NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  Kese-Kese (Discussion)
 
 

Thu, 19 July 2018 16:17:05 | Nurliana Novi | JARKATA
Komentar dari berita : Anggota DPR RI Eka Santosa : ... (NIC, 1/11/2008)23 Responses

 

Thu, 19 July 2018 04:17:28 | Sudirman | Mataram
Ruang Curhat Alumni SMU 3 Gunungsitoli80 Responses

 

Sun, 15 July 2018 09:21:22 | Global Fund Foundation | uuuuuu
Dapatkan pinjaman Anda sekarang dalam 48 jam8 Responses

 

Mon, 09 July 2018 06:23:16 | charles lawhorn | italy
Bisnis Pupuk Organik Nasa2 Responses

 

Fri, 06 July 2018 18:39:11 | Yasama poetra zendrato | Bawad6sel6
perkumpulan marga zendrato22 Responses

 

Fri, 06 July 2018 14:37:30 | fred | Получl
LOWONGAN KERJA620 Responses

 

Wed, 04 July 2018 20:29:58 | Argi egi pratama | Jakarta timur
YANG TIDAK PERLU DITIRU DARI KARAKTER ORANG NIAS46 Responses

 

Sun, 24 June 2018 16:13:54 | Limes Asset Managers | United Kingdom
MANAJEMEN PENCATATAN PEMAKAIAN LISTRIK OLEH PETUGAS PLN GUNUNGSITOLI MENYEBABKAN PELANGGAN HARUS MEM1 Responses

 

Sun, 24 June 2018 11:22:24 | fred | Получl
BUTUH PEKERJAAN6 Responses

 

Tue, 19 June 2018 21:38:11 | mr scott | russia
BUTUH INFO1 Responses

 

Tue, 19 June 2018 03:33:56 | mrs stella | united states
ATM Blank1 Responses

 

Sun, 17 June 2018 10:31:44 | Efendi | Jarkatar
ALUMNI SMU N 1 LAHEWA DARI ANGKATAN PERTAMA SAMPAI ALUMNI AKHIR ZAMAN780 Responses

 

Sat, 16 June 2018 19:27:45 | vania | bsd city
Benda Sejarah Warisan Nias31 Responses

 

Wed, 06 June 2018 15:13:07 | mr scott | russia
1 Responses

 

Mon, 04 June 2018 18:35:37 | mr scott | 22 high
PROSEDUR KREDIT USAHA RAKYAT (KUR)37 Responses

 

Wed, 30 May 2018 19:28:50 | James Potter | 7765465 grf stolkhom
proyek jembatan milyaran rupiah terlantar 6 tahunan1 Responses

 

Mon, 28 May 2018 01:26:21 | ENDA PUTRA GEA | 08101998
34 TOKOH MASYARAKAT DI PULAU NIAS18 Responses

 

Sat, 26 May 2018 12:07:45 | agung syahrial telaumbanua | labura aek kanopan
mencari adik ayah

 

Fri, 25 May 2018 15:31:08 | agung syahrial telaumbanua | labuhan batu utara
Cari Keluarga di Nias1 Responses

 

Thu, 24 May 2018 05:55:54 | Mayfield Investment Trust Ltd | Indonesia
Jarle Thorsen SiteTalk1 Responses

  Index | Add New Topic  
21/4/2007 23:13:49 | Restu Jaya duha, Karlsruhe - Jerman | IP: 84.163.255.250
1,182 Benarkah marga DUHA di Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan berasal dari Aceh? 10 Responses
Ya'ahowu Fefu

Pada buku ASAL USUL MASYARAKAT NIAS Suatu Interpretasi oleh Pastor Johannes Maria Härmmerle, OFM.Cap (2001 halaman 224-226), tertera bahwa Keturunan Marga Duha di Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan berasal dari Aceh?.

Sekitar 350 tahun yang lalu ada orang Aceh yang berlayar ke Nias. Di mendarat di pantai timur Nias Selatan namanya POLEM. Polem berkeluarga disana dan memperanakkan LAGOGAKHA DAU'A dan LAGOGAKHA DAU'A memperanakkan DUHA. Artinya marga Duha adalah cucu Polem.
Umumnya Marga Duha berdomisili di daerah To’ene di Teluk Dalam.

Saya sendiri sebagai keturunan marga Duha yang berasal dari Desa Bawödobara Kecamatan Teluk Dalam, sepertinya saya meyakini hal ini, sebab almarhum kakek saya yang bernama Fotanö Duha (Ama Duhoma Duha) yang berasal dari Desa Bawödobara pernah menceritakan bahwa Marga Duha berasal dari Aceh dan bersaudara dengan marga Polem atau marga Aceh yang sebagian besar berdomisili di Gunung Sitoli.

Besar harapan saya hal ini benar.

Kemudian pertanyaan berikutnya Polem berasal dari daerah Aceh yang mana??
Adakah para Netter yth. mengetahui hal ini?

Terima kasih.
Salam, hormat saya

Restu Jaya Duha
Karlsruhe-Jerman

KESE-KESE belum tentu berisi diskusi ilmiah atau mengandung kebenaran universal (tergantung pada opini pribadi masing-masing). Jadi pembaca harus bijaksana memilah-milah mana yang benar dan mana yang tidak.

KAMI memiliki hak (bukan kewajiban) meng-edit bahkan menghapus Kese-Kese yang menurut kami tidak layak.

ISI serta akibat atau pengaruh Kese-Kese adalah di luar tanggung jawab NiasIsland.Com.

PEMBACA harus telah menyetujui semua klausa di atas sebelum berselancar di halaman KESE-KESE.

First|Previous    Next|Last

Pick Date
No Resp-Time Resp-by Address Email IP
1. 22/4/2007 07:49:56 Teuku Wira Alam Jakarta wiralam@yahoo.co.id 61.5.16.120
Saya memiliki beberapa tulisan tentang riwayat kedatangan Teuku Polem ke Nias, sumbernya tidak begitu banyak namun kami sedang berusaha mengumpulkan dan melengkapi lebih banyak lagi tentang hal ini.
Tentang kaitan antara Duha dan Polem, bagi kami masyrakat Nias keturunan Aceh, bukan hanya sekedar isapan jempol belaka. Riwayat tentang hal ini sudah banyak diceritakan oleh orang-orang tua kita dulu secara turun-temurun. Anak keturunan bermarga Polem maupun marga Aceh juga mengetahu dan meyakini pertalian darah antara Polem/Aceh dengan Duha.
Salah satu paman saya yang dulu (tahun 70-an) sering bertugas ke Teluk Dalam menceritakan bahwa salah seorang "Jawara" di Teluk Dalam waktu itu ada yang bermarga Duha dan sangat disegani dan ditakuti, namun dengan paman saya bermarga Polem ini dia sangat hormat dan memperlakukannya seperti saudara kandung. Ini dikarenakan dia tau kalau mereka beda marga tapi punya pertalian darah.
Cerita lain juga pernah saya dengar dari seorang famili yang pernah bertugas ke pedalaman ke arah selatan dengan menggunakan sepeda motor (sekitar tahun 80-an). Di tengah perjalan di daerah yang agak sepi dan dikelilingi hutan dan semak tiba-tiba sepeda motor mereka mogok. Saat memperbaikinya, sekonyong-konyong dua orang muncul dari tengah semak menghunus golok panjang dan menanyai mereka dengan agak kasar, saat seorang penanya tersebut menanyakan asal dan marga, saudara kami ini menjawab dari Gunungsitoli marga Polem, si penanya tadi langsung memeluknya dan meminta maaf atas kekasaran mereka . Ternyata mereka ini bermarga Duha.
Teuku Polem sendiri berasal dari wilayah bagian Barat Aceh, tepatnya di Preumbeue Meulaboh. Riwayat selengkapya tentang Teuku Polem ini dapat diikuti di blog Komunitas Muslim Nias di postingan kami di http://history.muslim-nias.org yang berjudul:
1. Sejarah Masuknya Suku Aceh di Nias
2. Riwayat Kedatangan Teuku Polem di Pulau Nias
Mudah-mudahan bisa membantu dan menjawab keingin tahuan saudaraku Restu Jaya Duha.
Salam(Teuku Wira Alam)
2. 22/4/2007 13:48:23 Etis Nehe Jakarta etisnehe@yahoo.com 202.137.6.97
Menarik juga membahas hal ini.

Beberapa pemikiran dari saya:
1. Bahwa kemungkinan keterkaitan antara dua komunitas pada dua daerah yang berdekatan tidak bisa dipungkiri.

2. Tesis Johannes Hammerle masih perlu dipelajari lebih jauh. Namanya saja tesis, apalagi bila sejauh ini itu baru satu-satunya tesis.

3. Masalahnya bisa juga dibalik. Penyelidiikan sejarah (yang saya baca pada beberapa tulisan) penduduk Mentawai berasal dari Nias dan bukan sebaliknya walau masih berdekatan pulau. Apakah tidak mungkin hal yang sama terjadi pada hubungan antara masyarakat Aceh dan Nias?

4. Masih terkait nomor 3. Saya lupa edisinya, tetapi beberapa waktu lalu (semoga saya tidak salah), pada salah satu edisi National Geographic Indonesia pada tahun lalu (saya lagi cari juga kembali edisi itu), dipaparkan bahwa ada kemungkinan bahwa penduduk Nias termasuk yang penduduk pertama di Nusantara.

Ok, terima kasih.


E. Nehe
3. 25/4/2007 15:39:06 Restu Jaya Duha Karlsruhe-Jerman restujayaduha@yahoo.com 129.13.72.33
Yth. Bapak Teuku Wira Alam

Terima Kasih atas informasinya, sangat membantu. Saya sudah membaca Sejarah Masuknya Suku Aceh di Nias dan Riwayat Kedatangan Teuku Polem di Pulau Nias, sesuai yang Bapak sarankan. Beberapa point yang sangat penting telah saya mengerti, bahwa Teuku Polem berasal dari Meulaboh - Aceh (sekarang Propinsi Nangrou Aceh Darusalam - NAD). Namun bagaimana riwayat Teuku Polem di Teluk Dalam masih belum tertera dalam tulisan tersebut.

Sepertinya masih banyak yang harus digali tentang ini, sangat terbuka bila ada yang ingin mendalaminya. Apalagi kalau dikaitkan dengan pendapat Bapak Etis Nehe, bahwa Penduduk Nias termasuk penduduk pertama di Nusantara sesuai yang pernah Bapak ketahui dari National Geographic Indonesia. semakin sangat menarik. Saya sangat senang berdiskusi dengan Bapak.

Tahun 2004 lalu saya sudah berkunjung ke Banda Aceh tidak dalam rangka penelitian namun untuk memenuhi undangan GTZ Jerman di Banda Aceh.
Namun saya berkeinginan untuk berkunjung ke Meulaboh suatu saat. Kalau boleh tahu keturunan Teuku Polem yang bisa ditemui siapa dan dimana? Terima kasih atas informasinya.

Yth. Bapak Etis Nehe

Terima kasih atas tanggapannya, dan yang saya sangat tertarik tentang Kemungkinan bahwa Penduduk Nias termasuk penduduk pertama di Nusantara sesuai yang pernah Bapak ketahui dari National Geographic Indonesia. Semakin terbuka penelitian untuk mengungkapkan sebenarnya asal usul "Ono Niha" dari mana. Atau kalau boleh dibalik bahwa suku "Ono Niha" sebagai salah satu "Nenek Moyang" suku lainnya di Nusantara. Mungkinkah?

Juga mengenai asal usul marga "Duha" di Teluk Dalam, ternyata dari uraian Bapak Teuku Wira Alam bahwa benar berasal dari Aceh tepatnya di Meulaboh. Namun semua tesis akan semakin lengkap jika ada dokumen yang mendukung.

Terima kasih kepada Bapak berdua. Selamat berkarya.
GBU

Ya'ahowu
Hormat saya,

Restu Jaya Duha
Karlsruhe - Jerman
4. 28/4/2007 06:25:47 Teuku Wira Alam Jakarta wiralam@yahoo.co.id 202.152.206.5
Talifusogu Restu J. Duha,

Seperti saya ungkapkan sebelumnya bahwa sumber-sumber sejarah riwayat Teuku Polem ini masih sedkit. Beberapa hal tentang riwayat kedatangan dan keberadaannya di Gunungsitoli sekitarnya saja masih banyak yang belum kami ketahui.

Selama ini riwayatnya hanya dikisahkan dari mulut ke mulut, dan hanya satu dua orang yang menuliskan, itupun belum cukup lengkap dan terkadang menuai kontroversi.

Saya juga pernah mendengar bahwa salah satu marga di P.P. Batu adalah keturunan dari marga Duha, sayangnya saya sudah agak-agak lupa, karena ceritanya sudah agak lama saya dengar dan sedikit berbau "legenda".

Mengungkap bagaimana riwayat Teuku Polem hingga ke Nias selatan tentu sangat menarik. Saya turut mendoakan niat pak Duha untuk ke Meulaboh, sayangnya sekarang ini belum ada kerabat atau saudara kita yang bermukim di Meulaboh. Tadinya ada beberapa kerabat kita yang di Banda Aceh, namun sudah pindah ke Jkt dan ada yang turut menjadi korban Tsunami.
Walaupun demikian, saya akan cari tau tentang hal ini.

Pendapat Etis Nehe saya kira sangat beralasan dan bisa jadi benar. Seperti yang diberitakan di Tempo Interaktif 25 Nov 2006 lalu: "Jejak Manusia Pertama Sumatera Utara Ada di Pulau Nias".
Kliping artikel tersebut sudah saya posting di:
http://history.muslim-nias.org/2007/02/jejak-manusia-pertama-sumatera-utara.html

Senang sekali bisa mendiskusikan hal ini.
Saohagolo.
Teuku Wira Alam
5. 28/4/2007 17:45:40 Restu Jaya Duha Karlsruhe-Jerman restujayaduha@yahoo.com 84.163.236.118
Yth. Saudara Ku Teuku Wira Alam
di
Jakarta

Saya sangat senang bahwa Bapak dapat memberi informasi tentang marga Duha, walaupun belum lengkap tapi sebagai langkah awal untuk menelusurinya sudah dimulai. Saya sangat menghargainya. Malah saya berpikir kalau saya punya kemampuan untuk meneliti ini, mengapa tidak.

Saya sudah baca tentang "Jejak Manusia Pertama Sumatera Utara Ada di Pulau Nias" sesuai yang Bapak sarankan. Ternyata semakin menarik saja untuk menelusuri hal ikhwal tentang "Ono Niha".

Tidak tertutup kemungkinan kalau terpecahkan hal di atas, maka asal-usul marga Duha juga akan terpecahkan bukan?

Terima kasih informasinya. Kalau tidak ada halangan saya sudah merencanakan ingin mengunjungi Meulaboh tahun depan. Terima kasih juga atas usahanya untuk mencari info tentang yang bisa ditemui saudara yang di Meulaboh dan di Banda Aceh atau di Jakarta.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Selamat berkarya.
Tuhan berkati.

Ya'ahowu

Restu Jaya Duha
Karlsruhe - Jerman
6. 28/4/2007 17:51:45 Etis Nehe Jakarta etisnehe@yahoo.com 202.137.6.97
Pak Restu dan Pak Wira, kayaknya makin lama diskusi ini mengingatkan saya pada info lain yang pernah saya baca sebelumnya walau sudah tidak hafal betul.

Hal lainnya terkait asal-usul penduduk Nias, kalau tidak salah, beberapa waktu lalu ada tim peneliti dari Jerman yang meneliti DNA (semoga tidak salah) penduduk Nias. Saya dengar penelitian di Nias sudah kelar sekitar satu atau dua tahun lalu. tinggal menunggu hasil pemeriksaan di laboratorium di Jerman. Hal itu, menurut saya akan sangat membantu, tapi katanya, butuh waktu lama karena biayanya mahal.

tks.
7. Mon, 02 February 2009 11:53:55 Syamsuri Medan Syamsuripol@yahoo.com 125.162.36.233
To Restu Jaya Duha

Ya ahowu talifuso

saya sangat tertarik dengan wacana ini, salah satunya saya bermarga Polem dan hal ini juga berkaitan erat dengan sejarah / asal usul nias.

Jawaban / respon di atas juga sangat menarik namun pada kesempatan ini saya hanya memberi tambahan yang saya dapatkan dari cerita para orang tua dan dari buku sejarah kedatangan Teuku Polem bahwa orang Teuku Polem (Teuku Cik ) berasal dari Meuraksa Kutaraja (Banda Aceh) Mukim XXVI. (bukan dari Meulaboh) namun oleh penugasan maka di wilayah kekuasaannya di aceh barat berpusat di Meulaboh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Pengalaman pribadi saya saat mendampingi Pj. Bupati Nias Selatan pada saat pemantauan Pelaksanaan Pilkada (mengunjungi TPS) di Nias Selatan. Saat itu rombongan menyempatkan berkunjung ke Hili Sataro. Dengan inisiatif saya melakukan dialog dengan masyarakat dan bertanya marga apa yang mendominasi daerah ini (dalam bahasa nias tentunya) Jawabnya Marga Duha dan saya kemudian menyampaikan bahwa saya bermarga Polem, diluar perkiraan dan penuh rasa haru ternyata salah seorang memanggil orang-orang disekitar TPS seraya berkumpul sambil berteriak Talifusoda Daa, kemudian saya diajak masuk kedalam rumah dan disuguhi kopi hal itu menarik perhatian Pj. Bupati dan menanyakan perihal tersebut. Namun karena waktu saya tidak dapat berbincang lama dengan mereka (talifusogu)

Kemudian sebuah riwayat yang saya dengar bahwa pada suatu waktu salah seorang marga Polem berasal dari Mudik pergi berdagang ke arah selatan (T. Dalam) dan ia berjumpa dengan beberapa orang. sebagai orang asing di daerah tersebut ia ditanyai dan mengaku bermarga polem namun orang - orang di daerah tersebut (bermarga Duha) tidak serta merta menerima maka mereka membawanya ke pada orang yang dituakan. orang yang dituakan tersebut menyatakan bahwa apa bila pecahan batu (pecahan batu eluk yang telah dibagi dua, satu bagian di Gusit dan satu bagian lagi di T. Dalam) ini dapat bertahan/ lengket di kening saudara maka benar bermarga Polem (Saudara kami) tetapi apabila tidak maka akan menerima akibatnya. pecahan batu tersebutpun diletakkan dikening dan ternyata benar-benar lengket, maka ia pun disambut dan dengan rasa kekeluargaan.

Untuk kelanjutan wacana ini saya mengusulkan diadakan sebuah pertemuan antara marga Duha dan Polem sekaligus mempererat keluarga serta melestarikan benda benda bersejarah / arsip yang masih ada untuk menghindari kesimpangsiuran sejarah bahkan bila perlu membentuk sebuah perkumpulan yang mempunyai rutinitas (diantaranya membentuk sebuah lembaga / arisan atau bila ada pesta pernikahan diantara keduanya saling mengundang)

Oh ya Informasi yang saya dapatkan dari Kakanda Makmur Polem bahwa akan dibentuk sebuah Tim (dari Nias) yang akan melakukan perjalanan ke Meuraksa dan Meulaboh untuk menelusuri sejarah tersebut dan hal ini juga telah disambut oleh keluarga / keturunan Teuku Imam Balo dan Siti Zalikha (adik Teuku Polem).

Salam kekeluargaan
8. Thu, 25 February 2010 09:25:18 kasihan charrys duha binong tangerang banten charrys_duha@yahoo.com 116.197.129.194
kepada saudaraku restu jaya duha saya juga pernah dengar cerita tentang keturunan marga duha adalah dari aceh ;cerita orang tua saya dulu dari bawo dobara (Ama Bazoolo duha)
9. Sun, 13 June 2010 22:07:15 Masykur Makassar masykur1708@yahoo.com 110.136.245.254
Assalamu alaikum... Yaahowu..

Saya baru akses web ini dan sangat menarik sekali.
Kebetulan saya juga termasuk komunitas Nias keturunan Aceh yang sama dengan saudaraku Polem dan Duha.
Kalau marga Polem ada di Mudik Gunungsitoli dan Duha ada di Telukdalam, kakek kami pertama kali justru berlabuh di Muzei/Batete, Nias sebelah agak ke Utara, antara Tuhemberua dan Lahewa, daerah pesisir.
Berbeda dengan Polem, kami dari dulu memakai "Aceh" di belakang nama atau katakanlah marga Aceh. Nama saya, Masykur Aceh.
Menurut saya, apa yang ditulis oleh Alm. Bapak Muhammad Idlim mantan Kades Mudik ada benarnya, karena beliau merupakan sesepuh orang Aceh bermarga Polem yang ada di Mudik.
Namun demikian, kaitan antara Aceh nya kami dengan Polem yang ada di Mudik, dari penuturan orangtua kami almarhum tidak ada akses. Bisa saja mungkin, Teuku Polem yang pertama datang ke Pulau Nias dan kemudian diikuti oleh kakek kami yang berlabuh di daerah pesisir arah ke Utara Nias, atau Teuku Polem berlabuh di Gunungsitoli atau Nias Selatan (?) dan yang lainnya masuk ke daerrah pesisir Nias lainnya, karena terbukti komunitas Nias yang bermarga Aceh tersebar di Olora, Afia, Sifahandro (asal Aceh Muzei), Lahewa, Toyolawa, Afulu, Salonako, Hinako, Sirombu ; disamping yang daerah Utara seperti Miga, humene, Foa, Bozihona.
Mengenai marga Duha seperti saudaraku Rstu J. Duha, dari orangtua kami pun pernah kami dapatkan penuturan bahwa Duha adalah marga keturunan Aceh sebagaimana saudaraku marga Polem dan kami yang memakai marga Aceh. Pertanyaan menarik, mengapa di komunitas kawasan Telukdalam tidak memakai marga Polem atau Aceh?
Orangtua kami almarhum menjawabnya karena dulu kakek kita dari Aceh itu yang berasimilasi dengan orang Nias asli di Telukdalam, keturunan nya tidak beragama Islam melainkan Kristen. Nah, berhubung orang Aceh identik dengan Islam, maka keturunan nya beragama Kristen oleh orang Nias memberinya marga DUHA, artinya TUAN. Duha atau Tuha. Marga ini diberikan untuk pendatang dari Aceh yang dihormati oleh orang Nias tersebut dan dianggap sudah menjadi orang Nias yang menyatu dengan mereka karena agamanya sama-sama Kristen. Berbeda dengan marga Polem dan marga Aceh yang masih tetap memeluk Islam, oleh orang Nias dianggap sebagai Ndawa.
Kerabat kami yang bermarga Aceh dan berdomisili di sepanjang pesisir Utara, pada umumnya mengerti dan memahami bahwa marga DUHA adalah saudara atau talifuso yang satu silsilah dari Aceh, hanya beda agama saja.
Saya sendiri yang sudah meninggalkan Nias sejak tahun 1982 dan kini berdomisili di Makassar Sulawesi Selatan, asal ketemu marga DUHA selalu merasakan bahwa itu adalah saudara saya dan ada perasaan yang khusus dibandingkan dengan marga orang Nias selain DUHA. Hanya saja, belum tentu saudaraku bermarga DUHA di perantauan memahami mengenai hal ini karena beberapa orang yang saya jumpai di Medan dulu tidak merespons apa-apa.
Saya sangat beruntung selepas SMA tahun 1981, setahun kemudian yaitu tahun 1982 bisa tinggal di Meulaboh Aceh Barat mengikuti salah satu famili yang sudah duluan merantau di sana dan bahkan sempat tinggal di Tapaktuan Aceh Selatan dan terakhir tahun 1985 di Banda Aceh. Lalu, hijrah ke Medan. Tahun 2001 saya kembali lagi bertugas di Banda Aceh di sebuah cabang perusahaan farmasi hingga tahun 2007 sebelum pindah ke Kalimantan Timur dan terakhir saat ini di Sulawesi Selatan.
Dari pengalaman saya di Aceh 1982-1985 dan 2001-2007 dimana saya pernah tinggal di Meulaboh, di Tapaktuan dan Banda Aceh dan pernah jalan ke ujung Aceh Selatan hingga Aceh Tamiang, banyak kota pernah saya masuki sambil perjalanan dinas (up country), memang benar ada yang namanya Preumbeue itu, saat ini sebuah kawasan kecamatan lk. 20 kilometer dari kota Meulaboh, terletak di jalur antara Meulaboh menuju ke Meulaboh.
Lalu yang namanya Mauraksa (menulisnya yang benar adalah MEURAXA) itu dimana? Meuraksa adalah nama daerah di kota Banda Aceh, saat ini sebuah Kecamatan di daerah Ulheuleu (baca : Ulele) yang dulu ketika tsunami itu daerah Meuraxa hancur rata dengan tanah dan saya perkirakan 90% penduduknya hilang ditelan tsunami. Waktu itu saya mengalami langsung tsunami kelabu tanggal 26 Desember 2004 itu.
Mengenai cerita bahwa orang Aceh Nias itu berasal dari keturunan Teuku Polem yang konon berdarah Meuraxa, bisa benar untuk saudaraku yang bermarga Polem. Namun, untuk kami yang bermarga Aceh, belum tentu kami adalah keturunan dari Teuku Polem.
Kalau benar Teuku Polem berasal dari Meuraxa dan kemudian memiliki anak cucu di Nias yang bermarga Polem kayaknya memang ada kecenderungan benar, karena secara fisik orang Aceh bermarga Polem yang dulu saya kenal tahun 70-an sewaktu masih sekolah di Gunungsitoli itu, orangnya putih-putih, hidung mancung, perempuannya cantik-cantik, putihnya beda dengan putih orang Nias asli yang agak
pucat, lalu pria nya beberapa ada yang berbulu lebat seperti pernah saya lihat dulu Farid bersaudara. Waktu saya di Banda Aceh dulu memang banyak orang Aceh yang asli Meuraxa itu memiliki ciri-ciri seperti marga Polem yang di Nias, karena mereka adalah keturunan Arab campur Turki. Berbeda dengan orang Aceh yang berasal dari Sigli, Lhokseumawe dan Langsa yang pada umumnya hitam-hitam karena berketurunan Hindustan. Seperti diketahui, orang Aceh (=ATJEH) adalah campuran dari Arab, Turki, Jaman, Eropah dan Hindustan. Eropah nya ada di Lamno lk 90 km dari kota Banda Aceh yaitu keturunan Portugis, hidung mancung-mancung dan sangat putih, lebih putih dari keturunan Arab dan Turki.
Kalau yang bermarga Polem memiliki bentuk fisik seperti orang Aceh Meuraxa yang pernah saya lihat di Banda Aceh, yang bermarga Aceh di Nias, seperti saya ini fisiknya sedikit agak berbeda, misalnya kulit, tidak seputih yang bermarga Polem. Saya dulu setahun tinggal di Meulaboh dan hafal betul bentuk fisik orang Aceh Barat, mirip kami-kami yang bermarga Aceh.
Artinya, antara yang bermarga Aceh dan Polem serta yang bermarga Duha ada kesamaan berasal dari Aceh, tetapi belum tentu sama-sama keturunan Teuku Polem.
Saya pribadi menyambut baik adanya rencana untuk mensurvey daerah asal muasal kakek-kakek kita yang dari Aceh tersebut, hanya saran saya, sia-sia kalau langsung ke Meuraxa dan Peureumbeu, karena dua daerah itu ketika tsunami merupakan daerah yang rata dengan tanah. Generasi mereka sekarang tidak pernah mendengar cerita Teuku Polem. Itu pengalaman saya selama kurang lebih 10 tahun di Aceh dan saya pernah ke daerah-daerah di Aceh Selatan, Barat Daya, Aceh Barat, Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Jeumpa, Aceh Tengah, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang dan kota Sabang. Yang belum saya jalani hanya Aceh Tenggara, Singkil dan Simeulue.
Sebaiknya kalau tambo sejarah itu mau ditelusuri, lebih baik melakukan komunikasi ke pakar Sejarawan yang ada di Unsyiah (Univesitas Syiah Kuala) Banda Aceh. Banyak pakar Sejarah Aceh yang mengetahui betul sepak terjang kesultananan Aceh di masa Sultan Iskandar Muda karena memang waktu itu pemerintahan Aceh meluas hingga ke pantai barat Sumatera termasuk daerah Karo, Dairi, Barus, Natal, Pulau-pulau Banyak dan lainnya itu.
Jadi saran saya pun kepada saudaraku marga Duha, untuk mengungkap silsilah tersebut bukan ke tempat kawasannya melainkan ke para sejarawan Unsyiah. Mereka pasti punya dokumen, meskipun saya juga yakin bahwa mungkin saja hasilnya tidak begitu menggembirakan karena ketika kakek-kakek kita telah memiliki anak dan cucu di Nias, akses mereka ke tanah nanggroe terputus sama sekali, artinya tidak ada lagi dalam catatan sejarah di Aceh itu sendiri. Apalagi, orang-orang di Nias dulunya masih buta huruf.
Hal yang sama sebetulnya dialami oleh pendatang-pendatang Aceh yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, di Tanah Karo atau Barus misalnya dan bahkan sampai ke daerah Indonesia Timur, dan pada umumnya mereka tidak lagi memakai embel-embel ke acehan seperti Teuku, Tengku, Cut, Nyak dan Keuchik. Bagi orang Aceh asli, pemakaian nama-nama itu tidaklah sembarangan dan ada syarat yang harus dipenuhi.
Satu hal, ketika saya berada di Aceh, justru nama saya tidak lagi memakai marga Aceh karena orang Aceh tidak mengenal marga. Oleh karena itu, sejak tahun 80-an saya tidak lagi memakai marga Aceh.
Kalau saya ditanya orang, saya jawab saya orang Nias hanya tidak pakai marga karena bapak saya keturunan dari Aceh yang merantau ke Nias.
Terima kasih.

Wassalam.
Yaahowu.


Masykur
10. Sat, 31 March 2018 00:10:49 Tugas Duha Hilianaa Gomo, Nias Selatan tugasduha17@gmail.com 114.125.53.46
Buat Abangnda Restu Jaya Duha.
Soal marga kita Duha, benarkah dari Aceh?
1. Pernah sy dengar tuturan dari Kakek sy bernama Ni'aki Duha (Alm.) alias Ama Harato dr Banua Hiliganowo bahwa Leluhur kita itu dulu pernah merantau ke aceh, dan sesampai di Aceh, Beliau menikah di sana dan melahirkan seorang putra diberinya nama Polem. Sementara istrinya yg ditinggalkannya di Nias, juga melahirkan seorang putra kemudian diberi nama Duha. Itulah sebabnya kemudian dikatakan Polem dan Duha adalah bersaudara. Jd perlu ditelusuri, apakah memang Duha itu dr Aceh, atau justru sbaliknya, Polem itu dari Nias.
2. Dikatakan Teuku Polem prnh Datang di Nias skitar 350 tahun yg lalu. Beliau Teuku Polem yg prnh datang dan menikah di Nias itu tentulah beragama islam. Patut kita pertanyakan, mengapa kemudian keturunannya (kalau memang marga Duha) adalah beragama Kristen? Sejak kpn mereka menjadi agama Kristen dan apa sebabnya. Bukankah seharusnya Teuku Polem dan keturunannya menjadikan daerah Toene asi itu menjadi daerah muslim seperti bbrp daerah di Nias yakni daerah Idano Ndrawa di Muzoi dan Lahewa Nias Utara, daerah Golora di Gunungsitoli utara, Daerah Mudik-simpang Meriam Gunungsitoli, Daerah Foa di Gunungsitoli Idanoi, Sirombu dan Kep. Hinako. Justru menurut saya, seharusnya daerah Toene Asi sbg Pusat peradaban muslim pertama di Nias sampai sekarang, mengingat Islam jauh lebih duluan masuk di Nias dari pada Agama Kristen. Yg terjadi, justru tdk adanya bukti bukti keislaman itu di Toene Asi. Sulit diterima bhw Polem itu tdk mewarisi agama islam kpd anak nanak keturunanya marga Duha
3. Pernah jg sy dengar bhw nenek moyang marga Duha adalah keturunan ke-8 dari penghuni Boronadu-Gomo yg kemudian bermigrasi ke arah selatan bersama saudaranya Amazihono. Amazihono berhenti sampai di daerah Lahusa, sementara Duha terus ke arah selatan menyusuri pantai, dan kemudian berhenti sampai di Nandisa yg kemudian daerah itu dan sekitarnya disebut To'ene Asi, dari kata Sifahene Asi yg artinya menyusuri pantai. Poin ini sejalan dgn apa yg prnh sy baca di buku FAMARESA HADA FONA BA NONO NIHA, yg ditulis oleh Dr. Moller, atau Dr. Schroder (sy lupa persis).
4. Utk mengatasi keraguan ini, baik dan perlu diadakan penelitian DNA khusus bagi Marga Duha dan Polem dan Aceh. Dugaan sy, jgn jgn meleset. Sama halnya dgn dugaan kita selama ini bhw nenek moyang Nias berasal dr salah satu daerah di Cina. Trnyata stlh tes DNA, diketahui Nenek Moyang Nias dri Taiwan Aborigin dan Filipina.

Demikian tanggapan sy kurang lebih, terbuka utk didiskusikan, dan terimakasih

First|Previous    Next|Last

Number of records = 10
Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000