NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  Era-Era (Opinion | Article | Ref)
 

Sat, 02 December 2017 18:32:39 | Yafao larosa | Balikpapan,kaltim | 114.125.217.196
Apa yang di impikan di pulau Nias?
Ketika menulis judul ini saya sempat berpikir apa saya gak salah tulis nanti ada yang tersinggung,tapi kalau ada yang kurang setuju itu mungkin baik. Ketika kel ...

  • 

RUMAH DI JUAL SEGERA

  • 

PABRIK PENGOLAHAN SAMPAH DI PULAU NIAS

  • 

SERUAN BUAT EX TUHEMBERUA

  • 

Eksotisme Tradisi Musik Nias

  • 

Nias Harus Buat RTRW Gempa

  • 

Refleksi Sumpah Pemuda

  • 

Rumah Adat Nias Melawan Waktu

  • 

NIAS TIMUR SUDAH PANTAS DIMEKARKAN SEBAGAI SALAH SATU OTONOMI DAERAH YANG BARU di KEPULAUAN NIAS, SE

  • 

HAK KONSTITUSI

  • 

ORGANISASI HIMNI TETAP EKSIS !! TAPI BAGAIMANA DENGAN OKNUM PENGURUS ??

  • 

Kebersamaan Memahami Provinsi Kepulauan Nias

  Index   Add

  Last Commented
 
 

Mon, 11 December 2017 20:42:29 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa Kec.Ulunoyo Nias Selatan | 114.124.140.194
Kenapa Nias Tak Disukai Orang?7 Responses

 

Wed, 06 December 2017 12:41:22 | Habibie Hidayat | jakarta | 197.211.61.33
DPRD: Rencana Konversi Karet di Nias Dipertanyakan32 Responses

 

Wed, 15 November 2017 03:59:46 | jane | 44 palm street | 197.210.227.49
Suster Klara dan Rumah Inap Kasihnya32 Responses

 

Wed, 08 November 2017 22:19:40 | Angeraigo Laia | Kac,Bawolato | 114.125.37.92
Ferry Jet Jumbo Layani Pelayaran Sibolga-Nias 3 Jam1 Responses

 

Sat, 28 October 2017 13:25:32 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.Ulunoyo Nias selatan | 114.125.53.210
Editor Media Online Dipanggil Penyidik Poldasu7 Responses

 

Sat, 28 October 2017 11:31:35 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.Ulunoyo Nias Selatan | 114.125.53.148
Pemerintah Bidik Nias Destinasi Andalan Dongkrak Kunjungan Wisman2 Responses

 

Sun, 01 October 2017 19:29:32 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.ulunoyo nias selatan | 114.124.166.62
Tersangka Kasus Korupsi Nias Water Park Segera Disidang2 Responses

 

Wed, 05 September 2007 22:53:48 | Ebdel Habiburrachman (mado Polem) (IP = 202.162.196.198) | INDONESIA
Sejarah Masuknya Islam Di Nias
Jakarta (NiasIsland.Com)

Sejarah Masuknya Islam Di Nias (--Mengapa Ndrawa Tidak Memiliki Hak Yang Sama dengan Warga Nias Asli--)

Berikut merupakan sejarah masuknya Islam di Pulau Nias: Dalam kesempatan ini, saya akan mengungkap dan menceritakan sejarah masuknya Islam yang dibawa oleh Warga keturunan Aceh. Namun saya berjanji akan melanjutkan artikel ini dengan mengungkapkan masuknya warga Minangkabau dan Mandailing di Nias. Sekali lagi, ini merupakan sejarah, jadi saya paparkan untuk menambah pengetahuan kita dan memberikan hak yang sama kepada masyarakat Nias Pesisir (Ndrawa).

Dimulai dari konflik sebuah kerajaan Islam di Preumbeue Meulaboh dengan kepala pemerintahannya Teuku Chik dari Meuraza Kutacane (Banda Aceh). Teuku Chik mempunyai 2 orang putra dan 1 orang putrid yaitu:
1.Teuku Polem
2.Teuku Imam Bale
3.Siti Zalikha

Teuku Polem sebagai anak tertua bertugas membantu ayahnya dalam bidang keagamaan dan pemerintahan dan Tengku Imam Bale bertugas dalam bidang keagamaan. Pada masa pemerintahan Teuku Chik ini, pantai pesisir barat kerajaan Aceh sering diganggu oleh perampok oleh bajak laut. Oleh sebab itu Teuku Polem sering langsung memimpin operasi pengamanan sepanjang pantai barat hingga Natal. Sewaktu Teuku Polem berada di Tapak Tuan, ayahnya Teuku Chik meninggal dunia, sehingga untuk sementara kekuasaan diserahkan kepada adiknya Teuku Imam Bale. Karena kesedihannya, dengan berjiwa besar Teuku Polem menyerahkan tugas itu kepada adiknya, akan tetapi ia bertekad untuk tidak kembali ke Aceh tetapi beliau berlayar sampai menemukan daerah baru dan dijadikan tempat tinggal anak dan cucunya kelak. Denga menggunakan 5 buah pencalang (perahu besar), Teuku Polem beserat rombongan meninggalkan Meulaboh dan berlayar ke arah Selatan Pulau Sumatra, setelah beberapa lama berlayar, pada tahun 1642 itu juga, Teuku Polem beserta rombongan tibalah di suatu pulau yaitu Pulau Nias, tepatnya di Luaha Laraga Idanoi. Sesampainya di sana mereka disambut baik, karena kedatangan mereka tidak menandakan musuh, apalagi orang Aceh ini kebiasaanya makan sirih dan begitu pula orang Nias, sehingga melihat rombongn ada yang makan sirih menjadikan pimpinan masyarakat Nias yang berada di Luaha Laraga Idanoi yang disebut dengan Balugu menyambut kedatangan rombongan dari Aceh ini, dan tinggal di sana selama 2 tahun yaitu tahun 1642-1644. balugu Harimao mempunyai 3 orang putra dan 1 orang putri yaitu:
1.Balugu Mangaraja Fagoto Harefa
2.Balugu kaoma Kahemanu Harefa
3.Kehomo Harefa
4.Bowo’ana’a Harefa

Pada tahun 1643 yaitu 1 tahun setelah tiba di Luaha Laraga Idanoi, Teuku Polem kawin dengan putri Balugu Harimao yang bernama Bowoana’a Haref, maka beliau inilah yang diketahui pertama kali memeluk agama Islam di Pulau Nias. Setelah Bowoana’a masuk Islam, anak saudaranya Fagowa Harefa yang bernama si Acah Harefa masuk Islam, keturunannya sekarang adalah penduduk kampong Miga Ori Tabaloho Dahana kecamatan Gunungsitoli, menyusul Kehomo Harefa dan keturunannya sekarang sebagian tinggal di Desa Mudik dan sebagian di Sifahandro kecamatan Tuhemberua. Dari keluarga Bowoana’a, Balugu Kaoma Kahemanu Harefa saja yang tidak masuk Islamtetapi keturunannya beberapa abad kemudian memeluk agaman Kristen Protestan, namun keturunannya yang memeluk agama Islam berdomisili di Desa Mudik dan Sifahandro dan yang beragama Kristen Protestan berdomisili di Lasara Hili Ori Tabaloho Dahana.

Pada tahun 1644, Balugu Harimao Harefa atau keluarga Teuku Polem dan rombongan yang datang dari Aceh pindah dari Ono Sitoli Laraga ke arah lembah sungai yang disebut Kali Nou dan mengambil tempat di Siwulu atau Giri’I (atua ai lo niha), yang sekarang masuk wilayah Desa Mudik. Selama Teuku Polem berada di Siwulu atau Giri’i, beliau dianugrahi 2 orang anak yaitu:
1.Simeugang, lahir pada tahun 1653
2.Siti Zohora, lahir pada tahun 1654

Setelah beberapa tahun di Siwulu, dengan melalui Musyawarah/mufakat, rombongan yang ikut dengan Teuku Polem meninggalkan Siwulu, ada yang kembali ke Aceh, ada yang menuju arah selatan Pulau Nias dan ada yang masih tetap tinggal bersama-sama dengan Teuku Polem. Dan sejak itu, mulai ramailah pedagang-pedagang dari Aceh, Natal, Padang berdagang ke Gunungsitoli (Pulau Nias).

Selama kurang lebih 11 tahun tinggal di Siwulu atau di Giri’I, Teuku Polem/keluarga dan rombongan yang masih tinggal, pindah ke Heleduna, sesuai dengan yang telah disepakati, dipilihnya Heleduna ini sebagai pemukiman baru karena di sana terdapat sumber mata air yang lebih besar dan juga tempat ini teidak berapa auh dari perumahan iparnya di Lasara.

Pada waktu Teuku Umar telah bermukim di Heleduna, datanglah rombongan utnusan Imam Bale dari Meulaboh yaitu pada tahun 1675 untuk menjemput Teuku Polem agar kembali ke Aceh. Supaya utusan ini tidak kecewa, maka Teuku Polem mengutus anaknya sebagai penggantinya, Simeugang yang baru berumur 22 tahun. Selama berada di Meulaboh, mereka belajar tentang hokum dan ajaran-ajaran agama Islam. Peata adapt atau Owasa yang pertama di adakan adalah pada tahun 1698 yaitu pada masa pemerintahan Teuku Simeugang (1696-1735). Beliau mengundang Balugu Sitiga Tua yaitu Balugu marga Harefa, Zebua dan Telaumbanua. Dalam pesta adapt (Owasa) ini, kepada Teuku Simeugang diberi gelar SiTiga Tua yaitu Balugu Ndruru Tano.

Sesudah pesta adapt dilakukan, maka diadakan Mondrako pertama di Heleduna pada tahun 1686 yang disponsori oleh SiTiga Tua dengan maksud untuk mempersatukan adat yang berlaku:
1.Mado Harefa dibawah pimpinan Balugu Amizohono
2.Mado Zebua dibawah pimpinan Balugu Tua Laso Kanea
3.Mado Aceh dibawah pimpinan Teuku Simeugang

Supaya keputusan Mondrako dipatuhi, mereka mengangkat sumpah dengan membakar seorang manusia. Keputusan yang terpenting antara lain: “ Penentuan Wilayah Pemukiman”. Teuku Simeugang mendapat wilayah dari Labuhan Angin sampai Sabango.

Sesudah pesta adapt, maka diteruskan dengan mengadakan Mondrako kedua, yang terlebih dahulu dengan membakar seekor anjing. Ini adalah perumpamaan terhadap pelanggar keputusan Mondrako maka ia akan terbakar seperti anjing. Keputusan Mondrako yang kedua ini adalah:
1.Dalam menghadapi musuh ditetapkan harus ada kerjasama antara orang Nias dengan orang Ndrawa (islam)
2.Mengenai adapt atau Hada. Bila melaksanakan pesta adat STiga Tua harus ikut serta.
3.Sanksi. Bila keputusan ini dilanggar, maka dikutuk oleh Mondrako.

First|Previous    Next|Last

Pick Date
No Resp-Time Resp-by Address Email IP
1. Mon, 01 December 2008 13:58:39 ferry_ly medan verry_ly_skylion@yahoo.co.id 203.130.206.41
wow...w salut ya bisa dapat sejarah yang luar biasa. truz lanjutannya kapan dunk...? gbu
2. Mon, 01 December 2008 17:12:49 Sulaeman Harefa Nias eman_gusit@yahoo.co.id 202.123.238.58
Very-very good..............go a head..........you can tell us others story soon guys....

Best Regard,


Sulaeman Harefa
3. Mon, 01 December 2008 19:24:56 marzo bahili eumanava@yahoo.com 61.94.124.127
Ya'ahowu tjua

Ini adalah salah satu tambahan khasanah ilmu pengetahuan.

Namun seperti yang terdapat dalam kurung (--Mengapa Ndrawa Tidak Memiliki Hak Yang Sama dengan Warga Nias Asli--)
Hal ini perlu disadari bahwa di Nias itu walaupun berbeda agama pada dasarnya adalah satu (bersodara). Sebenarnya bukan tidak memiliki hak yang sama, hanya pada dasarnya yang membedakan itu adalah karena sifat dan kebiasaan keduanya, yaitu misalnya bila ada saudara yang meninggal atau nikah atau apapun kegiatan yang dilakasnakan di Nias karena mayoritas makan daging "babi" maka saudara yang moslem merasa enggan datang, jadi secara tidak langsung manjadikan suatu hambatan untuk bisa berbaur. Sementara bagi saudara lain bila ada kejadian atau apapun acara dgn sodara yang moselm saudara dari Kristen tetap datang. jadi ini adalah salah satu kendala, walaupun yang secara tidak langsung tidak dijadikan masalah, namun melihat sikap seperti ini maka sodara yang memiliki hajatan selalu enggan untuk "manona/mangona" kepada sodara yang tidak sealiran tadi. Ini hanya salah satu faktor saja.

Selain itu, kita bersyukur di Nias masih ada pertalian dan kekeluargaan. Bila seandainya Nias identik dengan salah satu daerah di Nusantara ini dimana menurut mereka agama mayoritas adalah Islam, memang benar jadi jangan digeneralisasikan bahwa semua aturan dan peraturan harus ber-warna islam. jadi, kita patut beryukur alhamdulillah-haleluya bisa hidup rukun walau kita tidak saling va be'ö. artinya dengan perjumpaan setiap saat telah menyatukan kita yaitu Nias.

Maaf, ini hanya asumsi saya...saya ingat sekali saat itu saya masih SD, tetangga kami adalah moslem dan memiliki anak yang sebaya2 dengan kami juga saat itu. Mereka selalu nghina dan ngeledek, katanya apa saja Kristen itu nyanyi2 trus. Lha padahal sodara ini dilingkungan ini hanya 3 KK tapi bisa2nya lagi menghina saodara yang lain. Untung saat itu dan hingga saat ini tidak terlalu ditanggapi. Karena kita tahu dan memaklumi keadaan2 seperti itu. Mungkin kalo pola pikir kita seperti manusia saat ini (maaf) FPI yang main hakim sendri dan merasa mereka yang suci dan benar pasti Nias juga telah kena imbas dari sifat2 anarkis seperti itu. Tapi sekali lagi syukur Alhamdulillah-Haleluya Allah masih dipihak kita sehingga Nias tetap aman dan damai.

Untuk saudara Ebdel, teruskan kisah ini biar kita semua tahu dan Negara Indonesia tahu kalo multikulturalisme itu bisa hidup di Nias.
Karena Nias adalah wilayah Yerusalem ke-2 hehehehe...
4. Mon, 01 December 2008 20:23:01 oozisokhi mendrofa karawang,jabar alfredy_021@yahoo.com 125.160.247.119
Luar biasa
saya salut dengan pemaparan sejarah ini.
satu hal yang menjadi kendala di lingkungan kita adalah Fanatisme terhadap agama terlalu berlebihan,sehingga kendala dalam berbaur dengan antara pemeluk agama selalu tidak bisa digabungkan.sama hal nya dengan coment saudara marzo ,hal ini dalam keluarga saya juga saya alami dimana bila anaknya menjadi ndrawa akan diputus sebagai anak/saudara.
Harapan saya semoga pola pikir masyarakat kita dapat lebih luas lagi sehingga kejadian ini tidak terjadi lagi,karena agama itu sama tujuannya hanya jalannya yang berbeda.
teruskanlah history ini sepaya ilmu kita semakin banyak.
5. Mon, 01 December 2008 20:34:02 Ga'atalu XL-Gone lihat IP Manawa_dano@yahoo.com 125.160.199.94
Hal prinsip dalam agama tentu tidak bisa disamakan, namun memahami dan menolerir perbedaan merupakan suatu kemuliaan.
Satu pesan baik untuk Sdr.2 muslim Nias bahwa warga Nias Non Muslim (mayoritas) tidak akan memusuhi sdr.2 sedikitpun walaupun kita berbeda keyakinan.
Ada suatu keadaan sebagai konsekwensi budaya yang kami juga memohon pemahaman oleh Sdr.2 muslim yang berhubungan dengan adat dan makanan khas Nias. Tidak sedikitpun ada niatuntuk mengucilkan jika Sdr.2 tidak bisa hadir dalam adat kami karena ada sesuatu hal yang pantang dalam ajaran muslim, justru kami senang dengan Sdr.2 yang datang. Bila sdr.2 datang ke acara kami, tentu kami tidak memberikan yang pantang untuk Sdr.2, sebab kami juga mengerti, toleran dan menghargai. Demikian sebaliknya, kami juga tidak bisa menghilangkan warisan budaya leluhur (yang didalamnya mengandung sesuatu yang pantang dalam ajaran sdr.2 ) sehingga hanyalah saling pengertian yang kita harapkan agar kita selalu hidup damai bersama.
Dalam forum lain yang tidak ada unsur adatnya kami terbukti dapat bersanding dengan sejajar dengan rukun dan damai terhadap sdr.2 Jadi, hal dalam kurung diatas sebaiknya dilihat dari konteks yang wajar.
Saat ini saya berada dilingkungan mayoritas muslim, dan di tempat saya tidak boleh dibangun gereja. (ini fakta, sure.... ini benar) Namun saya bersyukur bisa menempatkan diri dengan baik, saya banyak teman ustad dan kyai walaupun mereka tau saya bukan muslim. Mereka toleran, bahkan kebaktian di rumah saya dibantu oleh rekan-rekan muslim dalam menyusun kursi dan mengambilkan perlengkapan pendukung. semoga hal ini menjadikan kita "teman, sdr dan family yang saling memahami dan saling menyayangi. Agamamu.....agamamu, agamaku...agamaku, kita tetap bersaudara.... Ya'ahowu
6. Mon, 01 December 2008 21:56:43 Sahira Zai Surabaya Sahira_nias@yahoo.com 74.125.74.83

Terimakasih..ira talifusögu maafefu,yg telah menyampaikan pendapatnya yg menurut sy sangat baik dan bijaksana..
sy sendiri seorang muslim keturunan Zai,dan sifasambua tua khögu protestan,sampai sekarang tidak masalah..dikeluarga kami,,marilah kita saling menghargai dan menghormati,,mudah-mudahan dengan rasa persaudaraan kita sesama ono niha,,Nias kita akan lebih baik.
hidup ono niha!!!
Tq
7. Mon, 01 December 2008 22:43:55 Oktavianus Gea Jakarta oktavianus_gea57@yahoo.co.id 202.152.15.147
Ya'ahowu

Baik adanya topik ini,dan biar kita tau semua sejarah yang ada di pulau nias.
untuk saudara Ebdel: setelah membaca artikel saudara yang cukup bagus saya jadi ingin nanya sejarah ini saudara dapat dari mana aja ya??,banyak kah sumber yang saudara pakai atau cuma satu sumber doang (biar lebih jelas gitu loh.....)

NOTE : Saya sangat berharap saudara memberikan sumber-sumber sejar yang anda buat dengan lengkap.Terima kasi dan Tuhan Yesus Memberkatimu.
8. Tue, 02 December 2008 11:57:08 AJP. Tangerang otniel_hia@yahoo.co.id 203.163.101.196
Jadi setelah saya baca sejarah diatas, Ira Tuada baik yang muslim & Kristem pada dasarnya bersatu Padu (Sara dodo) bersahabat.
Puji Tuhan kita di Pulau Nias sangatlah Rukun dan damai2 saja karena kita semua sodara.
Teringat waktu SMP saya dkk membantu membersihkan Mesjid, dan juga beberapa kawan-kawan muslim membantu kami dalam perayaan Natal itu adalah momen yang indah sekali. Mudah mudahan kita dipulau Nias jangan terpecahbelah atau diadu domba oleh orang lain hanya karena merasa paling benar yang lain jahat, karena ajaran baik Muslim dan Kristen benci dengan peperangan dan kekacauan.
9. Tue, 02 December 2008 13:08:02 Yustitus Zagoto Lemhannas RI yustitus_z@yahoo.co.id 203.130.231.202
Sdrku Ebdel, saya sangat berterimakasih atas tulisan ini dan kalau masih ada lagi silahkan teruskan menulisnya sebab dari sana semua orang akan membacanya dengan beberapa kesimpulan tentang masuknya Islam dsi Nias :
a. Bahwa sesungguhnya Keturunan Nias sebagian ada pertalian hubungan darah antara Nias dan Aceh hal ini akan membantu mengungkap sejarah keturunan Nias.
b. Bahwa agama Islam, masuk di Nias oleh Teuku Polem tahun 1642 hingga sekarang terhitung sudah cukup lama namun perkembangannya tidak sepesat agama Kristen (Protestan/Katolik) hal ini akan membantu mengungkap sejarah masuknya agama Islam, Kristen Protestan/Katolik, Budha, Hindu dan aliran kepercayaan lainnya di daerah Nias.
c. Bahwa asal muasal para pembawa agama ini baik Aceh maupun Eropa membantu mengungkapkan Kebudayaan Nias yang kita kenal sekarang ini.
d. Sesungguhnya bahwa agama itu semua baik dan mengajarkan hal-hal yang benar sebagai pedoman hidup manusia, namun tidak semudah ungkapan, aplikasinya yang susah,. Sebab sepanjang mendahulukan kepentingan individu, kelompok bukan kepentingan umum/orang banyak maka hal itu sulit dicapai.
e. Memulainya dimulai dari diri sendiri "Cintailah SesamaMu Manusia seperti Dirimu Sendiri". Demikian dari saya Ya'ahowu.
10. Tue, 02 December 2008 13:13:38 zulkarnaini zai jakarta cempaka_zul@yahoo.co.id 118.136.28.44
saya sangat senang dengan artikel ini .ini menambah wawasan saya mengenai islam di nias , sebab saya sendiri sebagai orang nias islam yang berketurunan di padang sering bertanya dalam hati " kapan keluarga besar saya masuk islam ? karena keluarga besar kami mayoritas islam dan setahu saya orang nias padang generasi generasi permulaan ( sering disebut sebagai orang padang asli ) mayoritas beragama islam barangkali mereka sudah beragama islam ketika ke padang ( mungkin 200 - 300 thn yang lalu ). tapi kalau di nias sana ada ketiadaan kesamaan hak saya sangat sesalkan sekali karena kami di Padang dengan saudara kami yang non moslem sesama orang nias tetap berhubungan baik ,barangkali pemimpin pemimpin nias harus serius memikirkan hal ini supaya kita tetap bersatu dan saling berbagi kasih.semuanya untk kejayaan nias. amiin
11. Tue, 02 December 2008 13:53:24 AJP. Tangerang otniel_hia@yahoo.co.id 203.163.101.196
Buat Respon #10 Bapak/Ibu Zulkarnaini Zai,

Salam kenal Ya'ahowu.
Saya bangga kepada suadara mengaku orang Nias dan tidak malu memperkenalkan diri.
Mengenai komentar anda "di nias sana ada ketiadaan kesamaan hak saya sangat sesalkan"
Menurut saya itu lumrah saja, karena Nias mayoritas Nasrani.
Kami juga diperantauan sebagai warga Nasrani yang berada di daerah yang mayoritas Muslim, ada beberapa hak-hak kami yang sering mereka abaikan dan menganggap kami sebagai masyarakat nomor dua, tapi kami juga tetap menganggap itu lumrah saja mudah mudahan kedepan pemerintah dapat mengatasi perbedaan ini.

Kalau kita semua jujur kerukunan serta kebebasan umat beragama di Nias adalah yang terbaik dari daerah lain di Indonesia karena dari awal sejarah kita memang sudah rukun dan bersaudara.

Tuhan Yesus Memberkati,
12. Sun, 20 November 2011 18:43:40 Rifki arisandi telaumbanua afaffffff rifkyarisandi49@yahoo.co.id 125.165.51.7
ini sebuah tanda sejarah, bahwa sanya kita adalah bersaudara baik itu dari golongan
Nasrani maupun muslim disekitar pulau nias. Mudah-mudahan ini menjadi tanggung jawab kita bersama agar kedamaian di Pulau nias tetap utuh selamanya AMin......ya rabbal alamin.
13. Mon, 21 November 2011 04:00:24 Amir Hasan Medan a.hasan961@yahoo.co.id 202.162.199.242
Harus diakui bahwa Agama Islam masuk pertama sekali di Kep Nias adalah dibawa 0leh orang Aceh, yang sekarang memakai atau menambahkan di depan namanya dengan sebutan Marga Aceh/Polem ( di Provinsi Aceh tidak memakai/menambahkan di depan nama ) hal ini mengikuti penduduk Kep Nias yang memakai marga di depan namanya, Orang Aceh datang di Kep Nias secara bertahap dan pada umumnya mendiami daerah pantai/sungai seperti di Sungai Muzoi/Nalua, Pantai Toyolawa, Pantai Afulu (Nias Utara), Sirombu, Boazihona dll. Setelah orang Aceh disusul oleh orang Bugis (Sulawesi) dan orang Minang (Sumbar). Kita harus berterima kasih kepada mereka bahwa atas jasa-jasa mereka Agama Islam telah diterima dengan baik, walaupun perkembangannya amat memperhatinkan. Menurut pengamatan saya populasinya belum mencapai 10 %, namun demikian kerukunan hidup beragama tetap terjamin karena didasarkan kekerabatan hubungan pernikahan dan sosial lainnya. Wassalamu Alaikum Wr. Wb...... Saohagolo.
14. Mon, 21 November 2011 09:07:07 donni Nias Donni_@yahoo.com 110.137.27.9
saudara no. 10: ketidak samaan hak yang saudara katakan yang mana...??? dan tolong saudara jelaskan..........
15. Mon, 21 November 2011 09:24:07 donni Nias Donni_@yahoo.com 110.137.27.9
Dan saudara yang membuat TULISAN INI: tolong Perhatikan tulisan saudara, "SEJARAH MASUKNY AGAMA ISLAM DI NIAS" tetapi apa hubungannya dengan yang di salam kurung ( Mengapa ndrawa tidak mendapat hak yang sama dengan warga Nias- Asli .....maksudnya apa...???
Menurut saya anda tidak tulus membuat Tulisan ini dan seakan-akan saudara menuntut sesuatu dan mempunyai maksud tertentu...............saya tanyakan kepada saudara sejak kapan Masyarakat yang beragama Islam di Nias tidak dihargai....???
Kalau memang saudara menulis sejarah...ya sejarah saja............biar juga org tau sejarah masuknya agama Islam di Nias ini...........itu saja
16. Thu, 28 September 2017 23:04:57 Hendi Novarlin Hia Surabaya varlinjoong@gmail.com 107.167.98.197
Pulau Nias adalah Yerusalem ke-2
Halleluiyah........!!!!!!!!!!!!!!!
Segala puji syukur hanya di panjatkan kepada Tuhan kita Yesus Kristus yang adalah Inkarnasi Tuhan Alla YHWH pencipta langit dan Bumi........ Pulau Nias adalah Serambi YERUSALEM Kota KUDUS.......

First|Previous    Next|Last

Number of records = 16
Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

©2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000