NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  Kese-Kese (Discussion)
 
 

Mon, 24 September 2018 02:05:29 | PERINGATAN LASE | Nias selatan.
Binatang rabbiesssss!!!!

 

Mon, 24 September 2018 01:45:58 | PERINGATAN LASE | Nias selatan.
Harga Komoditas Naik (Kopra, Karet, Kopi, Kakao)Di Pulau Nias Yang Tidak Pasti39 Responses

 

Sat, 22 September 2018 17:01:31 | Edis Juniver | Jakarta
BANTUAN BENCANA NIAS, APA MUNGKIN DIKORUPSI?28 Responses

 

Wed, 19 September 2018 10:19:25 | linda moore | washington dc
PATUT DI DUGA PEREKRUTAN GBD NIAS SELATAN SARAT DENGAN PERMAINAN DAN KEVURANGAN32 Responses

 

Tue, 18 September 2018 18:21:36 | ELINA JOHNSON | JAKARTA
Dibutuhkan Nama Pemegang Mandat GMN Kota GS, Nias, Nias Barat dan Nias Utara1 Responses

 

Mon, 17 September 2018 16:07:43 | NOFANOLO GULO | JAKARTA PUSAT
GAJI PNS NAIK16 Responses

 

Mon, 17 September 2018 11:10:12 | Rahmat Eli Daeli | Togimbogi, Nias
Ciri khas makanan Nias.14 Responses

 

Mon, 17 September 2018 05:52:51 | Pak Paul Hart | United States of America
Guru Kontrak Daerah Kab. Nias Barat 9 bulan belum dapat gaji. (sumber nias-bangkit.com)1 Responses

 

Sat, 15 September 2018 21:08:34 | RAMADHAN ISLAMIYAT LOANS | indonesia
PLN T.Dalam1 Responses

 

Sat, 15 September 2018 16:36:07 | martini | martini
Dapatkan pinjaman Anda sekarang dalam 48 jam20 Responses

 

Sat, 15 September 2018 10:44:55 | Rahmat Jaya Ndraha | SEJARAH NAMA NIAS, GUNUNG
SEJARAH NAMA NIAS, GUNUNGSITOLI, TELUKDALAM DAN PULAU TELLO238 Responses

 

Thu, 13 September 2018 21:49:39 | Yolana | lotu
Amaedola (Pepatah) Ba Li Nono Niha27 Responses

 

Thu, 13 September 2018 10:58:52 | Heri Tel | Medan
Perguruan Tinggi Kelas Jauh di Kepulauan Nias9 Responses

 

Mon, 10 September 2018 13:56:40 | Tuan Paul Hart | Jarkata
PERLAKUAN PT.TIRTA SARI FLORAGRATA TERHADAP KARYAWANYA.1 Responses

 

Sat, 08 September 2018 22:22:48 | QUEEN JAMILLAH | JAWA
Jangan Tertiupu...WASPADALA HHHH......( Toko Emas )2 Responses

 

Sat, 08 September 2018 17:21:05 | Siswanni zebua | Muara teweh kalimantan tengah
ADA BERAPA BANYAK ORGANISASI MASYARAKAT NIAS YANG ADA DI MEDAN DAN KOTA-KOTA LAIN?8 Responses

 

Sat, 08 September 2018 11:58:35 | Ahmed Neni | London
UCAPKAN SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU39 Responses

 

Thu, 06 September 2018 12:49:47 | Efendi | Jarkatar
SUARA Dr. YASONA LAOLI DI NIAS HASiL PENGGELEMBUNGAN28 Responses

 

Fri, 31 August 2018 20:10:47 | Robbi | Indonesia
Bagaimana nasib masyarakat sesudah berakhir masa tugas BRR di Nias1 Responses

 

Fri, 31 August 2018 20:10:28 | Robbi | Indonesia
ALUMNI SMU 3 GUNUNGSITOLI YANG TERCINTA1 Responses

  Index | Add New Topic  
27/10/2004 07:21:09 | julimanharefa, losangeles | IP: 69.111.181.171
212 Benda Sejarah Warisan Nias 31 Responses
Dear all readers
Ada begitu banyak benda-benda sejarah miliki Nias yang di perjual belikan di dlam dan di luar negeri (lihat foto di colom even), PERLUKAH kita mengumpulkannya dan mengembalikannya ke Nias ?, Mungkinkah..lalu bagaimana caranya.

KESE-KESE belum tentu berisi diskusi ilmiah atau mengandung kebenaran universal (tergantung pada opini pribadi masing-masing). Jadi pembaca harus bijaksana memilah-milah mana yang benar dan mana yang tidak.

KAMI memiliki hak (bukan kewajiban) meng-edit bahkan menghapus Kese-Kese yang menurut kami tidak layak.

ISI serta akibat atau pengaruh Kese-Kese adalah di luar tanggung jawab NiasIsland.Com.

PEMBACA harus telah menyetujui semua klausa di atas sebelum berselancar di halaman KESE-KESE.

First| Previous    Next|Last

Pick Date
No Resp-Time Resp-by Address Email IP
12. 29/10/2004 12:21:57 Elfiyan Albertscerius Hulu Bandung rajahulu@yahoo.com 202.146.253.4
Buat Pak Pdt. Juliman Harefa,
Rasanya TEPAT saran dari Pak Pdt. Seniman Laowo (Resp.11).


Buat P'Seniman Laowo,
Jangan lupa ngundang Pak Pdt. Juliman pas hari H.

Terima kasih,

F 1 AN
13. 29/10/2004 12:52:42 Juliman Harefa los angeles juliman_h24@yahoo.com 69.110.132.186
Hi Seniman saya memang berusaha membeli foto dan dat tersebut untuk keperluan RISET, kalau dibanding dengan dollar Rp. 600.000 seitar $55 BUKAN $600.000 he...he...
kalau PEMBDA NIAS membutuhkan foto tersebut saya bersedaia menyumbangkan asal ada ganti ongkos belinya hihihihi...

hi Fian apa kabar...makin lancar main keybord-nya yyaa..jangan lupa terus melayani Tuhan via BNKP Bandung dan persiapkan adik-adik pemuda disanan untuk meneruskan pelayana....

julimanharefa
14. 29/10/2004 23:29:57 Nata'alui DUha Denver-Colorado AS nataaluiduha@yahoo.co.uk 130.253.173.63
Saya senang sekali mendengar segala komentar di NIC mengenai "Warisan Budaya." Sekarang ini kebetulan saya sedang belajar sedikit mengenai Museology (Ilmu permuseuman) dan Antropology di Universitas Denver Kolorado AS dan selama ini saya bekerja di Museum Pusaka Nias/Yayasan Pusaka Nias yang progam utamanya adalah pelestarian budaya Nias.
Perhatian Pak Juliman Harefa untuk mengembalikan benda-benda tersebut ke Nias cukup besar dan itu kita harus hargai, namun saya berpendapat begini:
1. Kita harus mempertahankan, memelihara dan memanfaatkan yang masih ada.
2. Sudah banyak tim atau perkumpulan yang sudah terbentuk, tapi sedikit yang bekerja dengan serius dan porfesional. Dalam hal ini saya tidak mau menyebut nama-nama organisasi.
3. Membeli barang-barang tersebut bukanlah, hal yang mudah. Pertama karena harganya yang sangat mahal, kedua untuk apa dibeli kalau tidak apa tujuan dan apa yang mau dilakukan dengan bend-benda. Harus diingat bahwa suatu artefak bukan saja disimpan, tapi harus ada usaha untuk memeliharanya dengan layak dan menjadikannya sebagai media untuk belajar. Kalau tidak, artefak tersebut hanya akan menjadi barang yang tak ada nilainya, menjadi sampah dan busuk begitu saja. Jangan salah, Prof. Dr. Rosemary A. Joyce mengatakan bahwa "Masyarakat tidak peduli, menjual, merusak benda arkeology semacam itu karena mereka tidak tahu nilai dan sejarah yang terkandung di dalamnya."
4. Apa saudara semua berpikir bahwa Pemda bisa melakukan hal itu? Bukan saja karena masalah Dana, tapi juga sumber daya manusia. Mengurus benda-benda arkeologi (artefakt), bukanlah pekerjaan yang asal jadi dan gampang. Diperlukan pengetahuan, dana, kearifan, kerjasama, lobi, komunikasi dll untuk untuk menanganinya. Hal ini saya katakan karena, itulah profesi yang sedang saya geluti.
4. Cara untuk mengembalikan Artefak Nias hanya dapat dilakukan dengan program "Repatriasi." Di Amerika Serikat mereka memiliki Undang-undang untuk ini disebut "NAGPRA," tujuannya untuk mengembalikan dan menghargai budaya masyarakat setempat (pemilik artefak). Dan ini berhubungan dengan Hak Azasi Manusia di bidang Kebadayaan.
minggu lalu, topik kuliah kami adala "UU NAGPRA" Lalu saya bertanya dan sekaligus mengusulkan kepada Profesor saya dan teman-teman lainnya agar NAGPRA tidak saja diterapkan di Amerika, tapi menjadi undang-undang badan dunia misalnya UNESCO. Saya ceritakan bahwa kebanyakan benda pusaka Nias, berada di luar negeri, terutama di Denmark, Belanda, Jerman, Swis dan Amerika Serikat.
Untuk menjajaki hal ini diperlukan lobi dan kerja sama antar lembaga bahkan antar pemerintah negara. Tapi harus ada yang menjadi motor.
5. Karena itu saya sarankan: Kita harus mendukung orang atau badan/lembaga yang telah dan sedang melakukan usaha untuk pelestarian budaya Nias.
6. Saya mohon agar tidak terlalu banyak berharap dari Pemerintah Daerah, karena hanya akan membawa kekecewaaan. Berbuatlah jangan tunggu orang lain, mulai dari diri sendiri, keluarga dan kelompok dengan usaha yang sederhana. Ini yang diperlukan.
Salam,
Nata'alui DUha
16. 29/10/2004 23:50:44 Gowi Kabu gowi@kabu.com 61.5.37.72
BRAVO..BRAVO.. Amada Nata'alui DUha..!!
Salut, saya 100% mendukung pendapat anda.
Teruskan perjuangan Anda, saya hanya orang awam soal-soal begini hanya bisa membantu dengan memberi pemahaman kepada banuada di Nias untuk menjaga dan melestarikan benda2 peninggalan sejarah dengan tidak merusak, menjarah, mencuri atau memperjual-belikannya.
17. 29/10/2004 23:53:59 Gowi Kabu gowi@kabu.com 61.5.37.72
Satu lagi, apa perkampungan omo hada di T.Dalam (khususnya Bawömataluo) atau situs-situs sejarah lainnya di Nias sudah dijadikan World Heritage ?
Kalau belum, apa amada Nata'alui DUha bisa memperjuangkannya ke UNESCO ??
18. 30/10/2004 00:53:39 julimanharefa los angeles juliman_h24@yahoo.com 67.126.128.214
Kalau begitu bung Nata, andalah orang yang tepat untuk mengkoordinasi hl ini dan lebih mengetahui caranya...apa yang anda perlukan untuk memulainya...biar saya dan teman-tman netter lainnya dapat membantuk sesuai dengan backround masing-maing...ditunggu....
19. 3/11/2004 03:50:25 Nata'alui Duha Denver-Colorado nataaluiduha@yahoo.co.uk 130.253.175.153
Terima kasih atas tanggapan dari Bung Gowi dan Pdt. Juliman Harefa.
Untuk Bung Gowi: Omo Hada di Bawömatalui saya pikir sudah masuk dalam World Heritage. Tapi tahunnya saya lupa. Satu atau 2 tahun yang lalu, Omo Hada di Hininawalö-Mazinö juga sudah masuh.
Masih ada 2 rumah adat "Omo Nifolasara" lagi yang ada di Nias yaitu di Desa Onohondrö dan Hilinawalö-Fau. Sayang sekali, 3 tahun yang lalu, pemilik "Omo Sebua" di Hilinawalö-Fau mengubah atap dan memotongnya sehingga tidak menarik lagi. Padaha rumah itu sangat menarik. Saya sudah mendekati dan memberi saran kepada pemiliknya, tapi, toh merekalah yang membuat keputusan untuk memilih mana yang terbaik.
Buat Pak Juliman Harefa:
Saya pikir apa yang telah dilakukan oleh Pak Pendeta Juliman Harefa merupakan karya nyata dan bukan angan-angan. Karena itu sebaiknya kita diteruskan.
Saya sudah jelaskan sebelumnya bahwa itu tidak mudah dan mustahil dilakukan oleh seseorang.
Pertama kita harus memiliki database (list) para kolektor baik individu maupun lembaga. Pak Harefa bisa melacak hal itu?
Kedua: Kita harus melakukan komunikasi dengan mereka dan bukan menawar harga untuk kita beli kembali. Pusat-pusat artefak Nias di Luar Negeri yaitu: Denmark, Belanda, Jerman, Perancis dan Amerika Serikat.
Di Wupepertal Jerman, saya pikir Pak Harefa dapat melakukan lobi. Begitu banyak artefak yang dibawa oleh para missionaris Zending Protestan ke sana. Tahun lalu ada pameran keliling mengenai koleksi Pendeta Fries di Wuppertal. Saya sudah bisikan kepada salah satu tokoh Pemuda Protestan agar pameran itu diteruskan di Nias, dan kemudian artefak Nias biar tinggal di Nias, dari pada busuk di gudang di Jerman. Jelas ini bukan pekerjaan kecil.
Jadi, kalau kita sepakat saya, dukunglah kegiatan Museum Pusaka Nias untuk melestarikan yang ada dan mencoba menyajikannya untuk masyarakat. Kami sangat membutuhkan dukungan dan kerja sama seluruh masyarat Nias dalam hal ini.
Yang ada mari kita pertahankan dan memanfaatkannya.
Juga tidak semua barang-barang mengenai Nias yang ada di luar negeri merupakan artefak (benda cagar budaya). Banyak para seniman Nias sekarang yang bisa membuat barang menjadi seolah-olah tua sekali, sehingga memiliki harga di pasar. Ini saya tahu benar, terutama di Nias Selatan.
Kalau kita tidak jeli, kita anggap itu asli, pada hal reproduksi. Terima kasih.
20. 3/11/2004 06:24:58 Juliman Harefa los angeles juliman_h24@yahoo.com 67.126.128.214
Bila Pak Nata bisa membuka/memiliki jalur ke sana (jerman) saya siap untuk melobi atau mengontak mereka...let me know...juliman harefa
21. 4/11/2004 04:18:46 Nata'alui Duha Denver-Colorado nataaluiduha@yahoo.co.uk 130.253.175.153
Justru Pak Pendeta Juliman Harefa yang saya duga punya ikatan moral dan hubungan dekat dengan VEM atau Anak-anaknya pendeta Fries. Ini hal yang sangat mungkin dilakukan oleh Gereja BNKP Nias dari pada membeli. Mungkin bisa ditawarkan agar koleksi para misionaris tersebut dipamerkan di Museum Pusaka Nias. Baru kita pikirkan langkah-langkah selanjutnya.
22. 4/11/2004 10:06:08 Y. Hia Kalimantan Barat hia_yeremia@yahoo.com 81.52.242.197
Buat Pak Pdt. J. Harefa.

Terimakasih atas kesediaan Bapak untuk meneruskan perjuangan kita semua untuk mengembalikan atau "mencari yang hilang" barang-barang pusaka Nias tercinta. Saya benar-benar salut kepada Bapak.

Saya pikir, alangkah baiknya juga kalau Pak Harefa dan Bapak Nata terus bekerjasama demi tercapainya rencana ini. Hanya saja kembali kepada masalah klasik, yaitu masalah dana dan SDM yang masih minim. Namun, menurut saya jangan sampai dana dan SDM ini menghambat pencarian benda-benda pusaka Nias. Mari kita berikan apa yang kita bisa berikan sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik.

Sekali lagi saya sampaikan bahwa SAYA BENAR-BENAR SALUT KEPADA Bapak Pdt. J. Harefa karena di tengah-tengah kesibukan sekalipun baik dalam belajar maupun dalam hal melayani, Bapak Pendeta selalu menyempatkan waktu yang sangat banyak bagi perkembangan Nias tercinta.

Selamat belajar dan selamat melayani.
23. 4/11/2004 13:37:13 Deddy Adisudharma Jl. Bukit Pakar Timur III/F-1 Ciburial B latitudesbdg@bdg.centrin.net.i 61.94.124.99
Saya adalah pengajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Pada tahun 1992, saya melakukan penelitian di Nias Tengah, tepatnya di Kecamatan Gomo, desa Tundrumbaho dan Gomo, serta beberapa desa lainnya seiring dalam upaya saya menyelesaikan studi di Jurusan Antropologi, Fakultas Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran. Saya melihat bahwa situs yang terletak di Gomo serta beberapa situs lainnya harus dapat dilestarikan dan dikaitkan dengan sektor kepariwisataan. Jelas, upaya penetapan situs-situs tersebut menjadi cagar budaya adalah sebuah keharusan. Akan tetapi untuk mendukung hal tersebut, maka tulisan tentang Nias harus diperbanyak, khususnya untuk menggugah pihak-pihak terkait, seperti UNESCO agar dapat menetapkan situs-situs tadi menjadi "World Heritage Site".
24. 4/11/2004 14:25:57 Juliman Harefa la-usa juliman_h24@yahoo.com 69.110.132.186
than Pak Deddy
ini satu usulan yang baik menjadikan situs di Nias menajdi "World Heritage Site". sehingga mendapat perhatian UNESCO,
Tapi gimanA caranya ya...
25. 4/11/2004 15:30:57 Efata Jakarta eftadaeli@yahoo.com 202.146.241.6
Buat Pak Pdt.Juliman Harefa.
Kalau bapak mau menanyakan kepada saya caranya supaya kelestarian benda kuno tsb diperhatikan oleh Badan Dunia UNESCO saya hanya bisa menjawab :

"TANYA PADA RUMPUT YANG BERGOYANG"

Say berkata demikian karena orang kita pada dasarnya tidak ada yang mau peduli dengan Kelestarian dan harganya Budaya & barang barang peninggalan nenek moyang kita, malah yang merusak dan memperjual belikannya banyak. Walau ada yang peduli mungkin hanya segelintir orang saja.

Bayangkan saja, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri dulu tahun 1990 ada orang yang menjual Benda kuno kepada sesorang (Aceh) berupa Piring Raksasa (Figa) berlogo naga (Asli) yang dibeli orang cina seharga 2juta saja. Saya sungguh kagum dengan barang tsb karena mempunyai keanehan dan sakti antara lain seperti Sambel (Cabe gilingpedas ) tidak terasa pedas bila di taruh diatas piring tsb bila dibandingkan dengan piring biasa.

Begitu juga sekarang saya lihat ada beberapa rumah adat (Omo hada) di Nias yang sudah dirobohkan karena faktor biaya & kurang perhatian dan pengertian tentang arti budaya tsb. Seperti Omo hada di Desa Onolimbu Lahomi Kec.Sirombu yang bisa dibilang Omo hada nias utara/barat terbesar yang pernah saya lihat. (Malah lebih besar/tinggi dari yang ada di Bawomataluo kec.Teluk Dalam.)

Yang penting sekarang kita lestarikan yang sudah ada dan memberi pengertian yang jelas pada masyarakat kita khususnya yang tinggal di Desa untuk memelihara dan melastarikan benda-benda bersejarah tsb.
26. 4/11/2004 15:56:23 Juliman Harefa la-usa juliman_h24@yahoo.com 69.110.132.186
Hi Efat
Hati kita sama man 1, untuk melestarikan yang sudah ada lebih memadai bila bekerjasama dengan unesco seperti yang dijelaskan oleh sdr Nata, makin lenih baik lagi bila benda sejarah yang sedang di perjualbelikan dapat di beli ulang, yahowu, julimanharefa
27. 4/11/2004 15:56:28 Juliman Harefa la-usa juliman_h24@yahoo.com 69.110.132.186
Hi Efat
Hati kita sama man 1, untuk melestarikan yang sudah ada lebih memadai bila bekerjasama dengan unesco seperti yang dijelaskan oleh sdr Nata, makin lenih baik lagi bila benda sejarah yang sedang di perjualbelikan dapat di beli ulang, yahowu, julimanharefa
28. 5/11/2004 05:53:06 Nat'alui Duha Denver-COlorado nataaluiduha@yahoo.co.uk 130.253.249.136
Salam Buat Pak Efat, Ya'ahowu!
Sekedar tambahan informasi, bukan saja rumah adat di öri Lahömi, masih Ada Rumah Besar lainya yang memiliki hubungan sejarah dengan Lahömi, yaitu Rumah Besar "Onowaeombo-Idanoi." Rumah ini sangat tua dan yang terbesar, termegah, teragung sampai saat ini di Nias Utara. Rumah ini memiliki beberapa keistimewaan selain krena di depanya ada patung batu yang cukup besar (megalitik). So, silahkan datang ke sana untuk mengenang sejarah antara Lahömi dan Onowaombo Idanoi. Rumah ini didirikan oleh leluhur "Samofokara Gea," kalau tidak salah sekitar 170 tahun lalu. Dan Lahömi memiliki sejarah yang tak bisa dipisahkan dengan Leluhur Daeli di kawasan Idanoi.
Mau membeli buku tentang Leluhur Daeli Sanau Talinga?
Silahkan hubungi Museum Pusaka Nias. Thanks
29. 5/11/2004 17:25:03 Efata Jakarta eftadaeli@yahoo.com 202.146.238.5
Buat Pak Juliman Harefa & Bapak nata'alui Duha.

Saya sangat bereterima kasih atas informasi tentang budaya Nias yang mungkin baru saya lebih jelas lagi tentang Omo hada di Idanoi Onowaembo dan hubungan marga Daeli & Gea.
Ntar kalau saya pulang ke Nias saya pasti singgah ke Pustaka Nias.
Untuk itu saya juga ntar kirim surat ke Kampung untuk melestarikan barang-barang bersejarah yang mungkin keluarga besar kami masih punya seperti : Baju TuhenÖri (Baju kebesaran yang dihadiahkan orang Belanda dulu sama bapaknya kakek saya), beberapa Guci (Rumbi)kuno biasanya T4 simpan daging babi, Keris pusaka, Perisai,tombak, Nifatali Ana'a (saya kurang tahu apakah masih ada), Piring-piring besar kuno, radio jaman jaman penjajahan jepang dll, soalnya waktu saya ke jakarta barangnya masih ada cuma kurang diperhatikan.

Saohagolo,
30. 6/11/2004 19:50:41 Nelvia Gati Ziliwu Ciamis, Jawa Barat gati_zil@yahoo.com 202.77.125.249
buat Pak Nata...

Saya pendatang baru di di web ini, dan saya sangat tertarik dgn topik ini..
sekedar nanya ya pak.... zaman dulu, kita orang nias klo melakukan transaksi jual beli pakai apa ya pak...?
apakah Virö jg termasuk benda sejarah dr pulau nias...???
salam kenal buat saudara2 dari NIAS.

ya'ahowu/Nelvia Gati Ziliwu
31. 9/11/2004 02:59:51 Nata'alui Duha Denver-Colorado USA nataaluiduha@yahoo.co.uk 130.253.175.153
'tuk Nelvia Gati Ziliwu,
Dulu itu, kapan? Ini sejarah yang panjang.
Sebelum kedatangan para pendatang dari luar ke Nias, para leluhur melakukan transaksi dengan barter. Artinya barang di tukar dengan barang. Bukan dengan uang atau alat tukar lainnya. Kemudian orang-orang Aceh masuk, dan juga melakukan transaksi barter. Umpanya anda mau membeli Sambua hie daging babi, dan anda harus membayarnya dengan umpamanya "Sambua lauru Ulitö."
Budak-dudak (Sawuyu/harakana) dibeli dengan barang-barang semacam logam dan logam mulia atau sejenis kuningan.
Begitu seterusnya. China datang dengan cara yang sama. Lalu para penjajah datang dengan alat tukar uang. Kita kemudian mengenal firö, Gulden, dll.
Tapi dulu, Sebelum mengenal Rupiah, kita pernah memiliki mata uang sendiri. Almarhum Ros. Telaumbanua, yang pernah menjadi Pjs. Gubernur Sumut, pernah menciptakan mata Uang Nias. Dan Mesin cetak uang tersebut masih ada di rumah keluarganya di "Ono Waembo." Demikian sekilas info.

Tentang UNESCO buat teman-teman lainya:
Barusan terbit buku yang ditulis oleh teman saya dari Perancis, namanya "Yves Battais." Judul buku tersebut saya tidak ingat karena ditulis dalam bahasa Perancis. Tapi diterbitkan bersama oleh UNESCO.
Isi buku tersebut adalah situs-situs yang masih ada di Nias, terutama di Mandrehe, Sirombu, Olayama dan sebagian di Lahusa dan Gomo.
Penulis Buku ini bermaksud untuk menarik hati UNESCO agar mengulurkan tangan dan perhatian pada situs-situs yang masih ada di Nias. Kita tunggu apa yang terjai next!
Saya kebetulan terlibat membantu dan memberi informasi kepada penulis.

Salam, Ya'ahowu!


Nata
32. Sat, 16 June 2018 19:27:45 vania bsd city estermeilany1@gmail.com 103.47.132.61
halo salam kenal sayang vania,

saya sedang buat penelitian untuk kampanye kepulauan Nias. nah pertanyaan saya yaitu, apakah ada yang tau apabila ingin masuk ke Museum ORIN yang terletak di desa Ono Waembo ada tarif masuknya? (harga tiket).

terimakasih, salam
Ya'ahowu!

First| Previous    Next|Last

Number of records = 31
Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

©2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000