NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  Haniha Ira, Hadia Niwa'öra?
 

Wed, 23 December 2009 08:59:55
Suster Klara dan Rumah Inap Kasihnya
Noverlina bernyanyi dengan nada suara naik turun sesukanya dan lafalnya tak jelas. Selesai bernyanyi, ia memeluk ”ibunya”. Meski berusia tiga tahun, ia belum bi ...

Ref: Nugroho F Yudho (Kompas, 22 Desember 2009)

  • 

Ama Rita Zamasi Tetap Mencintai NIAS

  • 

Ir. Boy Olifu Gea di Kebun Tanaman Hiasnya => Click to enlarge!Ir. Boy Olifu Gea Pengusaha Tanaman Hias

  • 

Binahati Baeha, SH dengan Istri, Lenny Trisnadi. => Click to enlarge!Tuhanlah yang Telah Menggariskan Jalan Hidupku

  • 

Riahardy Mendröfa => Click to enlarge!Antara Kampung Halaman, Foto, dan Instalasi

  • 

Kanserina Esthera Dachi => Click to enlarge!Keteguhan Hati Dokter Kanserina Esthera Dachi

  • 

Susanto dan Istri, Hartati Zebua. => Click to enlarge!Susanto, Pelopor Bisnis Restoran Pinggir Pantai di Pulau Nias

  • 

Yacintha Gulö => Click to enlarge!Yacintha Gulö, Putri Mandrehe yang "Merawat Amerika"

  • 

Agus Hardian Mendröfa di salah satu Pojok Miga Beach Hotel => Click to enlarge!Talifusöda Agus Hardian Mendröfa, Mantan Wakil Bupati Nias

  • 

Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA => Click to enlarge!Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA, Wakil Bupati Kotabaru

  • 

Dubes RI Piter Taruyu Vau dan Ibu => Click to enlarge!Dari Nias ke Brasil sebagai DUTA BESAR INDONESIA UNTUK BRASIL

  • 

Magdalena Sanora Warnihati Fau => Click to enlarge!Onie Fau dan Kecerdasan Wanita Nias

  Index  

  Last Commented
 
 

Mon, 26 June 2017 13:21:49 | marselina wau | saonigeho km.1 Teluk dalam | 114.125.17.26
PABRIK PENGOLAHAN SAMPAH DI PULAU NIAS2 Responses

 

Tue, 20 June 2017 12:37:35 | wenieli daeli | saat ini di tinggal di batam. | 36.77.184.239
LEBIH JAUH DENGAN FIRMAN JAYA DAELI, SH (5):Kami Sadar Betul Masih Ada Kekurangan PDIP3 Responses

 

Fri, 16 June 2017 09:21:30 | warisman zega | Kampung Seraya No. 09 Rt 04/rw 02 Batam | 114.125.28.99
TERSEDIA BUKU "AMAEDOLA, HOHO, MANO-MANO DAN OLOLA MBAWI"6 Responses

 

Mon, 12 June 2017 16:09:07 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.ulunoyo nias selatan | 114.124.170.89
Presiden Jokowi Minta Perikanan dan Pariwisata di Nias Dikembangkan3 Responses

 

Sat, 27 May 2017 22:01:03 | hetiaro buulolo | desa amorosa kec.ulunoyo nias selatan | 114.124.241.28
Proyek Pembangunan Tower Listrik di Nias Sengaja Dihentikan8 Responses

 

Fri, 19 May 2017 14:09:08 | Alwin Lase | Hiligodu Ombolata, Nias Tengah Street | 114.125.9.138
Suster Klara dan Rumah Inap Kasihnya30 Responses

 

Fri, 12 May 2017 16:08:08 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan. | 114.124.181.119
IKATAN KELUARGA NIAS di BALI (IKNB)11 Responses

 

2004-04-23 16:45:45
Deliani Lase, Putri Nias yang Ulet
Jakarta (NiasIsland.Com)

Deliani Lase (nomor 2 dari kiri) di Tengah-Tengah Suaminya (Gino Strobbe)  dan Kedua Anaknya => Click to enlarge!Mungkin namanya tidak asing bagi pengunjung NiasIsland.Com. Dia adalah salah seorang yang termasuk rajin mengemukakan gagasannya melalui Kolom Kese-Kese. Dia juga yang baru-baru ini telah mengirim kita "ole-ole" dari Belgia, yaitu beberapa foto objek wisata di Kecamatan Afulu.

Deliani Lase adalah salah seorang Wanita Nias yang ulet, dan juga memiliki wawasan luas dikarenakan pengalaman merantau jauh dari Nias. Wanita kelahiran 23 Desember 1978 di Desa Hilikara, Kecamatan Lehewa ini sangat bersemangat dalam mendiskusikan berbagai hal yang berhubungan dengan Daerahnya. Dia menikah dengan Gino Strobbe, kebangsaan Belgia, tahun 1996 dan sekarang telah dikarunia dua anak, 1 putra umur 7 tahun dan 1 putri umur 4 tahun.

Dia sangat bersemangat untuk membicarakan upaya agar sifat-sifat orang Nias yang jelek dapat hilang atau berkurang. Hal ini bisa dipahami karena Deliana dan keluarganya telah mengalami langsung akibat dari sifat-sifat orang Nias tersebut. Dia memang tidak dendam dan masih bangga sebagai putri Nias, namun dia terbeban supaya orang Nias dapat meninggalkan sifat-sifat yang jelek. Jawabannya terhadap berbagai pertanyaan NiasIsland.Com juga sangat terus terang dan polos tanpa berusaha menutup-nutupi apa yang pernah dialaminya.

Putri Lase ini pernah tinggal selama 7 tahun di Pekanbaru karena mengikuti suaminya yang bekerja di PT RAPP dan sejak 3 Maret 2003 berdomisili di Belgia Antwerpen. Untuk mengenal lebih dekat dengan Putri Nias yang ulet ini, silakan ikuti hasil wawancara jarak jauh kami berikut ini:


1. Bisa diceritakan secara singkat proses pernikahan anda dengan orang Belgia, latar belakang dan tantangannya. Maaf, ini agak pribadi namun ini penting karena kebanyakan orang tua di Nias masih sulit menerima bila anaknya (khusus wanita) menikah dengan orang di luar Nias.

Kami (saya bersama orang tua) tinggal di Medan 11 tahun, dan saya bekerja di Taman Srideli Mesjid Raya, sebagai pelayan. Suatu saat Gino Strobbe (nama suami saya sekarang) singgah untuk makan dan minum di tempat saya bekerja. Saat itu dia tertarik sama saya dan menanyakan informasi tentang saya pada teman kerja. Kemudian teman-teman memanggil saya, dan seterusnya kami berkenalan.

Seterusnya dia bertanya, apakah kamu mau menikah sama saya kalau aku datang melamar kamu? Tanpa sadar, saya menjawab silakan datang ke rumah, kalau Bapak (orang tua) saya bilang baik maka kamu boleh menikahi saya. Dia jawab, setelah kembali dari Teluk Dalam saya berjanji untuk datang ke rumah orang tua kamu.

Waktu itu Gino Strobbe berlibur 3 bulan di Indonesia. Dia ke Sulawesi dan juga keliling pulau-pulau sekitar Sulawesi. Dari sulawesi dia ke Teluk Dalam melalui Medan selama satu malam. Di situlah kami berkenalan.

Saat dia datang melamar, orang tua saya menerima dia dengan baik karena dia menilai bahwa Gino dapat memahami sebagaian adat Nias. Jadi pernikahan kami dilaksanakan pada bulan Juli 1996.



2. Kelihatanya proses persetujuan orang tua anda tidak berbelit-belit. Bisa dijelaskan mengapa demikian?

Sebenarnya saya sangat tidak paham dengan orang tua saya. Saat saya dijemput di tempat kerja, saya langsung membicarakan sama orang tua saya, bahwa ada orang Belgia yang mau datang melamar. Tapi dari wajahnya kelihatan dia tidak percaya, dia merasa anak mereka paling jelek. Siapa yang mau menikah sama kamu yang tidak begitu tinggi pendidikan? Rasanya mereka tidak begitu mempercayai bahwa Gino akan melamar saya.

Tapi saya bicara sama orang tua saya, saya punya perasaan bahwa orang Belgia itu akan datang. Saya mengatakan sama orang tua saya, mama dan bapak, tolong kalau Gino benar datang jangan banyak bicara sebab saya tidak mau menikah dengan siapapun. Kenapa saya bilang begitu supaya orang yang datang jauh-jauh melamar saya, tidak kecewa dan mengharapkan.

Saat itu orang tua saya janji dan mau mendengar pendapat saya. Tetapi pada saat Gino datang di rumah, tiba-tiba dari mulut bapak saya keluar kalimat, kalau kamu sanggup bayar uang jujuran Rp. 10.000.000 kamu boleh menikah sama anak saya. Gino menjawab ok saya kasih setengah besok pagi untuk urus baju deli dan pesta, juga dengan paspornya.

Mendengar itu saya menangis. Saya katakan kenapa kalian tidak mau mendengar pendapat anaknya, kenapa kalian ingkar janji sama saya. Begitulah saya bertanya sama orang tua saya. Kemudian saya bilang baiklah kalau kalian memang berpikiran begini apa boleh buat. Saya hanya mengharap Gino ini baik sama saya nanti, sebab saya tidak tau dia itu siapa dan dia anak siapa, saya tidak tahu.

Setelah besok paginya sebelum Gino tiba, untuk mengantar uang jujurannya, tiba-tiba bapak saya merasa bersalah. Dia bicara sama saya, saya akan bicara sama Gino nanti bahwa kamu tidak jadi menikah sama anak saya. Namun saya katakan, apa pun yang terjadi bapak tidak boleh lagi cabut yang sudah keluar dari mulut bapak. Mendengar itu, Bapak sangat marah dan dia bilang, kamu anak yang tidak mau menghormati orang tua, saya tidak perduli kalau kita sudah janji sama Gino. Saya bilang pokoknya kalau kalian mau hidup saya berjalan bagus, saya minta sekali ini saja coba dengar permintaan saya yang terakhir, jangan terus kalian pikir kalian yang paling tahu bagaimana hidup di Dunia ini.

Begitulah ceritanya sampai kami bisa menikah.

Gino juga yang cari tau semua informasi tentang pengurusan surat-surat pernikahan kami. Memang dia orang yang punya niat baik. Segala surat-surat dan prosedur dia urus melalui kosultan Belgia di Medan.

Melihat pengalamanku ini, saya mau agar orang tua mencoba kasih kesempatan untuk anak-anaknya yang punya pikiran yang lain. Kalau anak punya pendapat sendiri, jangan langsung dimarahin, coba dengar dulu apa pendapatnya.



3. Setelah merantau jauh, apa yang bisa disimpulkan tentang cara hidup atau pandangan tentang kehidupan wanita Nias? Ada yang perlu dirubah?

Menurut saya, wanita nias tidak usah terlalu dikurung (dibatasi). Maksud saya, banyak orang tua yang tidak memperbolehkan anak ceweknya keluar rumah. Jangan dibeda-bedain anak pria dan wanita.



4. Apakah anda bekerja juga?

Saya bekerja sebagai Guru Aerobik dan juga bekerja di sebuah Restoran Indonesia di Belgia.



5. Ternyata anda termasuk wanita sibuk juga. Apakah tidak mengalami kendala berkomunikasi dengan masyarakat setempat, mengingat kultur yang berbeda? Bagaimana juga anda membagi waktu dengan keluarga?

Saya sangat senang, sebab di Belgia saya diterima dengan baik, mereka tidak mempunyai pikiran negatif tentang saya, justru mereka malah memberi dorongan kepada saya, dan juga saling berbagi pikiran, dan juga mereka banyak sekali ingin tau bagaimana Nias itu. Dengan bangga saya terus menceritakan tentang Nias. Saya juga ikut Ikatan Sosial di Belgia. Di sekolah itu banyak sekali orang dari mana-mana! Pertama saya juga pikir (sebelumnya) Nias itu sangat miskin, tetapi semenjak saya banyak lihat orang yang lebih miskin itu, disitulah saya sadar sebenarnya nias bisa maju kalau orangnya bisa merubah pola pikiran yang jelek.

Saya juga sudah ikut sekolah Bahasa Belanda, jadi saya tidak punya masalah untuk berkomunikasi. Sampai sekarang saya masih sekolah untuk belajar bahasa Belanda!

Tentang adat di Belgia sebenarnya tidak begitu susah, yang penting kita tahu bagaimana beradaptasi. Saya juga tidak mau menghilangkan prinsip saya tentang adat Nias, justru saya memperlihatkan bahwa saya sangatlah berbeda dengan adat mereka. Karena kita saling mengerti dan juga saling menghormati, makanya saya tidak pernah ada masalah di Belgia.

Tentang membagi waktu untuk keluarga, sebenarnya tidak susah kalau suami istri saling percaya dan saling mendukung. Karena bagaimanapun yang kita cari adalah bagaimana kularga bisa berjalan dengan baik. Dengan begitu saya tidak punya masalah membagi waktu untuk keluargaku.

Di Belgia juga semua anak sekolah mulai 8:30 sampai 15:30, jadi pada saat saya antar anak ke sekolah saya baru pergi kerja, sebab banyak juga kerja disini mulai dari 9:00 sampai 15:00 sore hari, terserah kita bisa pilih waktu untuk kerja.

Kalau saya kerja di restauran, kebanyakan disini restauran buka sore hari, suami saya lah yang jaga anak dan juga kerjakan pekerjaan rumah. Pokoknya, kita kerjakan bersama-sama. Saya juga mengharap keluarga Nias bisa (melakukan) seperti ini.



6. Sekarang, suami anda bekerja dimana?

Suami saya sebagai Automation Specialist, program PLC.



7. Bagaimana pandangan suami anda dengan Pulau Nias?

Pendapat suami saya, Nias itu sangat bagus dan indah. Kalau kita berusaha Nias bisa maju, begitu dia bilang. Tetapi di balik itu, dia sangat sedih karena masih banyak orang Nias yang pikirannya belum begitu luas. Contohnya, kalau kita pulang kampung dan singgah di Gunung Sitoli, banyak sekali tukang becak yang menjerit (meneriakkan kami) dan sambil menghina kami. Dan sedihnya, bukan hanya tukang becak yang melakukannya, para ibu-ibu juga ikut-ikutan. Saya sangat tidak mengerti kenapa orang kita seperti itu. Karena itu, suami saya berpikir bahwa orang Nias tidak begitu bagus pemikirannya, mereka terlalu "liar" dan "tidak berpikir".



8. Apakah anda dan keluarga memiliki rencana untuk balik dan menetap di Nias, misalnya setelah pensiun?

Kita sempat punyak pikiran untuk pensiun di Nias, tetapi sepertinya tidak gampang. Sebab dengan prosedur (yang ada di) Indonesia sekarang ini, sangat susah bagi orang luar masuk ke Indonesia. Orang luar sekarang hanya boleh tinggal selama 31 hari, jadi kami pikir itu tidak mungkin.

Juga kita pernah punya pikiran mau bangun usaha di Nias, tetapi setelah suami saya sering ke Nias dia jadi tahu bahwa itu hanya untuk "membunuh diri" saja, sebab sifat orang kita tadi. Misalnya, kita sudah beli banyak tanah untuk buat usaha. Kemudian ada orang bertanya kenapa kamu beli pinggir pantai yang tidak ada isi (tidak produktif), hanya (berisi) batu besar-besar, dan kami jawab kita punya rencana untuk buat penginapan dan juga buat tambang udang. Belum-belum kita memulainya, tiba-tiba esoknya kita dapat satu ember tahi di depan rumah. Dan bukan hanya itu, mereka juga lempar racun di dalam sumur kami.

Saya tidak tahu kenapa ada orang yang berbuat seperti ini. Saya sangat sedih dan malu, kenapa orang kita bisa seperti ini. Saya pikir setelah pindah dari Hilikara mungkin bisa saya temukan sifat orang nias yang lebih baik, namun sifat jelek itu menyebar (merata) hampir di seluruh nias.

Begitulah pengalaman kami sekeluarga. Saya juga mau bilang, kapan-kapan suami saya mau bagi-bagi pikiran, tetapi untuk sekarang ini dia sangat sibuk.



9. Pengalaman di atas, sepertinya sangat membekas pada keluarga anda. Apakah anda dendam dengan masyarakat Nias? Atau malu dengan sifat orang Nias tersebut terlebih-lebih kepada suami, keluarga, dan teman-teman suami anda?

Perasaan saya tetang masyarakat Nias, dengan hati bersih, saya tidak ada dendam sedikitpun bagi mereka. Saya hanya terus mengharap dari hari-demi hari, supaya sifat itu harus hilang secepatnya, supaya kita bisa mencari cara bagaimana Nias bisa bagus sebab nias sangat kaya alam. Kita harus tahu bagaimana cara mengolahnya. Kita juga harus tahu sifat dedam itu sangat tidak membantu pulau nias, gara-gara itu banyak orang kita tidak bisa bekerja sama hanya karena sifat dendam tadi.

Walaupun banyak yang saya tidak suka dengan sifat orang Nias, tapi saya tetap tidak merasa malu. Saya hanya berkata sama suami saya bahwa setiap orang punya kekurangan. Pada saat mereka sadar bahwa sifat tersebut hanya untuk menghalangi jalan untuk maju, saya yakin suatu hari mereka akan sadar juga, itu lah harapanku. Saya tidak ada malu sedikitpun tentang Nias maupun sama suami, atau sama teman-teman, justru saya berbagi pendapat bagaimana supaya nias bisa bagus. Sebab orang di sini lebih luas pengetahuan tentang Dunia.



10. Menurut anda, apa yang perlu dilakukan secara konkrit untuk menghapus sifat buruk masyarakat kita?

Saya maunya setiap kepala desa atau pendeta membuat semacam rapat, untuk semua orang nias di setiap daerahnya masing-masing. Mereka harus mencoba cari jalan bagaimana untuk buang semua sifat jelek tadi, dan juga perlu diberi pengetahuan bagaimana supaya kita bisa bekerja sama. Saya mengharap kepala desa mau turun tangan untuk membantu masyarakat Nias, begitu juga dengan pendeta sendiri. Saya rasa ada kemungkinan sifat jelek tadi akan hilang kalau terus menerus di beri pengetahuan dan dorongan untuk penduduk Nias tersebut.

Ada juga orang iri hati di negara yang sudah maju, tetapi mereka menggunakan untuk lebih bekerja keras lagi, supaya dia bisa lebih maju dibandingkan dengan yang sudah maju tadi. Nah, saya pikir ini cara yang paling bagus, kita boleh iri tapi digunakan untuk maju, bukan untuk menghancurakan orang lain. Kalau semua orang nias punya prisip yang sama seperti di Belgia atau di negara lainnya, saya yakin kita akan maju.

Kalau ada orang yang maju di Nias cobalah yang lain mendukung. Sebab orang yang maju tadi, mungkin saja suatu dia punya rencana yang bisa saja membuat penduduk punya kerja. Seperti kalau ada yang punya perusahaan, mungkin pertama di mengolah sendiri, tetapi kalau orang nias tidak berusaha untuk menjatuhkan dia, pasti lama-lama perusahaan nya akan bertambah besar. Nah, pada saat itu dia pasti perlu bantuan dari penduduk, sehingga dengan begitu beberapa anak atau cucu mereka bisa bekerja.



11. Selain sifat buruk tersebut, adakah sebaliknya sifat baik orang Nias yang dapat dirasakan oleh suami anda sehingga anda pun bangga terhadap sifat tersebut?

Salah satu sifat yang saya banggakan adalah sifat dalam ikatan keluarga di Nias. Kakak dan adik rata-rata di pulau Nias, mereka sangat akrab dan juga saling membantu. Di negara-negara yang sudah maju, ikatan persaudaraan tidak begitu populer lagi, sebab mereka punya pendapat berbeda dan juga punya prinsip sangat kuat. Yang saya cerita ini bukan semuanya, masih ada juga yang sangat dekat sama sudaranya, tetapi sangat berbeda dengan yang ada di Nias.


12. Bisa diceritakan secara singkat biaya akses internet dari Belgia? Seberapa sering anda main internet karena di Indonesia masih cukup mahal.

Kita pakai internet yang sangat cepat, kita tidak melalui telpon. Kalau internet di rumah, dibayar setiap bulan 45.00 euro, kalau saya tidak salah setara dengan 450.000 rupiah, terserah mau dipakai berapa lama (tidak terbatas).


Begitulah hasil wawancara NiasIsland.Com dengan Deliani Lase. Marilah kita renungkan bersama untuk mengambil sisi positifnya sehingga kita pun bisa terus belajar dan terus memperbaiki diri demi kemajuan Nias tercinta (yh)

First|Previous    Next|Last

Pick Date
No Resp-Time Resp-by Address Email IP
1. Thu, 26 March 2009 01:07:19 Edukens manao Teluk dalam edukens_nias@yahoo.com 202.93.37.70
Wah saya orang teluk dalam sangat terharu dgn pekerjaan Tuhan itu. Selain anda kecewa dgn sifat-sifat orang nias tapi Tuhan tetap berkati hidup anda. Amin. Sister, boleh dong ceritakan tentang belgium itu dan kalau bisa sekaligus disertai dgn photo. Ini emailku di atas. Thanks. Gbu
2. Wed, 20 May 2009 21:15:28 dian apertemen mediterania kelapa gading puspita_sari_dian@yahoo.co.id 120.162.179.177
namaku dian aku sangat bangga dengan kajujuran kamu. apakah kamu tidak hawatir menulis tentang sifat sifat orang nias yang jelek. apakah anda penah mendapat email yang berisi makian dari orang nias? aku ingin tau bagaimana sifat laki laki belgia.trim
3. Thu, 21 May 2009 00:34:35 kristina koutersharia het Reekje 32 Holland nias7@hetnet.nl 84.84.230.112
Deli ,apakabarmu.........aku sekarang tau profilmu,hanya ngga ada waktu untuk bacanya...................janjian dgn suna kapan???????????beritahu yah...........
salam untuk Gino dan Kids.........................Chelsie en Riky.
4. Thu, 21 May 2009 12:30:49 haris seranx yhaga@ymail.com 125.160.221.98
yaahowu fefu,ikutan bro !!! Salam kenal dengan saudari Deliani Lase dan Keluarga di belgia sono,beberapa sifat orang nias khususnya yang tinggal dinias sana memang begitu, khususnya dipelosok2 tapi kita tak perlu khawatir dengan hal itu,mengapa???saya yakin dengan keadaan sekarang yang membuat saya merasa bangga akan kemajuan daerah nias pasca gempa,kesalahan bukan terletak pada keturunan sekarang,iya ngga!!!
5. Thu, 21 May 2009 14:11:31 Seniman Laowo Bandung carista6497@yahoo.com 114.121.18.60
Sdri Deliani Lase Yth,
Saya tertarik untuk memberikan sedikit opini. Terima kasih untuk kejujuran Anda dalam mengungkapkan pengalaman pribadi Anda. Tidak ada yang salah dengan cara itu. Namun saya percaya bahwa Anda memiliki wawasan yang luas dan logika yang lurus.
Contoh yang buruk dari "oknum" di Nias sebagai Premis Minor, tentu tidak dapat mewakili Premis mayor bahwa semua orang Nias demikian. Tahukah Anda berapa jumlah jiwa Ono Niha??? Banyak sekali.
Sebagai contoh, bila ada orang Belgia yang suka hidup serumah dengan pasangannya (Living Together) tanpa status pernikahan yang jelas, apakah boleh saya katakan bahwa Orang Belgia suka kumpul kebo??? Tentu tidak.
6. Thu, 21 May 2009 14:32:28 haris seranxs yhaga@ymail.com 125.160.198.141
to seniman laowo bandung
ngga nyambung..................+ thingking aje
7. Wed, 26 May 2010 10:55:01 itha jakarta ie_tha11@yahoo.com 202.77.101.231
hai.....

jujur, g bukan orang orang nias....

tapi g yakin suatu saat nanti g bakal jadi bagian dari orang nias,,,,

pas g baca cerita kamu diatas, sebenarnya g takut.

tapi ga semua orang nias kan.....
g yakin orang nias pasti bisa berubah lebih baik..... thanx
8. Thu, 26 January 2012 22:26:47 Yamon Gea S.Sos Batam y4mon@yahoo.com 125.165.120.46
Pernyataan saudari Lase diatas sangat menarik dan merupakan kejujuran yang tulus dari seorang perempuan Nias.........Kita harus mengakui memang pola pikir masyarakat kita di Nias masih seputar pernyataan saudari tadi,kita jangan munafik .....saya selaku pribadi dan orang Nias mengakui hal itu......Yang jadi tantangan bagi kita sekarang ini,bagaimana mengubah pola pikir masyarakat kita itu ke arah yang lebih baik dan positif demi kemajuan dirinya sendiri,masyarakat lingkungannya,dan terlebih-lebih untuk masyarakat Nias secara keseluruhan.
9. Fri, 27 January 2012 21:28:01 Tohu Buulolo Batusalawa-Nias Selatan boroexlazarus.buulolo@yahoo.co 210.79.217.14
Terimakasih banyak Ibu Lase,,,,,, Saya bangga dan termotivasi oleh cerita anda Bu...... Mudah-mudahan dari uraian cerita Ibu Lase diatas membawa perubahan untuk menjadi bahan pengoreksian diri bagi generasi Pemuda/i Pulau Nias pada masa yang akan datang.........

First|Previous    Next|Last

Number of records = 9
Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

©2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000