pak Gunawan itu justru menanyakan apakah saya mau membantu mereka mengajar di Sanata Dharma. Betul-betul pertanyaan tak terduga!

Atas rekomendasi Beliau saya mengajar di Jurusan Sejarah dan di Jurusan Bahasa Inggris IKIP (sekarang Universitas) Sanata Dharma.

Ketika mengajar pada tahun 1992, saya bertemu dengan PR III. Beliau memberitahukan bahwa di Ruang Ketua Jurusan Bahasa Inggris ada profesor dari Padang. Profesor itu sedang mencari Dosen Bahasa Inggris. "Kalau Saudara tertarik, silakan bertemu dengan Profesor itu di Ruang Ketua Jurusan". Saya singgah di Ruang Ketua Jurusan dan bertemu dengan Prof. Ennis Sarwin, M.A.(Pembantu Ketua I STBA Prayoga Padang waktu itu). Beliau mengatakan bahwa saya akan dikirim ke luar negeri untuk mengikuti pendidikan S2 setelah mengajar beberapa tahun di STBA Prayoga Padang. Biaya untuk berangkat ke Padang dan untuk ke Yogya akan disediakan. Dijanjikan pula akan diberi sejumlah uang setelah 6 tahun mengajar, dan bunga uang itu diberikan kepada saya setiap bulan selama 6 tahun sebelum uang tersebut diberikan kepada saya. Dikatakan juga bahwa sewa rumah akan ditanggung.

Di antara semua janji itu, yang paling menarik bagi saya adalah kesempatan untuk melanjutkan studi. Itu sebabnya, saya tidak jadi bekerja di Holand-American Lines atau PT. Prima Coal, meskipun gaji sebagai dosen pada waktu itu hanya sekitar sepersepuluh gaji di perusahaan itu.

Tahun 1997, saya disuruh oleh Ketua STBA Prayoga (Bapak Sarwin, M.A.) untuk mencari informasi mengenai program S2 dan saya pun menghubungi beberapa Universitas di Amerika, di Inggris, dan di Australia. Akan tetapi, dengan alasan krisis moneter pada 1998, saya diberitahu bahwa saya hanya boleh memilih Program S2 di dalam negeri untuk melanjutkan studi. Saya pun memilih Universitas Udayana. Setelah mengikuti Ujian Masuk dan dinyatakan diterima, saya belajar di sana sampai selesai (6 Januari 2001).


Upaya untuk Memajukan Pendidikan di Nias

4. Bagaimana menurut Bapak kondisi pendidikan di Nias saat ini, bila dibandingkan dengan masa Bapak bersekolah dulu?

Saya sulit menjawab pertanyaan ini, karena dua hal. Pertama, pendidikan sangat luas dan rumit. Kedua, informasi yang saya miliki tentang kondisi pendidikan di Nias sangat terbatas dan belum tentu sahih untuk menggambarkan kondisi pendidikan di Nias. Untuk menilai kondisi pendidikan di Nias diperlukan data lengkap dan sahih.

Kondisi pendidikan di Nias bisa dibicarakan berdasarkan tempat (keluarga, masyarakat, sekolah) dan waktu (masa lalu, masa kini, masa depan) penyelenggaraan pendidikan. Persentase anak yang pergi ke sekolah tampaknya tidak mengalami penurunan, tetapi bagaimana kualitas pendidikan yang diperoleh anak-anak itu?

Perlu disadari bahwa kualitas pendidikan di sekolah sangat bergantung kepada beberapa komponen. Pertama, guru (pendidik dalam arti sesungguhnya, bukan hanya menjadi pengajar seadanya, apalagi seenaknya!). Seharusnya guru MAU dan MAMPU memiliki KOMPETENSI memadai untuk merencanakan, merealisasikan/melaksanakan, mengevaluasi, dan meningkatkan kualitas materi pendidikan (terutama pelajaran), kualitas cara (metode dan strategi) untuk menyampaikan materi pendidikan (pelajaran), kualitas evaluasi/penilaian, dan kualitas tindakan untuk menumbuhkembangkan kualitas diri anak didik baik dalam hal kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan berbahasa, maupun dalam hal kecerdasan spiritual.

Apakah tugas berat tetapi mulia ini bisa diemban secara memadai oleh guru yang lebih banyak menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk berjudi, bertengkar, dan lain-lain daripada untuk merencanakan dan menyiapkan materi pelajaran dan metode serta strategi jitu untuk mengajarkan materi pelajaran itu, mengevaluasi materi pelajaran dan metode serta strategi pengajaran, dan melakukan perbaikan/penyempurnaan materi dan metode serta strategi pengajaran dan evaluasi jika diperlukan?

Kedua, kepala sekolah dan pegawai non-kependidikan. Kepala sekolah harus orang yang mau dan mampu menjadi, antara lain, manajer, pemimpin, motivator, teladan dalam hal disiplin, pekerja keras, jujur dan ulet. Pegawai non-kependidikan juga orang-orang idealitis sekaligus realistis, disiplin, bekerja keras, jujur dan ulet.

Pertanyaan saya saat ini, antara lain, apakah semua kepala sekolah dan tenaga non-kepedndikan memenuhi secara memadai kriteria tersebut di atas?
Tampaknya dulu guru, kepala sekolah, dan tenaga non-kependidikan lebih rajin, lebih disiplin, lebih mudah diatur. Guru dan kepala sekolah pada waktu itu tampaknya lebih menjaga martabatnya sebagai pendidik. Mereka lebih merasa malu melakukan hal-hal tercela (perjudian, penipuan, ketidakhadiran mengajar di sekolah, dan lain-lain). Sekarang tampaknya semakin banyak orang, termasuk sebagian tenaga kependidikan di Nias, menganggap seolah-olah yang ideal adalah jabatan paling tinggi, gaji paling besar, tetapi pekerjaan paling sedikit bahkan, kalau bisa, tidak bekerja. Kecenderungan ini amat berbahaya!

Pendidikan dalam masyarakat juga semakin memprihatinkan! Warga masyarakat yang betul-betul memiliki dan memelihara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan linguistis, dan kecerdasan spiritual cenderung semakin langka. Yang patut diteladani makin langka. Bagaimana diteladani wong sekarang ini malah ada guru, tentara, polisi, dan tokoh masyarakat menipu, memeras, dan/atau berjudi, apalagi di Harembale?

Perlu dicatat bahwa pengaruh lingkungan bisa berpengaruh besar terhadap anak-anak! Di Nias ada ungkapan: NA FAO ITA BA ZOWÖHÖ-WÖHÖ, OWÖHÖ-WÖHÖ ITA; NA FAO ITA BA ZATUATUA, ATAUATUA ITA.

Pendidikan dalam keluarga juga tampak semakin tidak membesarkan hati. Bagaimana anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi manusia cerdas (dalam hal intelektualitas, emosi, bahasa, dan spiritualitas), kalau sang anak lebih sering menyaksikan orangtuanya (terutama ayahnya), pamannya, kakeknya, dan/atau anggota keluarganya yang lain berjudi (ere mai), merampok, manga/mame sölö-sölö, maminiö ame'ela Migu, bertengkar/berkelahi, mabuk, mau menang sendiri, dan lain-lain? Ingat, GAE NIHA, I'OHI DANÖTANÖNIA!


5. Menurut Bapak apa yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Nias untuk meningkatkan pendidikannya?

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah perlu, antara lain, peningkatan kesejahteraan/gaji tenaga kependidikan dan tenaga non-kependidikan!

Ketika saya diwawancarai oleh wartawati koran Haluan di Padang tahun lalu mengenai kualitas pendidikan di Sumatera Barat, saya sempat mengatakan bahwa kesejahteraan tenaga kependidikan dan tenaga non-kependidikan perlu ditingkatkan. Minimal gaji seorang guru Rp 2.500.000 per bulan sehingga membuat lebih banyak orang cerdas yang tertarik untuk menjadi guru. Kalau banyak yang tertarik, seleksi penerimaan guru bisa lebih ketat. Yang diterima jadi guru, misalnya, tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga (dan ini amat penting!) cerdas untuk membuat orang (murid) cerdas.

Setelah diterima dan bekerja, para tenaga kependidikan dan tenaga non-kependidikan ini dievaluasi secara objektif, terpadu dan menyeluruh, berkesinambungan, dan profesional. Hasil evaluasi dari berbagai sumber dan dapat dipertanggungjawabkan tadi diharapkan bisa menunjukkan mana yang sangat baik dan patut diberi penghargaan, mana yang baik dan perlu dipertahankan (dan bila mungkin ditingkatkan) prestasinya, mana yang prestasinya perlu/harus ditingkatkan, mana yang harus diberi sanksi (peringatan/penurunan gaji dan/atau pangkat/pemberhentian sementara/pensiun dini/pemberhentian tidak dengan hormat, dsb).

Orangtua/wali murid dan Masyarakat, baik secara bersama maupun sendiri perlu memberi bantuan/dukungan/dorongan tepat dan penuh kepada pihak sekolah. Bantuan/dukungan yang diberikan kepada sekolah dapat langsung berupa usul/saran, tenaga, dan/atau materi (antara lain dana).

Bantuan/dukungan/dorongan bisa diberikan kepada anak. Ini berarti bahwa pihak sekolah, keluarga/orangtua/wali murid, dan masyarakat harus bekerjasama secara maksimal, aktif, terpadu, dan berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Semua warga masyarakat dari segala lapisan dan golongan perlu disadarkan bahwa tujuan akhir pendidikan bukan untuk "memburu" jabatan tinggi dan/atau gaji besar. Masyarakat perlu diyakinkan bahwa anak perlu dididik supaya dia cerdas dan bahwa mendidik anak menjadi cerdas merupakan tanggung jawab bersama sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Pihak DEPDIKNAS (dinas kabupaten-kecamatan, termasuk di antaranya para Pengawas), DINAS PARIWISATA DAN BUDAYA, GEREJA (dari resor hingga osali/losu, dari dekanat hingga stasi), PEMERINTAH DAERAH (dari kabupaten hingga RT), POLRI (dari POLRES hingga POLSEK/Pos Pembantu), TNI (dari KODIM hingga KORAMIL/BABINSA), PERGURUAN TINGGI, LSM, dan TOKOH/WARGA masyarakat yang berpengaruh seharusnya bisa menjadi contoh dan pelopor aktif untuk menumbuhkembangkan kesadaran dan peran aktif sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mewujudkan pendidikan (yang lebih) berkualitas.


6. Menurut pengamatan Bapak, apakah masyarakat Nias mencintai pendidikan?

Tampaknya masih banyak warga masyarakat Nias "menyalahgunakan" prinsip ekonomi, dengan pengorbanan sekecil-kecilnya mengharapkan hasil sebesar-besarnya; sekolah sebentar langsung dapat ijazah dan pekerjaan dengan jabatan tinggi dan gaji besar.

Kalau pun, misalnya, anak dan orangtuanya menyadari bahwa ada orang lain yang lebih mampu, mereka justru "berjuang mempengaruhi" Pengambil keputusan. Kalau perlu utang di mana-mana! Ada kesan seolah-olah egoisme (selfishness) begitu menguasai mereka. Celakanya, mereka TIDAK malu dan tidak merasa berdosa "BERJUANG".


7. Sebagai seorang ahli bahasa, apa yang Bapak ingin lakukan dan sumbangkan untuk kemajuan pendidikan di Nias, apa visi dan misinya dan bagaimana cara mencapainya?

Pendokumentasian dan pelestarian bahasa, sastra, dan budaya Nias amat penting. Untuk melakukan hal itu diperlukan serangkaian penelitian yang mendalam. Saya bisa berperan dalam penelitian itu.

Salah satu penelitian yang tampaknya perlu dilakukan segera adalah penelitian yang bermuara pada suatu PEMBAKUAN EJAAN BAHASA NIAS. Hasil penelitian yang dilakukan, misalnya, bisa dibahas dalam suatu KONGRES BAHASA NIAS. Hasil penelitian dan Kongres itu bisa menjadi bahan untuk penyusunan BUKU AJAR BAHASA NIAS. Hal yang sama perlu dilakukan terhadap Sastra dan Budaya Nias.

Khusus mengenai bahasa, saya sudah berbicara dengan beberapa orang, sedangkan mengenai budaya dan sastra Nias pernah saya kemukakan melalui sebuah tulisan di Media Warisan yang diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Nias, tetapi saya kurang puas dengan tanggapan yang saya terima.

Sebagai contoh, ketika saya mengusulkan agar diadakan Seminar mengenai Bahasa Nias di IKIP Gunugsitoli menjelang Dr. Lea Brown, M.A. (yang menulis disertasi A Grammar of Nias Selatan), datang ke Nias beberapa tahun lalu, tidak ditanggapi.

Padahal, waktu itu Doktor Lea Brown sudah saya kontak dan Beliau telah menyatakan kepada saya bahwa Beliau bersedia menjadi Pembicara.
Saya senang kalau Bahasa, Sastra dan Budaya Nias bisa diajarkan pada Jurusan Bahasa Inggris dan Jurusan Bahasa Indonesia (dan kalau bisa juga di Jurusan lain) di IKIP Gunungsitoli, apalagi setelah IKIP itu menjadi Universitas.

Melalui kuliah Bahasa, Sastra dan Budaya Nias, generasi muda diharapkan dapat memperoleh manfaat positif, baik secara ekonomis, psikologis, sosial, maupun secara kultural. Hasilnya diharapkan bisa mendukung, antara lain, kemajuan pariwisata Nias, kemajuan pendidikan.

Karena alasan yang sama, menurut hemat saya, Bahasa, Sastra dan Budaya Nias perlu diajarkan pada Sekolah Menengah (SMA dan yang sederajat dan SMP dan yang sederajat) dan Sekolah Dasar (SD dan yang sederajat), bahkan pada TK.

Saya menyadari bahwa tidak mudah mewujudkan hal-hal tersebut di atas. Diperlukan sekurang-kurangnya tiga hal untuk mewujudkannya: (1) SDM yang memadai untuk melakukannya, antara lain, penelitian dan alisis mendalam dan sahih; (2) DANA untuk membiayai perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, sampai pendokumentasian dan sosialisasi atau pemasyarakatan hasil dan pelaksanaan tindak-lanjut; dan (3) DUKUNGAN dari berbagai pihak terkait.

Saya menyadari bahwa SDM paling penting. Oleh karena itu, saya berusaha agar bisa melanjutkan studi ke Program S3 (meskipun sampai detik ini belum diizinkan oleh pimpinan), sambil melakukan hal-hal yang bisa dilakukan sekarang. Ini bisa dilanjutkan dengan pendirian suatu lembaga atau apa pun namanya. Mungkin semacam Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa-Sastra-Budaya dan Pendidikan Nias. Melalui lembaga ini kerjasama dalam hal SDM, DANA, dan PIHAK terkait diharapkan bisa dilakukan.

Sementara itu belum bisa diwujudkan, saya melakukan hal-hal kecil. Pertama, saya berusaha menyadarkan masyarakat beberapa desa di Nias, baik secara formal maupun secara informal, agar mereka mau dan mampu berpikir, bersikap dan bertindak cerdas (secara intelektual, secara emosional, secara linguistis, secara spiritual).

Kedua, saya mendorong anak-anak dan orangtua untuk memprioritaskan pendidikan anak. Saya berusaha meyakinkan mereka bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama sekolah, keluarga, dan masyarakat. Untuk itu, antara lain, anak yang rajin, cerdas, tidak nakal dan tidak jahat, tetapi sama sekali tidak mampu dari segi ekonomi, diusahakan dibantu meskipun tidak banyak.

Saya bersedia menjadi anggota Forum Masyarakat Peduli Museum, Yayasan Pusaka Nias, juga sebagai wujud kepedulian saya terhadap Nias. Saya datang atas biaya sendiri dari Padang ke Gunungsitoli ketika Forum itu dikukuhkan oleh Bupati Nias pada 27 Mei 2004 dan sempat berbicara secara informal dengan beberapa orang/pejabat/tokoh dan mengajukan beberapa usul/saran.

Saya berharap akan ada Forum Peduli Bahasa, Sastra dan Budaya Nias dan Forum Peduli Pendidikan Nias, yang masing-masing beranggotakan orang-orang dari berbagai lapisan dan golongan serta sungguh mau dan mampu berbuat sesuatu demi kemajuan Nias. Apakah semua ini akan terwujud? Tergantung pada beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas.


8. Secara spesifik bagaiamana Bapak mewujudkan sebuah Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa-Sastra-Budaya dan Pendidikan Nias. Apakah ada langkah-langkah yang telah dilakukan?

Sebagaimana saya telah kemukakan sebelumnya, TIDAK mudah mewujudkan sebuah Pusat penelitian dan Pengembangan Bahasa-Sastra-Budaya dan Pendidikan Nias, atau apa pun namanya. Meskipun lingkupnya dipersempit menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa Nias, tetap tidak mudah untuk direalisasikan.

Untuk merealisasikan "sarana/prasarana" untuk menyumbangkan sesuatu untuk NIAS itu diperlukan sekurang-kurangnya 3 hal penting: SDM, DANA, dan WAKTU yang memadai. Bantuan/dukungan dari berbagai pihak terkait juga penting. Harus saya akui bahwa sampai saat ini, saya belum memiliki (secara memadai) ketiga komponen penting ini! Dari segi SDM, saya masih perlu meningkatkan kualitas dan kualifikasi diri, dan melakukan pendekatan dan berkomunikasi dengan beberapa ahli, terutama di bidang bahasa. Dalam hal dana pun belum ada jalan keluar (yang pasti dan memadai).

Saya sudah melakukan pembicaraan informal dengan sejumlah orang, tetapi masih ada beberapa kendala. Waktu juga tidak begitu menggembirakan pada saat ini. Saya berada di sekolah dari pukul delapan sampai pukul 18.15 wib (dari hari Senin hingga Jumat). Hanya hari Sabtu yang dari pukul 8.00 hingga pukul 12.45 wib, ini pun kalau tidak ada rapat, seminar atau acara lain.

Harus diakui bahwa SDM dan DANA merupakan masalah utama dalam (hampir) semua hal yang kita ingin wujudkan! Kalau tahun depan saya diizinkan untuk mengikuti Program S3, baru sebagian kecil masalah SDM teratasi, karena tidak mungkin semua dikerjakan sendiri. Apalagi kalau masih tidak diizinkan!

Sarana dan prasarana yang diperlukan juga membutuhkan dana, sedangkan dari segi ekonomi saya TIDAK mampu. Untuk membiayai 3 anak saya dan 2 orang anak saudara saja saya susah, apalagi untuk menyediakan sarana/prasarana untuk yang diperlukan untuk membangun sebuah Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa-Sastra-Budaya dan Pendidikan Nias. Mungkin tahun 2010 baru bisa mulai bergerak secara resmi, kalau semua berjalan sebagaimana perkiraan saya saat ini. Demikianlah ulasan terakhir Bapak Ama Wise kepada NiasIsland.Com (Juliman Harefa).


RIWAYAT HIDUP

Data Pribadi

Nama: Wa'özisökhi Nazara
Tempat dan Tanggal Lahir: Sisobahili (Nias), 10 Mei 1963
Jenis Kelamin: Laki-laki
Alamat Rumah: Taman Banuaran Indah Blok P/1
RT 18 RW 04 Kel. Banuaran
Kec. Lubuk Begalung Kodya Padang
E-mail: Amawise@hotmail.com
Telp. (0751) 64647
Nama Istri: Margareta Suprapti
Nama Anak: Wisewarna Nazara, Wiselina Nazara, Wiseputra Nazara


Pendidikan

Jan. 1971 - Des.1977 SD Negeri 071142 Laowöwaga
Jan. 1977- Mei 1981 SMP Negeri (sekarang SLTP Negeri 1) Lahewa
Juli 1981- Mei 1984 SMA Negeri (sekarang SMU Negeri 1)
Sept. 1984 - July 1987 Program Studi Diploma (D3) Bahasa Inggris IKIP Gunungsitoli (menyelesaikan 114 sks, tidak tamat karena ditugasi melanjutkan studi ke IKIP Sadhar)
Sept. 1987 - Juli 1992 Jurusan Bahasa Inggris (S1) IKIP Sanata Dharma Yogyakarta
Sept. 1998- Jan. 2001 Program Studi Magister Linguistik (S2) Universitas Udayana, Denpasar


Beasiswa/Bantuan Yang Pernah Diterima

1. Beasiswa Pendayagunaan Bakat dan Prestasi dari Departemen P dan K (sekarang Depdiknas)
2. Beasiswa Supersemar
3. Bantuan Belajar dari IKIP Gunungsitoli
4. Beasiswa dari Volunteers In Asia (V.I.A.)
5. Beasiswa Sadhar I (dari KWI)
6. Beasiswa Sadhar II (dari KWI)
7. Beasiswa Ikatan Dinas dari Yayasan Prayoga
8. Beasiswa dari Yayasan Aji Dharma Bhakti Jakarta
9. Beberapa bantuan pribadi dari beberapa orang asing
Catatan: Karena tidak mendapat izin dari Pimpinan, saya tidak jadi diberikan Beasiswa Program Pascasarjana untuk melanjutkan studi ke Program S3 pada tahun ini.


Prestasi Belajar:
1. Ranking I, II, III di SD Negeri Laowöwaga
2. Ranking I, II, III di SMP Negeri Lahewa (Sejak Semester II sampai semester VI)
3. Ranking II (lokal) di SMA Negeri Gunungsitoli
4. Ranking I (Sejak semester I sampai semester VI) Program D3 Jurusan Bahasa Inggris IKIP Gunungsitoli
5. Ranking III (lokal) Jurusan Jurusan Bahasa Inggris IKIP Sadhar
6. Ranking II di Linguistik Mikro Universitas Udayana
7. Ranking III di Linguistik Mikro dan Makro Universitas Udayana


Pengalaman Kerja

1993 - sekarang Pengajar di Program D3 Bahasa Inggris dan Program S1 Bahasa dan Sastra Inggris STBA Prayoga Padang
1998 - Jan.2001 Pengajar di Program D1 Jurusan Bahasa Inggris Pariwisata ILC Anugerah Denpasar
1998 - Jan.2001 Pengajar di Kursus Bahasa Inggris ILC Anugerah Denpasar
1995 Penatar Bahasa Inggris untuk Dosen PTS se-Kopertis Wilayah X (Sumbar, Riau, Jambi)
1992 - 1993 Pengajar di Program S1 Jurusan Bahasa Inggris dan Jurusan Sejarah IKIP (sekarang Universitas) Sanata Dharma Yogyakarta
1992 - 1993 Pengajar Bahasa Inggris di Alexander Institute Yogyakarta
1992 - 1993 Pengajar di Regency English School Solo Jawa Tengah
1991 - 1993 Pengajar di Regency English School Yogyakarta
1990 - 1993 Pengajar di Royal English Course Yogyakarta
1985 - 1987 Pengajar Bahasa Inggris di SMA BNKP Gunungsitoli
1985 - 1987 Pengajar Bahasa Inggris di SMA Kampus IKIP Gunungsitoli
1985 - 1987 Asisten Mahasiswa untuk mata kuliah Bahasa Inggris di IKIP Gunungsitoli
1985 - 1986 Pengajar Bahasa Inggris di ST Negeri Gunungsitoli


Seminar/Lokakarya/Penataran yang Pernah Diikuti (selektif)

2004 Lokakarya Metode penelitian Bahasa, di Padang
2003 Seminar Peranan Bahasa dalam Pembentukan SDM Berkualias, di Padang
2002 Kongres Linguistik Nasional X, di Denpasar
2002 Lokakarya nasional Kurikulum Inti Sekolah Tinggi Bahasa Asing, di Jakarta
2002 Pertemuan Ilmiah Regional Masyarakat Linguistik Indonesia, di Padang
2001 Penataran Tenaga Perencana PTS, di Kopertis Wilayah X
2001 Lokakarya dan Pelatihan Penyusunan Renstra dan Project Implementation Plan
untuk Perguruang Tinggi, di Kopertis Wilayah X
2001 Seminar National Bahasa dan Budaya Austronesia II: Ketahanan dan Perubahannya Memasuki Abad ke-21, di Universitas Udayana
2000 Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Lokal Nusantara, di Universitas Udayana
1999 Pertemuan Ilmiah Regional Masyarakat Linguistik Indonesia , di Denpasar
1997 Penataran Dosen Bidang Ilmu Sastra dan Filsafat, di Kopertis Wilayah X
1995 Penataran dan Lokakarya Pembinaan Kemampuan Dosen Dalam Penelitian di UNAND oleh Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud bekerjasama dengan Universitas Andalas
1995 Workshop on Language Laboratory, di IKIP Padang oleh The British Council
1994 Workshop on Communicative Teaching, di Universitas Andalas oleh The British Council
1994 Penataran Metode Penelitian, di Kopertis Wilayah X
1993 Seminar Nasional Teaching English as a Foreign Language in Indonesia (TEFLIN),
di IKIP Padang


Afiliasi/Organisasi/Parpol

1. Senat Mahasiswa (Wakil koordinator bidang Pendidikan, penelitian dan kreatifitas mahasiswa, ketika masih kuliah)
2. Masyarakat Linguistik Indonesia (Anggota)
3. PSKP Santo Yusuf (Anggota Majelis Permusyawaratan Anggota)
4. Ikatan Mahasiswa Nias Sumatera Barat (Penasihat)
5. PDKB Indonesia Cabang Kota Padang (Koordinator Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM, atas permintaan Sekretaris DPD PDKB Indonesia Provinsi Sumatera Barat)
6. PDS (Wakil Koordinator Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM, atas permintaan Wakil Ketua DPC PDS Kota Padang)
7. Asia EFL (Anggota)

Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

©2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000