NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  Turia (News)
 

Tue, 21 February 2017 11:46:15
Nias Bisa Kembangkan Energi Terbarukan dari Laut
Semakin menurunnya cadangan minyak bumi dan bahan bakar sumber fosil lain, mengharuskan pemerintah menyiapkan energi terbarukan. Salah satunya pemanfaatan energ ...

  • 

Proyek Pembangunan Tower Listrik di Nias Sengaja Dihentikan

  • 

Masyarakat Nias Protes Program Presiden Dihentikan

  • 

JR Saragih Siap Promosikan Potensi Pariwisata Nias Selatan

  • 

Seorang PNS Kabupaten Nias Hilang di Medan

  • 

DPN RKIH Berharap Pembangunan Universitas Negeri Nias Dipercepat

  • 

Pemerintah Bidik Nias Destinasi Andalan Dongkrak Kunjungan Wisman

  • 

Gempa 5,5 SR Guncang Nias Selatan, Tidak Berpotensi Tsunami

  • 

Presiden Jokowi Minta Perikanan dan Pariwisata di Nias Dikembangkan

  • 

Presiden Jokowi di Nias (Foto: Iqbal/detikcom) => Click to enlarge!Jokowi: Moratorium Daerah Otonom Baru Akan Dibuka dengan Seleksi Ketat

  • 

Foto: Muhammad Iqbal/detikcom => Click to enlarge!Ini Upaya Jokowi Selesaikan Masalah Listrik dan Runway Bandara di Nias

  • 

Pembunuh 2 Petugas Pajak di Nias Segera Diadili

  Index  

  Last Commented
 
 

Thu, 23 March 2017 22:28:01 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan | 114.121.156.146
Editor Media Online Dipanggil Penyidik Poldasu6 Responses

 

Thu, 23 March 2017 09:22:31 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.Uluniyo Nias selatan | 114.121.154.67
Proyek Pembangunan Tower Listrik di Nias Sengaja Dihentikan4 Responses

 

Wed, 22 March 2017 13:13:51 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan. | 114.121.132.103
DPRD: Rencana Konversi Karet di Nias Dipertanyakan25 Responses

 

Tue, 21 March 2017 22:28:00 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan. | 114.121.132.103
KECAMATAN UMBUNASI NIAS SELATAN: KABUPATEN NIAS TIMUR YES, KABUPATEN GOMO NO26 Responses

 

Mon, 13 March 2017 09:42:26 | hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan. | 114.124.35.136
Masyarakat Nias Protes Program Presiden Dihentikan3 Responses

 

Tue, 07 March 2017 04:41:22 | Tema Adiputra Harefa | Jakarta | 114.121.152.66
Selamat kepada Tema Adiputra Harefa atas Raihan "Doctor of Ministry"14 Responses

 

Sat, 25 February 2017 19:35:59 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.lolomatua Nias selatan | 114.121.129.100
LAGI-LAGI SALAH SATU MASYARAKAT NIAS DI MEDAN-SUMUT TEWAS MENGENASKAN9 Responses

 

Tue, 21 February 2012 22:15:39
DPRD: Rencana Konversi Karet di Nias Dipertanyakan
Medan (Analisa)

Anggota DPRD Sumatera Utara Sudirman Halawa mempertanyakan tindakan pemerintah daerah Nias maupun provinsi yang terlihat akan mengarahkan petani mengonversi tanaman karetnya ke sawit.
"Laporan dari petani di Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan dan termasuk Gunung Sitoli, ada kesan warga diarahkan mengganti tanaman karetnya ke sawit. Petani diberi bibit sawit gratis dan rencana konversi itu mengkhawatirkan DPRD Sumut," katanya, di Medan, Minggu (19/2).

Kekhawatiran itu mengingat mengingat daerah Nias itu sejak dulu dikenal sebagai penghasil karet dan minyak nilam.

Bahkan sebagian besar warga daerah itu mengandalkan pendapatannya dari hasil kebun karetnya dan termasuk tanaman nilamnya.

"Belum pernah ada dikenal tanaman sawit di Nias dan kalau tiba-tiba disuruh konversi ke sawit apa hal itu tidak mengkhawatirkan," katanya.

Apalagi anjuran atau terkesan memaksa petani mengganti tanaman karetnya ke sawit itu tidak memiliki atau berdasarkan kajian ilmiah.

"Saya sebagai anggota DPRD Sumut dan berasal dari Nias akan mempertanyakan ke pemerintah Nias dan Sumut soal adanya kesan mengarahkan petani mengonversi tanaman karet ke sawit," katanya.

Ketua Kelompok Petani Karet Fanayama di Nias Selatan Restu Kurniawan mengakui adanya kesan pengarahan petani untuk mengonversi tanaman karet ke sawit.

"Banyak pohon bibit gratis sawit dibagikan ke warga Nias, tapi tidak tahu pasti apakah dari Dinas Perkebunan atau kelompok lain,"kata Sudirman yang anggota Fraksi Golkar DPRD Sumut itu.

Tetapi sejauh ini, kata dia, berdasarkan pengamatan, petani sebagian besar masih ragu mengganti tanaman karetnya ke sawit dengan alasan takut tidak berbuah sesuai yang diperkirakan.

Petani juga takut kehilangan pendapatan ditengah harga getah yang tidak stabil.

Harga getah karet di Nias, kata dia, masih di kisaran Rp12.500 - Rp16.000 per kg.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahan Karet Indonesia (Gapkindo) Edy Irwansyah mengakui, sejak dulu Nias menjadi salah satu pemasok utama karet ke pabrikan Sumut.

Dia juga mengakui, bahwa karet asal Nias termasuk memilkiki mutu bagus.

"Pabrikan banyak yang tertarik membeli getah petani dari Nias dan kalau Nias tidak menjadi sentra produksi karet lagi, maka pasokan karet ke Sumut semakin ketat dan itu mengancam kelangsungan ekspor golongan barang tersebut yang tercatat pemberi terbesar nomor dua setelah lemak dan minyak hewan/nabati di dalam penerimaan devisa Sumut setiap tahunnya," katanya. (Ant)

First|Previous     Next| Last

Pick Date
No Resp-Time Resp-by Address Email IP
1. Fri, 24 February 2012 13:44:26 Niha mbanua BawomataLuo benleader@ymail.com 180.214.233.79
Yahowu Fefu

Pulau Nias sejak dulu dikenal sebagai penghasil karet bahkan pendapatan kita 75% dari karet. saya rasa Kelapa Sawit tidak efektif kalau tersebar di Nias.
KELAPA SAWIT harus DITOLAK jika masuk di area Pulau NIAS, Saohagolo
2. Fri, 24 February 2012 14:20:35 Ok Suki Jakarta oksuki@yahoo.com 110.139.133.158
Coba sawit tanpa meninggalkan karet. Mana tahu sawit bebuah baik di Nias. Kalimantan Tengah merupakan propinsi yg tingkat pertumbuhan ekonominya tertinggi trakhir ini di Indonesia. Hasil tambang dan kelapa sawit adalah pendorong utama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di sana. Sangat cepat pengaruhnya terhadap ekonomi kemajuan ekonomi
3. Fri, 24 February 2012 22:17:48 petani nias nias tani_ns@yahoo.com 182.4.113.25
untuk pengembangan penanaman kelapa sawit di daerah kepulauan nias. sangat perlu kajian yang mendalam, dengan tidak perlu mengorbankan petani karet yang sudah jelas menjadi sumber utama matapencaharian petani nias.

sebagai bahan kajian untuk kelapa sawit.
1. buah kelapa sawit harus sudah di proses di pabrik pengolahan paling lama 3 jam setelah pemetikan, setelah itu rendemennya menurun, artinya kalau belum ada nanti pabrik kelapa sawit di p.nias maka tanaman kelapa sawit itu tidak punya nilai ekonomis, karna tidak mungkin hasil buah disini di angkut ke sebarang, sudah tidak menghasilkan lagi.
2.untuk mendirikan pabrik kelapasawit ukuran kecil saja, itu harus ada 5000 ha kelapasawit untuk memasok bahan beru layak didirikan.
3. dari 2 point itu aja di atas, belum lg kesesuaian syarat2 pertumbuhan, kayaknya sulit tanaman ini bisa berkembang di p. nias, masalahnya apa masih ada satu kawasan di daratan nias ini sampai 5000 ha. kalaupun ada pasti topografinya pegunungan, yang menyulitkan pengangkutan nantinya ke pabrik. ingat kelapa sawit terlambat di bawa ke pabrik hasilnya semakin menurun.
4. sekali lagi mohon kebijakan ini perlu pengkajian yang sangat dalam. terutama apa bisa dijamin apa ada investor nanti yang berani mendirikan pabriknya dgn kondisi yang kurang menguntungkan ini, kalau tidak jadi malapetaka buat petani nantinya, lumayan klo batangnya bisa dibuat kayu api, ini juga tidak...........
4. Sat, 25 February 2012 07:39:46 Soyo taio Lahewa Soyotaio@ymail.com 114.127.246.44
Di coba dulu talifusφ bbrp hektar jgn langsung di tolak..ok!!!
5. Sat, 25 February 2012 13:51:38 Adi Iskandar Jabotabek adi_iskandar75@yahoo.com 182.9.0.60
Saya gak habis pikir akal sehat anggota DPRD Sumut ini, kok kurang kerjaan mempertanyakan petani mau tanam apa kek, selama kebun itu miliknya (perkebunan inti rakyat), kita gak punya hak lah mempertanyakan itu. Hukum ekonomi permintaan penawaran secara tidak langsung sudah melekat kepada petani pemilik tanah dunk. Bandingkan harga CPO dengan Karet sangat jauh perbedaannya. Masa produksi Sawit jauh lebih lama dibandingkan karet. usia panen juga demikian. Selama tanahnya cocok untuk sawit juga, kenapa tidak dicoba, demi untuk peningkatan taraf ekonomi petani, dari pada mempertahankan karet, yang harganya terus merosot. apa mau nyumbang gajinya untuk ongkos produksi, hehehe.
6. Sat, 25 February 2012 15:31:51 pengamat ekonomi gunung sitoli hardiansyahzebua@yahoo.co.id 114.127.246.104
Pendapat diaras semuanya bagus,kalau menurut saya bukan persualan konversi karet ke sawit yg jadi masalah,akan tetapi bagaimana cara pemerintah daerah atau siapapun untuk meminimalisir monopoli perdagangan hasil bumi dari P.Nias seperti yg sekarang ini terjadi dimana para pedagang hasil bumi yg ada di G.Sitoli dan T.Dalam yg kaya pedagang tetapi petani/pekebun tetap miskin akibat harga yg dipermainkan terus oleh pedagang karena perdangangan di P:Nias dikuasai oleh segelintir orang dan tidak ada persaingan harga diantara para pedagang tersebut.sehingga kepada siapapun para petani menjual hasil buminya harga tetap sama.
Ini akibat dari setoran para pedagang (yg tidak bisa dibuktikan krn tidak ada kwitansi penerimaan) kepada para pejabat pemda yg ada di P.Nias sehingga mereka jadi tidak peduli dgn nasib masyarakat petani/pekebun/nelayan.
Persoalan yang sebenarnya yg harus jadi perhatian pemda adalah bagaimana cara untuk memotong biaya transportasi barang/jasa yg sangat tinggi dari P.Nias atau sebaliknya.
Ini saja dulu dan siilahkan dikembangkan.
7. Sun, 26 February 2012 20:07:37 Anggota Kerukunan Tani (HKTI) nias petani-nias@yahoo.com 182.4.102.152
konversi karet-sawit di bidang pertanian kep. nias itu sangatlah bagus.. bahkan py nialai tambah keekonomian pertanian daerah nias..sehingga p.nias py kemajuan ekonomi disektor pertanian.
hanya saja permasalahnya apakah petani nias itu sudah mengetahui akar keberhasilan konversi itu nantinya.
katakan itu ''berhasil'' apakah komoditas sawit nias itu mampu bersaing dgn komoditas sawit yg dari daerah lain spt yg di sumatra, kalimantan, dan sulawesi. spt yg diberitakan sebulan terakhir ini bahwa dunia bisnis international mempertanyakan kualitas CPO (Crude Palm Oil) indonesia yg dihasilkan dari sawit....

Saran Saya : Karet Tetap ada,,, karet jgn di ganti 100% sbab itu merup. hasil SDA salah satu andalan nias, dan Sekjen Gapkindo mengakui kualitas karet niastermasuk terbaik. tetapi tidak salah jika para petani nias mencoba keberhasilan pembibitan pertanian sawit.
8. Sun, 26 February 2012 21:33:36 Niha Sikoli Parungpanjang-bogor prima_mos@yahoo.com 118.97.95.21
Yaahowu fefu,seandainya betul konversi lahan petani dari karet ke komoditi kelapa sawit,pemda harus memikirkan dampaknya,baik secara sosial ekonomi maupun aspek lingkungan hidup, Saya sangat setuju komentar no.3 ,petani dari nias,bahwa ada syarat minimum untuk mendirikan pabrik kecil di daerah Nias,Untuk kita ketahui bahwa sebatang kelapa sawit membutuhkan air 9 liter per hari (sangat rakus air),bila di bandingkan dengan karet, karet salah satu tanaman yang bisa menyimpan dan mengeluarkan air,sehingga mendukung ketersediaan air tanah,Himbauan kita kepada Seluruh Pemda di Nias agar lebih baik di di fokuskan pada peremajaan karet,atau membangun pabrik pengolahan coklat, melakukan pengembangan coklat dengan melakukan budidaya yang baik dan benar,membangun agrowisata serta membangun pertanian organik dan terpadu.karena kalau kita tidak bijak dari sekarang maka kita akan menuai konflik sosial di masa mendatang, baik pedatang dengan masyarakat lokal maupun masyarakat dengan perusahaan maupun masyarakat dengan pemerintah setempat.Membangun Nias tanpa sawit masih bisa lah....
9. Mon, 27 February 2012 23:37:44 samahato buulolo / ama pais Nias Selatan sambul70@yahoo.com 39.209.102.3
Konversi Karet ke Sawit sah-sah saja apabila diterima oleh masyarakat Petani di Kepulauan Nias, namun yang perlu kita mendapatkan kejelasan tentang sumber anggarannya dan proses pengadaannya, supaya jangan hanya alasan untuk menggratiskan bibit sawit kepada masyarakat tetapi menjadi salah satu cara mendapatkan keuntungan besar dari keuangan negara terhadap oknum pemainnya.

Salah satu contoh Pengadaan Bibit Kelapa Sawit di Nias Selatan TA. 2011, menurut Kadis Pertanian & Kehutanan Ir. Ikhtiar Duha bahwa anggarannya bersumber dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) RI sebesar Rp. 5 Miliar, tetapi sewaktu anggota DPRD Nisel menanyakan kapan dan siapa yang melaksanakan proses Pelelangan serta siapa rekanan pelaksananya tidak memberikan penjelasan karena pengadaan Bibit sawit tersebut tidak melalui proses dan mekanisme yang berlaku dan apalagi menurut informasi bahwa bantuan dana dimaksud dari KPDT bersifat tunai dan bukan untuk program pengadaan bibit kelapa sawit.

Mungkin masyarakat menyesali Lembaga DPRD Nisel karena tidak melaksanakan fungsinya (Pengawasan, Legislasi & Anggaran), tapi untuk diketahui bahwa sekarang ini semua Keputusan yang telah dilakukan oleh DPRD melalui Paripurna tidak pernah "tidak berubah" tetapi selalu dirubah oleh Pemerintah Daerah, misalnya pada Pembahasan dan Pengesahan KUA, PPAS dan Ranperda APBD Nisel TA. 2011 tidak pernah adanya anggaran Pembebasan Biaya Pendidikan, tetapi disaat turunnya Hasil Evaluasi Gubsu ternyata muncul Mata Anggaran tersebut Rp. 4,036 Miliar sehingga terjadi perdebatan antara DPRD dengan TAPD, dan fatalnya lagi pada saat terbitnya Perbup tentang Penjabaran APBD TA. 2011 dan Perda APBD TA. 2011 dimaksud dana Pembebasan Biaya Pendidikan tersebut menjadi Rp. 7,2 Miliar sehingga Anggota DPRD Nisel mengajukan Hak Angket walaupun sampai sekarang belum ditindaklanjuti oleh Ketua DPRD Nisel.

Begitu pula pada Hasil Evaluasi Gubsu tentang R-APBD Nisel TA. 2012 tiba-tiba muncul biaya pembelian tanah Rp. 15,6 Miliar pada pada Pembahasan & Pengesahan KUA & PPAS disetujui hanya Rp. 7 Miliar lebih, dan Pembangunan Ruko Rp. 7 Miliar serta Modal BUMD Rp. 10,5 Miliar yang telah ditiadakan/dicoret pada pembahasan/Pengesahan KUA & PPAS lagi-lagi muncul mata anggarannya sehingga 12 orang anggota DPRD Nisel melaporkan hal tersebut kepada Mendagri, KPK dan Gubsu karena perubahan yang terjadi dalan alokasi APBD Nisel TA. 2011 dan 2012 sangat banyak termasuk mengutak-atikan alokasi Anggaran DAK dibidang Pendidikan sehingga sangat perlu mendapat teguran dari Gubsu dan Mendagri.

Mengapa Anggota DPRD diam ? hal ini sudah pasti menjadi pertanyaan masyarakat kita, untuk diketahui bersama bahwa yang membenarkan ketidak benaran di negara ini khususnya di Lembaga Legislatif adalah akibat dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dimana telah menguatkan keabsahan dari pada yang dihasilkan "Suara Terbanyak", misalnya salah satu barang yang jelas-jelas Warnanya "Hitam", tetapi karena suara terbanyak mengatakan bahwa barang tersebut Warnanya "Putih" maka suka tidak suka dan setuju tidak setuju Warna barang tersebut "sah" warnanya "Putih".

Kenapa mayoritas Pendirian Anggota DPRD tidak "tetap" ? alasannya kemungkinan adalah (1) kurang paham tentang peraturan, (2) menganggap Lembaga DPRD sebagai Lembaga Swasta sehingga menyamakan dirinya sebagai seorang Karyawan sebuah Perusahaan yang wajib patuh dan tunduk kepada Majikan, (3) takut tidak mendapat SPPD, (4) takut kalau keluarganya / familinya dimutasi dan atau dicopot dari Jabatan, dan hal inii juga sudah terjadi di Nias Selatan dimana keluarga Anggota DPRD yang tidak setuju atas tindakan Pemerintah melakukan Perubahan-Perubahan Mata Anggaran pada APBD TA. 2012 telah dicopot tanpa alasan dan malahan sewaktu salah seorang Anggota DPRD Nisel mengucapkan terima kasih melalui SMS kepada Bupati Nias Selatan atas pelantikan Pejabat Baru yang menggantikan Keluarganya maka Bupati Nias Selatan membalas SMS dengan mengatakan : Sama2 dan terima kasih juta atas tandatangannya, maksudnya karena Anggota DPRD Nisel tersebut telah menandatangani Surat Keberatan atas tindakan TAPD yang telah melakukan perubahan alokasi mata Anggaran APBD TA. 2012 dimaksud sehingga dalam artinya itulah alasan Bupati Nisel mencopot keluarganya Anggota DPRD tersebut, walaupun Anggota DPRD Nisel dimaksud sudah kian tahu resiko seperti itu dan apalagi sudah tahu talenta oknum Pimpinan sedemikian.

Kepada sdr. Sudirman Halawa, SH (Anggota DPRD Sumut), masyarakat Nisel mengharapkan agar Konversi Karet ke Sawit di Nias Selatan jangan dipermasalahkan tetapi lebih terpentingnya adalah kejelasan sumber anggarannya dan proses pengadaan bibit sawit tersebut apakah sudah sesuai mekanisme ketentuan peraturan dan atau telah terjadinya indikasi Korupsi, Kolusi & Nepotisme (KKN) ?

Terima kasih.
Ya'ahowu.
10. Tue, 28 February 2012 05:31:14 Herry Zega Bogor herry.zega@yahoo.com 39.209.93.164
PARA ANGGOTA DEWAN YG TERHORMAT INI MEMANG SELALU INGIN CARI PERHATIAN DAN BIKIN SENSASI
.
KALAU DI JAKARTA MAU KONVERSI BBM (BAHAN BAKAR MINYAK) KE BBG (BAHAN BAKAR GAS) ANGGOTA DEWAN DI NIAS JUGA GAK MAU KALAH MAU KONVERSI KARET KE SAWIT.

MIKIR DULU ATUH KANG MAS PARA ANGGOTA DPRD NIAS KEPULAUAN YG TERHORMAT... JGN SEMBARANGAN KONVERSI HANYA KARNA INGIN MENDULANG RUPIAH UTK KEPENTINGAN PRIBADI ANDA !!!

MASYARAKAT NIAS ITU PUNYA KEAHLIAN DI BIDANG KARET SUDAH DARI ZAMAN KAKEK BUYUT KITA, BAHKAN PARA ANGGOTA DEWAN INI JUGA BISA SEKOLAH JADI SARJANA DAN JADI ANGGOTA DEWAN, ITU DARI HASIL KARET.

YANG LEBIH BAGUS ITU, PARA ANGGOTA DEWAN SEHARUSNYA MEMIKIRKAN BAGAIMANA CARA SUPAYA PERKEBUNAN KARET TRADISIONAL DI PULAU NIAS INI BISA GO INTERNASIONAL, MISALNYA, SEPERTI KALIMANTAN BARAT.

SAYA SUDAH SERING KELILING KALIMANTAN BARAT DAN SAYA MELIHAT PERKEBUNAN KARET TRADISIONAL MEREKA SANGAT MAJU DAN DI KENAL SAMPAI KE MANCANEGARA DAN DI BELI DENGAN HARGA YG CUKUP TINGGI DIBANDINGKAN DGN KARET DI NIAS. BAHKAN SEKARANG INI HARGA KARET DI KALBAR RP. 25.000/KG. SILAKAN SAUDARA BACA DI www.tribunpontianak.co.id DAN www.kompas.com

MENGAPA???
KARENA PEMERINTAH BEKERJASAMA DGN MASYARAKAT UTK MENGEMBANGKAN PERKEBUNAN KARET MENJADI KARET DGN STANDAR INTERNASIONAL KARENA KUALITAS KARET MEREKA SALAH SATU YG MEMENUHI STANDAR INTERNASIONAL UTK DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN BAN MOBIL BERMERK DUNIA YG HARGA MOBILNYA ANTARA RP. 500 JUTA S/D RP. 10 MILYAR DAN JUGA UTK BAN SEPEDA MOTOR MERK TERKENAL YG HARGANYA RP. 100 JUTA S/D RP. 2 MILYAR DAN JUGA UTK BAN MOBIL BALAP FORMULA 1.

SAYA TIDAK SEBUT NAMA MERK MOBILNYA KARENA SAYA TIDAK DI BAYAR UTK IKLAN MOBIL DAN SEPEDA MOTOR TERSEBUT. TETAPI SAYA KIRA SAUDARA ANGGOTA DEWAN BISA MENEBAK MERK MOBIL APA YG SAYA MAKSUD.

SAYA SANGAT TIDAK SETUJU DENGAN KONVERSI KARET KE KELAPA SAWIT KARENA ITU BUTUH DANA YG SANGAT BESAR, BISA MENCAPAI TRILIYUNAN DAN INI AKAN MENJADI PASAR KORUPSI YG BARU LAGI.

KARET ADALAH SALAH SATU CIRI KHAS PULAU NIAS YG BILA DIKEMBANGKAN DAN DI KELOLA DENGAN BAIK BISA MENJADI TUJUAN WISATA DAN DI BELI DENGAN HARGA TINGGI. LEBIH BAIK DANA UTK KONVERSI TERSEBUT DIGUNAKAN UTK MENGADAKAN PELATIHAN DAN PENYULUHAN BIDANG PERTANIAN KARET SUPAYA KUALITAS KARET DI NIAS BISA GO ITERNASIONAL.

KALAU PEMERINTAH NIAS KESULITAN UTK MENCARI TENAGA AHLI YG BISA MELATIH, SAYA PUNYA BANYAK TEMAN-TEMAN YG SANGAT AHLI DI BIDANG KARET DAN JUGA BIDANG PERTANIAN LAINNYA. MERAKA SUDAH PULUHAN TAHUN BERPENGALAMAN BAIK SECARA TEORI MAUPUN PRAKTEKNYA DALAM BIDANG PERKEBUNAN KARET.

BAHKAN SAAT INI SAYA SENDIRI PINDAH RUMAH DAN TEMPAT KERJA DARI JAKARTA KE BOGOR UTK BELAJAR KHUSUS BERBAGAI BIDANG PERTANIAN DAN PERKEBUNAN KARET SUPAYA SUATU SAAT KELAK BISA MEMBAGIKANNYA KEPADA MASYARAKAT NIAS SECARA GRATIS.

KARENA PULAU NIAS ADALAH DAERAH PERTANIAN YG SANGAT BAGUS UTK DIKEMBANGKAN TAPI JGN DI KONVERSI LEBIH BAIK KITA MENGEMBANKAN YG SUDAH ADA MENJADI LEBIH BAIK LAGI.

SAOHAGOLO !!!

SALAM SUKSES UNTUK KEMAJUAN PULAU NIAS !!!

YA'AHOWU !!!
11. Tue, 28 February 2012 05:50:36 Adi Iskandar Jabotabek adi_iskandar75@yahoo.com 182.5.147.61
#9 Bapak Samahato Buulolo, hehehe, sudah menjadi rahasia umum, kalo adanya permainan dan persekongkolan antara legislatif dengan pemerintah, apa itu menteri, pemda, dengan cara korupsi berjama'ah. tengoklah di pusat sana seperti kasus wisma atlet palembang. Apalagi di daerah, kita sudah gak heran permainan-permainan seperti itu, luar biasa banyaknya. Memberangus korupsi berjama'ah sulit dilakukan karena mereka bermain-main dengan SK, PERDA dan BANGGAR inilah yang disebut modus kera putih.. Untuk Nisel selama anggarannya gak dikorupsi, kalo hanya terjadi perubahan mata anggarannya misal di prioritaskan pada pendidikan, saya kira itu sah-sah saja. Yang menjadi masalah kan, realisasi penggunaannya yang sering menyimpang, gak jelas. Ini yang perlu di kontrol. Masyarakat seharusnya tahu berapa besar APBD tahun 2011 untuk masing-masing daerah. contoh untuk Nias Selatan misalnya, Jumlah APBD 2011 sebesar 523,719,470,430, difungsikan untuk kegiatan ekonomi sebesar 26,567,145,269 (5.07%) , kesehatan sebesar 43,158,696,822.00 (8,24%) , pendidikan sebesar 218,531,327,117 (41.73%), dst. Dari anggaran fungsi diatas, saya menyimpulkan bahawa Bupati Nisel fokus ke pendidikan, karena proporsi anggarannya 41.73% di fungsikan ke pendidikan. Ini sebenarnya Bupatinya sangat cerdas dalam memilah skala prioritas. Karna daerah-daerah IDT di indonesia, yang sangat perlu perhatian adalah pendidikan. Derah tsb bisa maju apabila kelak SDM masyarakat daerah tsb sudah banyak berpendidikan tinggi dan berwawasan maju. Ini sangat baik. Tinggal bagaimana mengontrol secara sosial, apakah anggaran sebesar itu benar-benar difungsikan sesuai dengan Mata Anggarannya.
12. Tue, 28 February 2012 14:12:01 Pemerhati Nias pemerhati@yahoo.com 124.81.179.133
Semenjak nenek moyang terdahulu, masyarakat Kepulauan Nias mampu melangsungkan hidupnya dengan mengandalkan tanaman karet. Tanaman karet masyarakat Nias merupakan tanaman keluarga, dan untuk kehidupan keluarga.

Kita juga menyaksikan bahwa Nias jauh lebih baik saat ini, dalam arti semakin maju walaupun dengan tanaman karet masyarakat. Ini terjadi karena Bumi kepulauan Nias ini sangat cocok dengan penananam karet. Nias dengan karetnya tanpa mengharapkan pupuk dan pemeliharaan ala modern, justru tumbuh dan produktif. Apalagi jika diolah lebih baik di tanah yang menyuburi tanaman karet.

Maka dengan demikian janganlah kita merusak tanah nias ini dengan konversi tanaman karet dengan Sawit yang memerlukan pengelolaan tanaman yang modernitas untuk merusak lahan subur Bumi Nias ini.

Jika membangun Kepulauan Nias, jalan keluarnya bukan harus konversi. Namun dengan Hasil Karet yang memadai, silahkan untuk merencanakan pengadaan Pabrik/Industri Karet di Kepulauan Nias agar Rakyat Petani Karet mampu menikmati harga tertinggi atas tanaman karetnya.

Pemerhati Rakyat Kep. Nias
13. Tue, 28 February 2012 19:57:16 GORONG TELUK DALAM TELUKDALAM@YAHOO.COM 180.241.101.96
KARET KE SAWIT MERUPAKAN TINDAKAN YG SALAH KRENA PETANI KARET TIDAK PNYA PENGALAMAN D SAWAT, PASTINYA TIGA SAMAPI LIMA TAON AKAN DATANG PASTI HASILNYA GAGAL, MENGINGAT BIBIT SAWITNYA TIDAK MEMENUHI STANDART KWALITAS
14. Tue, 28 February 2012 20:59:06 e.mendrofa palembang e.mendrofa@gmail.com 112.215.66.66
Rencana diatas adalah rencana bodoh. Hati hati ....!
15. Thu, 01 March 2012 16:56:51 Same eraera Batam yg.noitolo@gmail.com 222.124.9.196
Untuk koment no 10, koq menyudutkan anggota dprd?. baca beritanya lagi ahhhh....
16. Fri, 02 March 2012 00:28:49 qethe lase nias ljantrisnolase@yahoo.com 141.0.9.14
Ya'ahowu fefu talifuso...mslh konversi trsebut jgn trllu di besar2kan lah pa lg sampe menyudutkan anggota DPRD....kalo m'ank nias bs menghasilkan sawit why not? Bkn brrti karet tidak ada lg TETAPI harus beriringan...bagi sapa yang mau bertani kelapa sawit ya silahkan siapa yang mau....harus dulu diadakan penelitian atau uji coba penanaman sawit di Nias jika berhasil kan bs menambah satu penghasilan Daerah.

Dari Zaman dulu karet hasil utama Nias tp mengapa tak pernah pejabat2 tinggi di Nias ini berusaha untuk membuka 1 pabrik karet atau pabrik setengah jadi.....kalo memang tak sanggup kan bs bekerjasama dgn investor asing toh jg demi kemajuan perekonomian masyarakat Nias.

Para pejabat tinggi di Nias ini semua orang pintar,berwibawa,sekolah tinggi,pa lagi gelarnya wah sampe master2 dech....saya yakin para pejabat tersebut tau yang terbaik buat masyarakat pulau Nias bukan terbaik bagi pribadi.

Jadi saran saya kepada para pejabat yang terhormat tlng di usulkan ke tingkat provinsi atau pusat agar pulau nias ini mempunyai 1 pabrik karet setengah jadi supaya para penghasil karet atau masyarakat yang memiliki karet bs jauh lebih baik menikmati harga penjualan karet tersebut dan juga bs membantu para pengangguran di Nias ini untuk bekerja di pabrik karet.

Dan tak lupa juga saya sarankan agar SDA di pulau Nias di kembangkan sebaiknya2 apa lagi terdapat BATU BARA di Nias ini yang prnah di uji sample tp alhasil ada oknum yang tidak mengizinkan padahal sudah teruji batu bara tersebut n investor singapore telah siap untuk bekerjasama untuk mengolah tambang tersebut.

Jd mohon di tinjau jgn sampai ketinggalan perekonomian masyarakat NIAS ini harus sigap dan cekatan...jika tambang batu bara dan pabrik karet terbuka maka perekoniam masyarakat Nias berkembang pesat dan bs menurunkan tingkat pengangguran.

Seperti halnya mengusulkan mobil Dinas mewah ratusan juta hanya utk kepentingan diri sendiri n rumah dinas mewah dgn sangat mudah di acc kan begitu pula dgn hal yang saya sarankan tersebut saya yakin pasti bs krna para pejabat di Nias ini rata2 pnya koneksi,mitra,partner di luar kota bahkan di luar Negeri sehingga bs dgn gampang menggaet investor asing atau pun bekerjasama dgn pemprovsu dan pusat.

Smoga pa yg telah saya sarankan ini bisa menjadi PR buat para petinggi2 atau pejabat2 di Nias ini demi kemajuan perekonomian masyarakat Nias...MERDEKA...YA'AHOWU...Wasa'lam
17. Fri, 02 March 2012 13:55:35 Baluseda Hulu Alasa Nisut baluseda@yahoo.co.id 141.0.8.80
Bapak anggota DPRD yg terhormat, khususnya pak S. Halawa, kami masy. Nias mengucapkan trims atas perhatian pd rencana pemda di p. Nias melakukan konvensi tanaman kelapa sawit, saran kami para petani jgn dianjurkan petani menanam tanaman perkebunan jenis baru di nias krn tdk akan berhasil dan hanya membuat masy. Nias menderita lagi, kalau boleh pak dpr kami usulkan agar pemerintah lebih fokus pd pemanfaatan dan pengembangan potensi yg ada di nias, mis. Karet, kakao, padi sawah, bila ketiga petonsi tsb pemda bisa memanagen dgn baik, kurun waktu setahun masy. Nias sudah bisa kita sejajarkan tingkat pendapatannya sama dgn kab./kota lain di Indonesia dan bahkan sangat berpeluang utk mengurangi angka kemiskinan dan membuka lapangan kerja bg masy. Nias. Terima kasih Yaahowu Dano Niha.
18. Mon, 05 March 2012 06:39:16 Paul Hoeloe Gusit faozhulu@rocketmail.com 39.209.50.198
Pemirsa yth.
Konversi karet ke Sawit boleh-boleh saja, tapi harus di perhatikan apakah SDM nya sudah ada? janganlah nanti orang luar datang mengolah sementara kita tinggal ........, untuk konversi haruslah dikaji sematang mungkin dan jangan terus meninggalkan perkebunanan karetnya. Ingat, Pengangguran banyak tindak kriminalitas meningkat. oleh karena Pemerintah di Kepuluaan Nias harus sehati sepikir dalam memenajemen dan mengolahnya, jangan saling bertolak belakang. KITA INI SATU, mari kita tingkatkan taraf hidup anak cucu kita kelak.
19. Mon, 12 March 2012 00:48:03 samahato buulolo / ama pais Nias Selatan sambul70@yahoo.com 182.3.160.176
Pengadaan Bibit Kelapa Sawit di Nias Selatan tidak terlepas dari ajang bisnis dan KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme), dimana informasi yang didapat dari mantan Kadis Pertanian & Kehutanan Kab. Nias Selatan Ir. Ikhtiar Duha melalui SMS menjelaskan bahwa Anggarannya bersumber dari Dana Tugas Perbantuan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) RI TA. 2011 sebesar Rp. 5 Miliar yang pelelangannya dilaksanakan oleh Pemkab Nias Selatan, Namun setelah didesak nama Perusahaan apa yang melakukan Pengadaan Bibit Kelapa Sawit tersebut selaku Pemenang Tender ternyata tidak dijawab alias disembunyikan.

Lain halnya hasil konfirmasi dari salah seorang staf KPDT RI Mulyadi Malik menjelaskan bahwa banyak bantuan KPDT ke Nias Selatan tetapi mengenai Bibit Kelapa Sawit beliau tidak paham yang dalam arti tidak ada bantuan tentang itu.

Begitu pula penjelasan Kapolres Nias bahwa sewaktu menangkap Bibit Kelapa Sawit tersebut belum cukup bukti bahwa anggarannya bersumber dari APBD / APBN karena belum selesai pembayarannya dan ada oknum yang mengakui bahwa itu milik pribadi, dan walaupun pak Kapolres Nias merasa yakin bahwa ada korupsi didalamnya tetapi tidak dapat berbuat banyak karena bukti keuangan negara tidak ada. Menurut dugaan Kapolres Nias bahwa jumlah dan kualitas Bibit Kelapa sawit tersebut sangat beda dan yang dikirim itu hanya sampel yang seolah-olah ada barangnya serta sampai sekarang tidak pernah lagi masuk sawitnya.

Dari hasil konfirmasi dari staf KPDT dan Kapolres Nias berbeda dengan penjelasan dari oknum mantan Kadis Pertanian & Kehutanan Kab. Nisel sehingga patut diduga bahwa Dana Tugas Perbantuan dari KPDT RI TA. 2011 sebesar Rp. 5 Miliar di Kabupaten Nias Selatan yang diarahkan untuk Pengadaan Bibit Kepala Sawit merupakan tindakan kesewenang-wenangan dan tidak terlepas dari Tindak Pidana Korupsi Keuangan Negara yang wajib diusut oleh Penegak hukum karena tidak melalui persetujuan Lembaga DPRD Nisel dan tanpa melalui proses Pelelangan.

Selanjutnya, Bibit Kelapa Sawit tersebut diduga tidak memiliki SERTIFIKAT serta tidak diketahui dibeli dimana dan kepada siapa diberikan karena pengadaan tersebut dilakukan secara diam-diam tanpa perencanaan terlebih dahulu supaya bantuan Pemerintah Pusat untuk masyarakat benar-benar terlaksana dengan baik dan bukan menjadikan masyarakat sebagai sarana mendapatkan keuntungan pribadi.

Untuk itu, disarankan kepada masyarakat Kepulauan Nias umumnya dan Nias Selatan khususnya untuk tidak resah terhadap adanya rencana Konversi Karet ke Sawit karena hal tersebut dipastikan tidak tercapai, sebab Pengadaan Bibit Kelapa Sawit di Nias Selatan bukan benar-benar membangun kesejahteraan masyarakat tetapi disinyalir hanya untuk meraup keuntungan pribadi oknum Pejabat yang lebih besar.

Karet sudah merupakan sumber pendapatan mayoritas masyarakat kita di Kepulauan Nias sehingga wacana konversi Karet ke Sawit hanya mengalihkan perhatian masyarakat atas berbagai indikasi korupsi keuangan negara yang telah terjadi serta kegagalan berbagai program pembangunan selama ini.

Kalau ada sesuatu hal baru di Kabupaten Nias Selatan janganlah cepat-cepat ditanggapi serius sebelum terlebih dahulu diteliti dan dianalisa secara mendalam supaya kita semua jangan terlena memperhatikan dan memikirkan kepentingan yang lebih besar lainnya, misalnya saja Pembebasan Biaya Pendidikan yang sedang berjalan dilaksanakan di Nias Selatan, masyarakat hanya menaruh perhatian terhadap pembebasan Uang Kuliah di STIKIP & STIE Teluk Dalam tanpa pernah bertanya mengapa setelah Pemkab Nias Selatan melalui APBD mengalokasikan Anggaran Uang Kuliah menjadikan besarannya Rp. 2,5 juta / tahun ? padahal sebelumnya uang kuliah hanya sebesar Rp. 1,2 s/d Rp. 1,6 juta / tahun, dan sampai sekarang belum ada penjelasan Kadis Pendidikan Kab. Nisel tentang rincian penggunaan Anggaran Pembebasan Biaya Pendidikan tersebut baik ditingkat SMA/SMK maupun Perguruan Tinggi.

Semoga tidak terjadi sifat kemunafikan di Nias Selatan didalam pengelolaan Keuangan Negara, supaya Bicara dan Perbuatan tetap sama karena sepandai-pandainya menyembunyikan KEBOHONGAN maka suatu saat akan dikalahkan oleh KEBENARAN.

Moga-moga Lembaga DPRD Nias Selatan tetap menjadi Lembaga Penampung Aspirasi Rakyat dan senantiasa tidak bersikap diam bagai penonton terhadap kinerja Pemerintah yang tidak benar, alangkah sedihnya masyarakat apabila Lembaga DPRD membiarkan oknum Pejabat yang menggerogoti uang rakyat untuk kepentingan pribadi / keluarga dan kroni-kroninya.

DPRD dipilih oleh rakyat untuk kepentingan rakyat dan bukan untuk kepentingan Pejabat dan Penguasa.

DPRD sebagai politisi yang sudah terlebih dahulu siap menghadapi berbagai tantangan dan resiko yang akan terjadi, sebab seorang Politisi tidak pernah jadi penurut tetapi telah menyiapkan diri menjadi pengkritik dan penentang rezim otoriter yang merugikan hak-hak masyarakat kecil.

Pepatah mengatakan : (1). JANGAN BANGGA KARENA JABATAN DAN JANGAN SOMBONG KARENA KUASA, (2). ORANG KAYA BELUM TENTU SENANG & ORANG MISKIN SIAPA JAMIN SUSAH, (3). HIDUP PUNYA BATAS & KEKUASAAN MEMILIKI MASA, (4). BIAR MELARAT SESAAT DARI PADA SUATU SAAT TERBELENGGU DALAM PENDERITAAN.

Terima kasih.
20. Wed, 14 March 2012 12:29:23 Erdin Mendrofa Jakarta laoda.fefu12@yahoo.com 203.161.25.12
oh tanah nias hati kami selalu untukMU!!! l
Mari kita nyanyikan:
TANO NIHA BANUA SOMASIDO...
TANO SITUMBU YAO FONA....
HEMUKOLI NDRAO BAZAROU....

First|Previous     Next| Last

Number of records = 25
Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

©2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000